Suatu Senja di Tambak yang Kering

Batas membuatku tak mampu lagi

melihatmu. Hanya ada biru — menelan

bangau yang melintas.

Tanah retak yang ditinggal alir

membentuk sunyi di sepasang mataku.

Kau menjadi asing, dan angin telah

istirahat menyebut namamu.

Ingatan terlalu kuat mengikat reranting

di dalam tubuhku. Hingga kau tak pernah

lindap seluruhnya.

Di pintu senja, aku merasakan jingga

yang memantul di kolam mataku.

Di tambak yang kering, tumbuh segala

jenis kehausan, juga kesedihan.

Aku ingin mengalirkan seluruh darahku

agar mati seluruh luka. Dan kau dapat

berenang di sana.

2017

Like what you read? Give Arham Taheer a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.