What I Want From Me (as Director)

For Marantika Project


“Make movies that you’d want to see” Billy Bob Thorntons

Dan itulah “goal” saya sebagai sutradara amatir di SCENE. Sudah 5X saya membuat film, sampai saat ini tidak ada yang sesuai dengan deskripsi “film yang ingin saya tonton”….

My mistake

Sebagai sutradara amatir, jujur saya sering kehilangan arah di proses pra produksi, produksi, maupun pasca produksi. Selalu ada momen ketika saya bingung adegan ini mau diapain, talent-nya mau diapain, angle-nya mau diapain, dan film-nya mau dikemanain…. Minimal ketika momen itu datang, saya cuma bilang ke kru “Terserah lu aja, yang penting kelar.” dengan ending saya bilang ke diri saya “Feck, I’m fecked up”

Saya tidak pernah meminta pendapat orang lain tentang bagaimana dan gimana film saya (karena memang saya gak pernah nyimpan film saya), tapi saya sering merenung kira-kira saya itu kurangnya apa… Dan ternyata banyak banget kurangnya. Kebanyakan toleran, kebanyakan molor, kebanyakan santai, kebanyakan modus, kebanyakan ngasal, kebanyakan nyambi, dan motivasi “yang penting jadi” (intinya KURANG TEGAS)

Di proyek Marantika ini, saya mencoba untuk lebih terstruktur (karena TEGAS itu urusan privat) dalam mengonsep bagaimana nanti saya mengarahkan semua kru saya.

Saya browsing ke berbagai situs film untuk menimba ilmu tak langsung dari tulisan-tulisan pengalaman filmmaker ketika membuat film, dan terima kasih sebesar-besarnya kepada Alif Indra Ramadhan (my precious DoP) dan Chris Weitz (my not so favourite director) yang telah menggiring dan menulis artikel bagus tentang filmmaking.

http://www.moviemaker.com/diy/chris-weitz-wisdom-wednesday/

Inilah hal-hal yang HARUS saya lakukan ketika menyutradarai Marantika (yang kebanyakan nggak saya lakukan dulu ketika menyutradarai film-film saya)

  1. Di hari pertama produksi, kenalilah semua kru yang bekerja dengan saya. Merekalah elemen-elemen penting dalam produksi film, mereka harus menuruti semua instruksi dari saya, dan saya pun harus mengenal mereka.
  2. Pengertian kepada semua kru. Kalau para kru capek, ngapain dipaksa kerja. Lagian di Marantika mereka tidak dibayar uang, hanya dibayar pengalaman (dan cinta). Treat them with different treatment. Treat them with passion.
  3. Astrada adalah advisor untuk sutradara. Jujur saya suka dengan sistem Astrada 1 untuk teknis dan Astrada 2 untuk talent. Saya sudah mempraktikannya ketika menyutradarai Flashmob Mopica, dan saya menyerahkan semua hal detil ke mereka. Di Marantika, saya mencoba merubah peran mereka sebagai penasihat terkait teknis dan kondisi talent. Alasannya, saya ingin lebih dekat dengan kru saya ☺
  4. Marahlah ke kru kalau memang perlu. Kalau kata Mike Newell (sutradara HP 4 : Goblet of Fire) “There is nothing worse on movie set than fake anger.”
  5. Manfaatkan waktu istirahat sebaik mungkin. Termasuk jangan overresting, sleep while you can, dan jangan ngaret waktu istirahat. Karena saya sadar, bikin film itu butuh Mana Point yang sangat tinggi.
  6. Jangan teriak “CUT” waktu talent melakukan kesalahan. Teriaklah “CUT” hanya ketika adegannya udah kelar. Kali aja kesalahan talent bisa jadi improvisasi keren. Kali aja jadi kaya’ waktu Dustin Hoffman teriak “I’m walkin’ here, I’m walkin’ here” di film Midnight Cowboy
  7. Turutin permintaan talent kalau dia minta take ulang. Membuat film itu berbeda daripada membuat drama panggung.
  8. Dengarkan talentmu ketika sebelum, saat, dan sesudah shooting. Karena di film Marantika ini saya nggak pengen mengarahkan robot, tapi Alpha, Omega, Beta, dsb. Sekali lagi, membuat film itu berbeda daripada membuat drama panggung.
  9. Kasih substansi adegan ke talent, bukan kulitnya. Saya selalu berpikir bahwa talent harus tahu makna setiap adegan, bukan cuma merapalnya. Toh Marantika bukan adaptasi novel laris…
  10. Bantu kru yang membutuhkan. Penyakit orang kita itu adalah “Itu kan kerjaan dia, ngapain gw bantu” Nggak salah sih, tapi Marantika itu proyek film berbujet minim. Saya nggak bisa membawa orang lebih untuk tupoksi mengangkat meja, membeli konsumsi, atau menjadi zombie. Cukup satu koordinator, dan kru departemen lain jadi pelaksana.
  11. Bujet, bujet, bujet. Kalau bujet nggak ditata dengan bagus, bisa jadi bujat. Jangan sampai ngutang ke mana-mana, jangan sampai ngirit keterlaluan.
  12. Editor dan VFX adalah artis, bukan geeks. Kalo dianggap geeks, saya nggak ngerti lagi ntar jadinya Marantika kaya’ gimana….
  13. Manfaatkan Astrada untuk melihat kondisi lapangan. Sutradara nggak bisa kalau sibuk sendiri keliling set shooting untuk melihat kesiapan kru dan talent sebelum teriak “ACTION”. Manfaatkan Astrada untuk keliling. Setelah mereka bilang siap, saatnya saya bilang “ACTION”

Daftar di atas tepatnya saya bilang to do list untuk menyutradarai Marantika. Bukan garansi untuk membuat film seperti film yang ingin saya lihat, tapi bisa sebagai pembelajaran untuk menjadi filmmaker yang lebih baik. Just keep moving bray….

Tulisan ini saya ambil dari tumblr pribadi saya di sersanmerica.tumblr.com