celometan: islam bunuh, islam petentengan

Tuhan, saya mungkin terlalu sibuk beragama, lupa bertuhan, sehingga saya terlalu sibuk sehingga lupa akan engkau
islam di kampung

Saya ingat 10 tahun yang lalu ketika saya masih dalam pendidikan di sebuah kota di jawa timur, yang terkenal dengan prostitusi nya(baca gang ndolly), begitu masuk kesana saya melihat perempuan-perempuan yang sexy dengan rok/bahkan menggukanan hot pants saja di pajang di depan etalase yang mirip aquarium, point saya bukan itu, tapi marketing nya!, Gila, mereka dengan pakaian rapi, wangi menggunakan baju batik, rambut kelimis,puuersis dengan pak RT/lurah. dengan cekatan mereka menawarkan “Ayo mas, sik masih baru-baru ini, baru buka,siap karaoke, pokoke manteb buat sampean, 140.000 main 2x, kalo gak cocok balikin ganti baru”.Dalam hati saya, jago banget ini marketing untuk hal-hal negatif.

Sekarang ini kecenderungan orang ini malah petentengan ketimbang menjadi rahmatan lil alamin, gambarannya gini, kalau ada orang sesat, bahkan mungkin kafir, malah di sikat, bukannya di ajak ketemmpat yang benar. Untungnya Muhammad SAW, itu sifatnya lemah lembut, bukan orang-orang yang petentang-petenteng kayang orang-orang tersebut, seandainya IYA, mungkin sekarang ini nggak ada agama yang namanya Islam di dunia ini.

Marketing yang di gunakan Muhammad ini menggunakan cara mengajak, bukan memerintah, beliau menawarkan kebaikan yang di awali dari dirinya sendiri,dari akhlak yang bagus, wajah yang ngademin, bukan wajah-wajah yang bringas seperti orang-orang yang memakai sorban, tapi menjadi abu jahal dan playing God.

Mungkin sampean semua dikejutkan dengan video pawai anak-anak yang meneriakkan “Bunuh! Bunuh! Bunuh!” terus aku mikir dalam hati (maklum otaknya nggak ada) bgaimana anak-anak bisa sampai pada ide mengerikan semacam itu?

Jawabannya hampir pasti demikian: diajari, dituntun, disuruh oleh orang-orang dewasa. Anak-anak punya kemampuan untuk meniru dan gampang dibikin percaya. Apalagi, tradisi kita jauh dari kultur berpikir kritis. Dengan ajaran seperti itu, sudah barang tentu, orang-orang tua telah mewariskan, menurunkan, mengajarkan kepada anak-anak, generasi Islam, generasi warga negara tentang kemarahan dan kebencian kepada orang/hal/golongan yang menurut mereka melecehkan Islam, menodai kesucian Islam.

Pertanyaannya kemudian: Apakah sikap demikian ada pada diri Rasulullah Muhammad SAW?

Tidak! Tidak dan tidak!

Sebagai contoh, ketika rakyat Mekah menolak dakwah Rasulullah Muhammad, beliau mencoba peruntungan di Thaif. Beliau masuk ke kota itu dan menawarkan Islam, tetapi beliau lebih dari sekadar diejek secara verbal, tetapi juga dilempari batu dan kotoran. Beliau terhina seterhina-terhinanya.

Bahkan Jibril sampai menawarkan diri untuk membunuh rakyat Thaif sebagai balasan.

Apa Muhammad mengiyakan?

Tidak! Tidak dan Tidak!

“Jangan,” tegas Rasulullah. Mereka hanya tidak tahu. Semoga saja kelak anak cucu mereka ada yang mendapat hidayah.

Ketika Abu Lahab melempari teras rumah Nabi dengan kotoran, dan Fatimah menangisi nasib ayahnya yang terhina, Nabi tidak menyut api kebencian di hati putri bungsunya, alih-alih Nabi menyeka air mata Fatimah dan menguatkan putrinya itu dengan kesabaran dan pemaafan.

Tetapi tingkah Abu Lahab tidak berhenti di sana. Abu Lahab telah melamar Ruqoyyah dan Ummu Kultsum (dua putri Nabi) untuk kedua anaknya: Utbah dan Utaibah. Ketika Rasulullah mendeklarasikan Islam, pertunangan itu dibatalkan secara sepihak. Apakah Rasulullah mengajarkan kepada Ruqoyyah dan Ummu Kultsum untuk membenci dan meneriaki Abu Lahab “Bunuh! Bunuh! Bunuh!”?

Tidak! Tidak dan tidak!

Rasulullah tidak mengajarkan kita untuk membenci apalagi menyebarkan kebencian. Alih-alih, Rasulullah mengajarkan kita untuk mengasihi dan memaafkan, untuk menjadi lebih besar daripada caci-maki, untuk membersihkan hati dan mulut kita dari kotornya kebencian.

Jadi, jika ada yang mengklaim sedang berdakwah tapi kerjaannya menyebar kebencian, maka patut dipertanyakan ke-Muhammadannya.

Karena Islam adalah Muhammad. Dan kebencian haram bagi beliau. Selamat beribadah.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.