Mengenal Pemikiran Emile Durkheim

Masradi (Arief Rahadian)
6 min readMay 7, 2019

ddu-du ddu-du~ dari bunuh diri sampai agama; karya-karya Durkheim menantang kita untuk terus mempertanyakan hal-hal yang kerap dianggap tabu untuk dipertanyakan.

Emile Durkheim. Sumber: http://aotcpress.com/wp-content/uploads/Emile-Durkheim.jpg

Durkheim lahir pada tahun 1858 di Epinal, Perancis. Keluarga Durkheim merupakan bagian dari komunitas Yahudi tradisional dengan latar belakang keagamaan yang kuat. Ayah Durkheim adalah seorang Rabi yang memimpin kegiatan keagamaan, sekaligus komunitas Yahudi di kota tersebut. Maka, tidak heran jika keluarga Durkheim berharap agar Ia kelak dapat mengikuti jejak sang ayah dan menjadi Rabi.

Namun, harapan keluarga Dukheim kandas ketika Durkheim muda memilih untuk keluar dari Sekolah Rabi, dan mengenyam pendidikan di sekolah umum[1]. Pilihan Durkheim untuk mengenyam pendidikan sekuler inilah yang menjadi titik balik kehidupan Durkheim, sekaligus mengawali perjalanannya sebagai seorang akademisi.

Pemikiran Emile Durkheim (1858–1917)
Kontribusi Durkheim terhadap perkembangan sosiologi dapat dilihat dari empat karya utamanya: The Rules of Sociological Method, The Division of Labor in Society, Suicide, dan The Elementary Form of the Religious Life[2]. Artikel “Sosiologi dan Para Nabinya” telah membahas satu dari empat karya tersebut, yaitu The Rules of Sociological Method.

Dalam The Rules, Durkheim mencetuskan sebuah konsep yang diberi nama fakta sosial. Fakta sosial didefinisikan sebagai cara bertindak, berpikir, atau berperasaan yang berada di luar individu; namun memiliki kekuatan untuk memaksa individu tersebut. Bagi Durkheim, fakta sosial merupakan pokok bahasan utama sosiologi yang membedakan sosiologi dengan disiplin ilmu lain[3].

Tiga karya Durkheim lainnya membahas topik yang cukup beragam, mulai dari pembagian kerja, bunuh diri, hingga agama.

The Division of Labor in Society (1893)
Dalam The Division of Labor in Society, Durkheim membahas tentang pembagian kerja yang spesifik dan kondisi solidaritas masyarakat. Durkheim membagi konsep solidaritas ke dalam dua tipe, yaitu solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Masing-masing solidaritas dapat dibedakan melalui dua indikator, yaitu faktor pengikat solidaritas, dan sanksi yang diterapkan oleh tiap kelompok solidaritas terhadap tindakan kriminal yang dilakukan individu.

Durkheim menyatakan bahwa solidaritas mekanik identik dengan masyarakat tradisional, sedangkan solidaritas organik identik dengan masyarakat modern[4].

Dalam solidaritas mekanik, masyarakat diikat oleh sebuah konsep bernama kesadaran kolektif, atau “seluruh kepercayaan dan perasaan bersama yang dianggap umum dalam sebuah masyarakat”. Kejahatan, dalam solidaritas mekanik, didefinisikan sebagai tindakan yang mencederai kesadaran kolektif tersebut — atau dengan kata lain, mencederai seluruh masyarakat. Sanksi bagi pelaku tindak kriminal dalam solidaritas mekanik bersifat represif. Artinya, sanksi yang dijatuhkan bertujuan untuk membalas, merugikan, atau membuat pelaku menderita[5]; seperti hukuman mati.

Berbeda dengan solidaritas mekanik yang diikat oleh “kesamaan” dalam bentuk kesadaran kolektif, solidaritas organik justru diikat oleh “perbedaan” dalam bentuk pembagian kerja. Dalam solidaritas organik, setiap orang memiliki tugas yang spesifik, dan saling bergantung antara satu dengan lainnya. Sanksi yang diberikan bagi pelaku tindak kriminal dalam solidaritas organik bersifat restitutif. Artinya, sanksi yang dijatuhkan bertujuan untuk mengembalikan kondisi masyarakat yang terganggu akibat tindak kriminal tersebut seperti semula[6]; contohnya dengan membayar ganti rugi.

Dalam solidaritas organik, masyarakat tidak diikat oleh kesadaran kolektif, oleh karena itu, tindak kriminal tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang mencederai seluruh masyarakat, sehingga sanksi yang bersifat represif tidak lagi dibutuhkan[7].

Suicide (1897)
Dalam Suicide, Durkheim mencoba melihat hubungan antara lingkungan sosial dan fenomena bunuh diri. Durkheim mengkaji data statistik angka bunuh diri di wilayah Eropa Barat, dan menemukan sesuatu yang menarik. Wilayah yang mayoritas penduduknya memeluk agama Kristen Protestan memiliki angka bunuh diri yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah yang mayoritas penduduknya memeluk agama Kristen Katolik.

Durkheim kemudian menyimpulkan bahwa rendahnya solidaritas di antara pemeluk agama Kristen Protestan, yang cenderung lebih individualis dan kritis, merupakan penyebab utama tingginya angka bunuh diri di wilayah tersebut[8].

Durkheim menggunakan istilah “egoistik” untuk menyebut bunuh diri yang terjadi akibat rendahnya tingkat solidaritas di masyarakat[9]. Sebagai contoh, seorang laki-laki yang memilih untuk mengakhiri hidupnya setelah ditinggal oleh kekasihnya dapat dikatakan telah melakukan bunuh diri egoistik.

Lebih lanjut, Durkheim menyadari bahwa tingginya tingkat solidaritas di masyarakat juga dapat memicu seseorang untuk melakukan bunuh diri. Durkheim menyebut bunuh diri yang terjadi akibat tingginya tingkat solidaritas di masyarakat sebagai bunuh diri “altruistik”[10]. Bom bunuh diri yang dilakukan oleh kelompok radikal keagamaan dapat dikategorikan sebagai bunuh diri altruistik.

Selain faktor solidaritas, Durkheim menemukan bahwa ketatnya regulasi yang berlaku juga turut memengaruhi angka bunuh diri di sebuah wilayah[11]. Sebagai contoh, ketatnya aturan di penjara dapat memicu narapidana untuk melakukan bunuh diri. Durkheim menyebut bunuh diri yang terjadi akibat ketatnya regulasi yang berlaku sebagai bunuh diri “fatalistik”[12].

Sebaliknya, longgarnya regulasi juga dapat memicu seseorang untuk melakukan bunuh diri. Durkheim menyebut bunuh diri yang terjadi akibat longgarnya regulasi yang berlaku sebagai bunuh diri “anomik”[13]. Contoh dari bunuh diri anomik adalah bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang yang bingung dan tidak memiliki tujuan hidup.

The Elementary Form of the Religious Life (1912)
Dalam The Elementary Form of the Religious Life, Durkheim membahas tentang agama paling primitif yang dikenal oleh manusia. Durkheim menolak mendefinisikan agama sebagai “kepercayaan terhadap sesuatu yang misterius” atau “kepercayaan terhadap sosok supernatural”. Bagi Durkheim, agama merupakan kesatuan sistem kepercayaan, dan praktik-praktik yang berkaitan dengan hal-hal suci (sacred) dan tidak suci (profane)[14].

Berangkat dari definisi tersebut, Durkheim menyatakan bahwa totemisme, atau pemujaan terhadap hewan dan tumbuhan, merupakan bentuk agama yang paling primitif yang dikenal oleh manusia[15]. Durkheim berargumen bahwa gagasan mengenai hal-hal yang sifatnya sacred dan profane pasti diawali dari sesuatu yang wujudnya benar-benar empiris — nyata — bagi masyarakat tradisional, yaitu hewan dan tumbuhan, bukan fenomena alam (naturisme) maupun roh leluhur (animisme)[16].

Menurut Durkheim, suku-suku dengan sistem kepercayaan totemisme memiliki ikatan persaudaraan yang unik. Alih-alih diikat oleh hubungan darah, mereka justru diikat oleh kesamaan nama atau “totem”. Totem ini sendiri umumnya mengambil bentuk dari spesies binatang, atau tumbuhan tertentu. Totem-totem ini diukir, ditulis, dan bahkan digambar di bagian tubuh para penganut totemisme. Menurut Durkheim, tindakan mengukir, menulis, dan menggambar totem-totem tersebut merupakan upaya untuk mengubah sesuatu yang sifatnya profane (kayu, batu, dan anggota tubuh) menjadi sacred — mengubah sesuatu yang tidak suci menjadi suci[17].

Lebih lanjut, Durkheim menjelaskan bahwa alih-alih menyimbolkan Tuhan, atau keberadaan lain yang sifatnya supernatural, totem merupakan simbol dari suku, atau klan yang bersangkutan. Berangkat dari argumen tersebut, Durkheim menyatakan bahwa “God is nothing more than society apostheosized[18],” atau dengan kata lain, Tuhan adalah masyarakat.

Untuk mendukung argumennya, Durkheim menyatakan bahwa Tuhan dan masyarakat memiliki empat kesamaan utama yaitu: 1) Keduanya merupakan keberadaan yang lebih besar daripada individu; 2) Keduanya ditakuti oleh individu; 3) Keduanya tidak dapat hadir tanpa adanya kesadaran individual; dan 4) Keduanya menuntut individu untuk mengorbankan sesuatu secara berkala[19].

Setelah Durkheim wafat, pemikirannya terus dikembangkan oleh murid-muridnya seperti Marcel Maus, yang mengkaji fenomena pemberian hadiah, dan Bougle, yang mengkaji sistem kasta. Tulisan-tulisan Durkheim sendiri berhasil dikenal hingga Amerika Serikat, dan menjadi salah satu sumber rujukan yang berpengaruh berkat sosiolog sepeti Talcott Parsons dan Robert Merton, yang menggunakan kerangka berpikir Durkheim dalam menyusun karya-karyanya. Di era modern, pemikiran Durkheim turut mempengaruhi karya-karya sosiolog kontemporer seperti Michel Foucault, Clifford Geertz, Peter Berger, dan masih banyak lagi.

Catatan kaki
[1] Calhound, Craig., Gerteis, Joseph., Moody, James. dkk (Ed.), Classical Sociological Theory, (Great Britain: Blackwell Publishing, 2007), hlm. 133.
[2] Ibid., hlm. 135.
[3] Durkheim, Emile, The Rules of Sociological Method, (London: Macmillan, 1982), hlm. 29–163.
[4] Ritzer, George, The Wiley-Blackwell Companion to Sociology, (Oxford: Wiley-Blackwell, 2003), hlm. 200.
[5] Ibid., hlm. 199.
[6] Loc. cit
[7] Ibid., hlm. 200.
[8] Keirns, Nathan., Strayer, Eric., Griffiths, Heather., dkk, Introduction to Sociology, (Houston: Openstax College, 2012), hlm. 15
[9] Calhound, Craig., Gerteis, Joseph., Moody, James., dkk (Ed.), op.cit., hlm. 201.
[10] Loc. cit
[11] Loc. cit
[12] Ritzer, George, op. cit., hlm. 202.
[13] Ibid., hlm. 203.
[14] Ibid., hlm. 204.
[15] Loc. cit
[16] Loc. cit
[17] Ibid., hlm. 204–205.
[18] Ibid., hlm. 205.
[19] Loc. cit

Artikel ini dapat ditulis dan diterbitkan berkat bantuan dari kinibisa.com! Platform digital dengan misi mewujudkan generasi kompeten untuk Indonesia, di era digital. Akses portal kinibisa.com untuk mengetahui berbagai informasi menarik terkait insitusi pendidikan, beasiswa, profesi, dan masih banyak lagi!

--

--

Masradi (Arief Rahadian)

A sociologist/anthropologist. A speck of dust in the tapestry of life.