Striker Timnas Indonesia yang Pernah Membahagiakan Saya

Hal yang kurang dari tim nasional Indonesia belakangan adalah striker yang tajam. Sudah beberapa kali saya menonton pertandingan belakangan, penyelesaian akhir sering kelihatan kurang maksimal. Tidak hanya timnas senior, timnas junior pun demikian meski hasil yang mereka dapatkan sering lebih baik, permainan pun secara umum lebih bagus dan kompak daripada senior mereka.

Liga Indonesia memang tidak sempurna, bahkan bisa dibilang jelek. Klub kurang profesional, gaji sering tertunggak, keributan suporter setelah pertandingan, wasit yang kurang cermat, bahkan hingga pengurus badan sepak bola nasional yang bekerja tidak rapi. Namun, pada sepak bola yang amburadul itu harapan masih ditambatkan. Beberapa bahkan sukses menjawab harapan itu dan memberikan kebahagiaan. Contohnya adalah beberapa striker yang saya ingat ini.

Sepak bola 90-an mungkin era yang cukup membahagiakan. Striker-striker Indonesia cukup menggentarkan lawan, di ajang klub maupun antarnegara. Striker tajam yang paling pertama saya kenal adalah Kurniawan Dwi Yulianto. Larinya cepat, tendangannya kencang dan akurat.

Hal yang paling saya ingat dari Kurniawan adalah ketika dia hampir menjadi top skorer Liga Indonesia 2000, saat itu bernama Liga Kansas. PSM masuk final Liga Indonesia. Bertemu PKT Bontang, Kurniawan punya target lain di samping menjadi juara liga. Dia juga ingin menjadi top skorer. Total golnya sebelum partai terakhir masih 21, kalah tiga gol dari top skorer saat itu.

Sebagai anak kecil yang mengidolakan pemain sepak bola pada umumnya, saya juga punya harapan serupa Kurniawan. Malam itu dia mencetak dua gol, termasuk gol kemenangan yang membuat pertandingan berakhir dengan skor 3–2 untuk PSM. Setelah gol keduanya, saya terus menunggu dua gol lagi darinya. Saya ingin melihatnya menjadi top skorer musim itu.

Sebenarnya, musim itu juga musim yang cukup berat buat dia. Pada musim itu dia dituding menggunakan obat terlarang setelah salah satu pemain PSM, Kuncoro, tertangkap memakai sabu-sabu. Musim yang melelahkan. Itu alasan saya sebagai suporter ingin melihat dia menjadi top skorer. Saya ingin melihat kesungguhannya di lapangan. Malam itu tidak ada gol lagi dari Kurniawan. Meski begitu, saya masih ingat ekspresi girangnya ketika mencetak gol kemenangan untuk PSM. Itu pengalaman yang membahagiakan.

Di tim nasional, nama Kurniawan seperti jaminan mutu. Larinya yang cepat dengan dribel yang lengket dan tembakan akurat jadi cirinya. Seingat saya, Indonesia jarang punya striker dengan kombinasi kemampuan itu setingkat Kurniawan. Banyak striker yang cepat, tetapi akurasi tembakan mereka sering di bawah rata-rata. Seolah-olah tenaga dan konsentrasi mereka sudah dihabiskan di setengah lapangan ketika masih jauh dari gawang.

Jumlah gol Kurniawan di timnas termasuk yang terbanyak, 31 gol dari 60 laga. Dia menjadi pencetak gol terbanyak ketiga untuk timnas. Sebagai perbandingan, top skorer sepanjang masa timnas Indonesia adalah Soetjipto Soentoro dengan 57 gol dari 68 laga. Satu gol Kurniawan yang paling membanggakan adalah ketika semifinal Piala AFF 2004 melawan Malaysia.

Semifinal putaran kedua digelar di Bukit Jalil. Malaysia unggul agregat 2–1. Pertandingan berjalan, Malaysia malam itu berhasil menambah keunggulan satu gol. Rasanya takdir menjadi juara semakin menjauh. Peter Withe sebagai pelatih kemudian memasukkan Kurniawan di babak kedua menggantikan Ismed Sofyan. Keputusan yang ternyata tepat.

Tidak berapa lama kemudian, Ponaryo Astaman mengirim bola dari belakang. Kurniawan melihat itu dan berlari menyongsong. Bola jatuh dalam kendali pemain belakang Malaysia yang, entah karena apa, tidak bisa mengendalikan bola dengan baik. Kurniawan dengan cepat mengambil alih arah bola dengan tiga hal yang paling dia kuasai: lari cepat, dribel, lalu diakhiri tembakan akurat. Skor 1–1, agregat 3–2. Setelah itu berturut-turut Charis Yulianto, Ilham Jaya Kesuma, dan Boaz Solossa mencetak gol. Agregat berubah 3–5 untuk Indonesia.

Gol yang membuka keran malam itu ternyata menjadi gol terakhir Kurniawan untuk timnas Indonesia. Meski demikian, jutaan orang berterima kasih kepadanya dan meneriakkan namanya atas gol itu. Gol heroik itu menjadi penutup karier yang khusnul khatimah bagi Kurniawan di timnas.

Selain Kurniawan, saya tidak bisa tidak menyebut Bambang Pamungkas. Striker Persija paling berwibawa sekaligus kapten yang disegani pemain dan suporter. Berbeda dengan Kurniawan, BP, sebutan akrabnya, tidak punya dribel dan kecepatan yang menonjol. Dia juga bukan striker yang doyan menggocek lawan. Meski demikian, keefisienannya di depan gawang sulit dikejar. Ketika PSM Makassar menjadi juara pada tahun 2000, top skorer yang jumlah golnya tidak berhasil dikejar Kurniawan kala itu adalah Bambang Pamungkas. Dia memang tidak masuk final, tetapi BP mencetak 24 gol musim itu. Satu gol lebih banyak dari Kurniawan.

Meski tidak punya lari secepat Kurniawan, BP selalu dingin di depan gawang. Kakinya yang akurat jarang menyia-nyiakan peluang. Sebagai striker, yang paling berbahaya dari BP justru bukan kakinya, melainkan kepalanya. Sundulannya punya daya tusuk yang istimewa. Dengan kemampuan menempatkan diri yang tepat pula, BP adalah target ideal dalam ujung tombak timnas. Ada berapa striker Indonesia yang bertipe target man semacam BP ini?

Piala Tiger 2002 menjadi hajatan yang menyenangkan untuk Indonesia meski tidak juara. Dalam gelaran yang sekarang bernama Piala AFF ini, Indonesia mencatatkan skor kemenangan terbesarnya sepanjang sejarah, 13–1. Skor itu tercetak ke gawang Filipina. BP dalam pertandingan itu mencetak empat gol dengan tiga di antaranya dicetak pada babak pertama. Namun, satu gol BP yang paling saya ingat dari turnamen itu tercipta pada pertandingan semifinal melawan Malaysia.

Serangan kedua tim seakan buntu. Skor 0–0 menimbulkan keresahan di bangku penonton. Sampai akhirnya suatu upaya diambil tandem BP kala itu, Zaenal Arif, di sebelah kiri kotak penalti Malaysia. Mendapatkan umpan dari tengah, Zaenal berusaha sedikit mengelakkan tekel bek Malaysia. Tanpa kalkulasi bertele-tele, Zaenal sambil menjatuhkan badan menendang bola dengan kaki kanannya, kaki yang sebenarnya bukan kaki terkuatnya karena dia pemain kidal.

Bola melayang sebentar. BP yang sudah melihat usaha Zaenal tidak ambil pusing terlalu lama. Dia berlari sekuat-kuatnya dan melompat di sisi kanan gawang sambil matanya tidak lepas-lepas dari bola. BP melompat. Dia terbang menyamping. Bagai gerakan lambat bola sampai di kepala BP dan langsung dia dorong ke gawang. Bola secara cermat melewati tangan kiper Malaysia tanpa tertahan. Efisien sekali. Kejadian pada menit ke-75 itu mengantarkan Indonesia menang 1–0.

Gol BP itu terbilang ajaib karena dieksekusi dengan bersih meski prosesnya ruwet. Siapa sangka kerumitan umpan Zaenal yang setengah untung-untungan itu bisa diubah menjadi gol yang mulus? Esok harinya, gol itu menjadi perbincangan. Kabar yang beredar, BP punya kebiasaan menggunakan bola kasti dalam latihan hingga dia bisa menyundul seakurat itu.

Di timnas, BP adalah pencetak gol terbanyak kedua. Raihannya adalah 36 gol dari 77 laga. Sekali lagi dia berada di atas raihan Kurniawan. Namun, ada catatan. Kurniawan unggul dalam hal rasio gol per pertandingan karena dia mencatatkan 31 gol dalam 60 pertandingan. Saya bahagia betul pernah menyaksikan permainan dua striker dengan gaya yang berbeda ini.

Selain mereka berdua, saya juga ingat Budi Sudarsono. Raihan golnya tidak sebanyak Kurniawan dan BP, hanya 16 gol dari 46 laga. Namun, Budi punya julukan yang lebih seram dari mereka berdua: si Ular Piton. Dia unggul dalam kegesitan dan ketenangan.

Budi punya postur tubuh yang ideal. Dia cukup tinggi. Kecepatan larinya juga memadai dan seimbang. Dia mampu bertarung dengan bek yang umumnya berpostur lebih kokoh daripada striker. Kegesitannya yang saya ingat adalah ketika Indonesia melawan Bahrain pada Piala Asia 2007.

Bola dari kiper timnas Jendri Pitoy coba diterima Bambang Pamungkas. Dia gagal karena diganggu pemain lawan. Bola lalu menggelinding ke Firman Utina yang ada di dekatnya. Sambil menguasai bola, Firman dengan cepat mencari kawan di depan untuk menerima operan yang dia siapkan. Matanya melirik sebentar ke depan dan menemukan Budi dalam posisi siap berlari. Bola dikirimkan ke Budi yang sudah berlari mendahului. Budi yang tahu akan mendapatkan bola dari belakang kemudian membagi fokus ke arah bola datang, posisi lawan, dan arah larinya. Bek lawan sudah tertinggal sedikit di belakangnya.

Bola datang dari belakang, tetapi Budi membiarkannya memantul sekali di depan kakinya. Kiper yang tidak bisa menebak maksud Budi lalu mencoba mengadang bola, tetapi meleset. Bola tadi memantul setinggi dada dan Budi dengan tenang mengendalikannya sebentar. Kiper berhasil diatasinya, dia pun menendang bola ke gawang yang sudah tak terjaga. Hari itu, kegesitan dan ketenangan Budi membawa Indonesia menang 2–1 atas Bahrain.

Timnas juga pernah mempunyai striker bernama Ilham Jaya Kesuma. Piala AFF 2004 menjadi panggung ketajamannya. Pada tahun itu juga orang Indonesia berkenalan dengan calon striker andal bernama Boaz Solossa. Duet mereka berdua menjadi yang tersubur dalam turnamen. Total 11 gol mereka cetak. Ilham tujuh dan Boaz empat.

Penampilan timnas pada Piala AFF 2004 mungkin salah satu penampilan timnas senior yang paling membahagiakan. Gol-gol Ilham seakan dicetak dengan mudah karena umpan silang Boaz sangat terukur. Saya masih ingat bagaimana takjubnya saya melihat Ilham berkali-kali mencetak gol dan Boaz bertubi-tubi mengirimkan umpan silang akurat.

Rasanya, setelah bertahun-tahun, mungkin kebahagiaan melihat timnas bisa mencetak gol adalah salah satu kebahagiaan yang jarang disyukuri. Kita memang sering kalah, sering gagal juara meski sudah sampai di depan pintu. Namun, melihat gol tercipta adalah kebahagiaan yang mestinya tidak kita lupakan ketika menonton, baik ketika menang maupun kalah.

Saya pun menyadari, gol dari striker-striker yang saya ingat di sini dicetak dalam pertandingan yang berakhir dengan kemenangan untuk Indonesia. Mengingat kejadian indah memang mudah dan lebih membahagiakan daripada mengingat kekalahan yang pasti pahit.

Namun, dalam kekalahan juga sering terjadi gol-gol indah. Misalnya trigol Todd Rivaldo Ferre ke gawang Qatar pada pertandingan Piala Asia U-19, 21 Oktober lalu. Dua gol di antaranya dia cetak lewat proses yang mengesankan: membawa bola dari tengah, melewati beberapa pemain lawan, hingga mencetak gol yang nyaris menyamakan skor. Satu gol lainnya dia cetak dari tendangan bebas jarak jauh. Luar biasa. Kekalahan 6–5 jadi tidak terlalu terasa. Suatu saat Rivaldo Papua ini akan mampu memberikan kebahagiaan seperti senior-seniornya dulu.

Percaya sama saya, bisa melihat striker Indonesia yang punya kecepatan seperti Kurniawan, tanpa banyak basa-basi seperti Bambang Pamungkas, serta gesit dan tenang seperti Budi Sudarsono adalah kebahagiaan yang melampaui menang-kalah. Tentunya kemenangan akan memberikan makna lebih. Tetapi sekali lagi, bagi saya, sepak bola bukan hanya perkara menang atau kalah.