Pagi itu di Pantai Sanur ( That Morning in Sanur Beach )
Pernahkah engkau menyangka apa yang akan terjadi dihari esok? Bagaimana cuaca esok hari? Jika matahari masih bersinar hangat, Apa yang akan engkau lakukan? Siapa orang yang akan engkau temui? Kisah seperti apa yang akan engkau lalui?
Have you ever known what will be happened tomorrow? How is the weather tomorrow? If the sun still shines warmly, what will you do ? who will you meet tomorrow? What kind of memory you will be experienced.
Tidak ada adzan yang lantang berkumandang, layaknya kebanyakan di kampung halaman. Matahari tetap terbit, Sinarnya masih berwarna kuning memberikan kehangatan, dan Udara tetap sejuk, Pagi hari di Bali.
You dont hear AZAN loudly like how it often does at the most places in the hometown. The sun still rises, the sun’s ray is still yellow gives you the fierce, and the air is so cool, That is morning in Bali.
Engkau bangun dari lelapnya tidur. Masih di bumi Tuhan yang berotasi mengelilingi matahari, tetapi di kota yang berbeda, Kota Denpasar. Tidak ada lagi hiruk pikuk, seperti ibukota Jakarta.
You wake up from your sleep. You are still in the God’s land that rotates around the sun, but in the different city, is Denpasar. You dont hear the hurly-burly of the capital city,Jakarta anymore.
Sesaat setelah mandi pagi, handphone berbunyi, “ kemana kita hari ini? “ pesan singkat dari seorang teman, yang kemudian akan dilanjutkan keteman lainnya. Sampai akhirnya, “ Mari melihat matahari terbit di Sanur! “ sebuah tujuan telah ditetapkan.
A moment after you took a shower in the morning, your phone rang, “ where are we going today? A message from a friend received that you would forward to other friends. And at the end “ let us see the sun rises in Sanur!” a destination has decided.
Keluar kamar kos, mengunci pintu, berjalan menuju pagar rumah kos yang disebelah kanan berjejer tumbuh pohon kamboja. Engkau melihat langit, sangat cerah. Engkau menunduk, bunga-bunga kamboja kuning berjatuhan disepanjang jalan. Engkau menatap kedepan, terlihat sebuah sanggah, dibawah sanggah sudah ada dupa yang terbakar. Pagi itu sudah ada yang berdoa.
You get yourself out from your rent room, you lock the door, you walk toward the gate of the house which in the right side grow Frangipani trees in a row. You look to the sky, it’s so bright. You bow to the land, the Frangipani’s flowers fall many on the grass. You look forward to the right side of the gate, there is a “Sanggah”, there is incense burned. There must be someone has prayed this morning.
Engkau menunggu ditepi jalan, terlihat wanita-wanita bali berjalan membawa barang seperti nampan yang terbuat dari rotan yang berisikan Dupa untuk sembahyang. Berbusana rapi dengan sehelai kain diikat dipinggang. Engkau menoleh ke arah yang berbeda, sudah ada yang berdiri menghadap sanggah sambil menggerak-gerakan tangan memutar-mutar dan membaca sebuah doa. Engkau menoleh lagi ke arah yang berbeda, sudah ada wanita yang sedang mengangkat tangan, menutup mata dengan hikmat, mengakhiri doa. Eksotis, cantik sekali budaya dan agama berjalan dengan selaras, hangat dan tentram layaknya sang mentari pagi ini. Engkaupun jatuh cinta seketika dengan bumi yang berotasi ini.
You wait at the street, you see the balinese girls walk bring a thing like a tray from the rattan that filled incense for pray. She wear orderly uniform with yellow fabric around the waist. You turn your head to the other side, there is a girl stand in front of the “sanggah” and move circlely her hands and lips like say the pray and You look to the other side, there is a girl lift the hands, close her eyes wisdomly, to end the pray.
Exotic, beautifulness of the culture and religion happen together, warm and pleasant like the sun this morning. You fall in love immediately with this world.
Tidak begitu lama kamu sampai ke pantai sanur, hanya sekitar 15 menit. Kamu dan teman-temanmu memarkirkan motor diparkiran motor. Berjalan di trotoar yang beberapa warung sudah cukup dipenuhi oleh orang-orang yang sedang sarapan pagi. Kamu berjalan menuju pantai, air yang surut, pasir pantai yang keriput, hijau lumut yang tampak, dan diujung sana matahari bergerak ke atas. Air pantai yang sangat tenang, kamu melihat beberapa kapal yang sudah berlabuh. Beberapa anak mandi ditepi pantai, beberapa orang mandi bersama anjingnya. Kamu berjalan menuju balai bengong, duduk dan menatap matahari yang kian bergerak tinggi. Diam, menghirup udara, merasakan hangatnya matahari, dan tidak banyak yang kamu pikirkan. Entah apa yang akan terjadi esok hari? Tetapi ini adalah sebuah hari yang sangat disyukuri.
No longer waiting, you finally arrived at Sanur Beach, it’s only 15 minutes from your rent house. You and your friends park the bikes. Walk on the sidewalk that in the right side, some of small shop full of people eating breakfast. You walk to the beach, the water is withdraw, the sand is wizened, you see the green moss, and at the end of your sight the sun is moving high. The water is so calm, you see some boats already at the anchor. Some of children swim at the shore, some of people swim with his dogs. You walk to the “bale bengong” , you sit on it and see the sun that is moving higher. Quiet, inhale the air, feel the warm of the sun, and not much you think. “whatever will be happened today or tomorrow” but today is a day ought to be grateful.




























