What They Say About UX, Bagaimana seorang non Desainer Bergelut dengan UX
Kling…..
Pagi itu, hapeku berbunyi. Dan kulihat. waow….. ada email inivitasi untuk mengikuti meetup. Kubuka sekilas email, waktu itu hari rabu. Temanya sangat menarik.

What They Say about UX
Langsung aja ceklik daftar, dan baru tersadar kalau tempatnya di Jakarta. Duh.. mikir disik. Oke deh langsung hari itu juga pesan tiket PP sekalian. Tempat meetup di Traveloka, beli tiket buat pulang juga lewat Traveloka. Jadi serba Traveloka deh..
Langsung ke acara deh. malah ngoceh terus….
Dalam meetup kali ini, akan membahas tentang UX dari segi non-Designer. Ada 3 mas2 ganteng yang jadi pembicara yaitu, Rofiqi setiawan, Edwin Muhammad dan Walesa Danto. Dengan 3 tema yang berbeda.
Talk About Developer Experience
Dalam tema ini, mas Rofiqi sharing tentang bagaimana seorang developer atau programmer berkontribusi dalam membuat UX (User Experience). Mas Rofiqi ini merupakan Technical Evangelist, Microsoft Indonesia. Apa itu Technical Evangelist? langsung aja tanya ke suhunya Rofiqi Setiawan :D
Mas Rofiqi menceritakan bagaimana proses programming memiliki kontribusi yang besar terhadap UX. Terutama digunakan oleh seorang developer dalam men-develop aplikasinya.




Developer Experience ini adalah experience (pengalaman) developer berinteraksi dan menggunakan library, tools dan API.
Semakin mudah framework, tools atau API yang digunakan, semakin memepermudah developer dalam men-develop aplikasi. Dan dari situ bisa membuat User Experience yang nyaman digunakan. Koding pun juga serasa lebih rapi dan teratur.
Mas Rofiqi juga menceritakan bagaimana proses pengembangan aplikasi dengan metode Agile. Seorang developer yang mengambil task (pick a task) dan menentukan seberapa lama dia bisa mengerjakan. Setelah itu developer bisa stand up untuk menceritakan progress task yang diambil.
Better DX = Better UX
Talk About Story Telling
Pembicara kedua adalah mas Edwin Muhammad. Mas Edwin ini merupakan Copywriter, Traveloka. Yang akan menceritakan bagaimana dengan story telling berkontribusi dalam membuat great UX.
Story telling untuk meng-influence atau menarik perhatian pelanggan agar bisa lebih terpengaruh dengan produk yang kita tawarkan.
Sebuah aplikasi didesain tidak hanya how it looks, but how it works and how it influence user. Selain tampilan, visual design, juga dibutuhkan kata2 yang kuat agar bisa memberikan ketertarikan dan pengaruh ke user.
Di Traveloka sendiri, Story Telling menjadi divisi tersendiri dan sering berhubungan dengan marketting. Seorang Copywriter harus memiliki imajinasi yang tinggi dan berbeda untuk menceritakan sebuah produk atau peristiwa.
Contoh saja, ada produk baru smartphone iPhune yang memiliki kapasitas baterai 5000mAh, layar gorilla glass, memory internal 32 GB, layar retina display. (ilustrasi yaaaa)
Itu merupakan kata2 yang asing bagi orang awam,
apa itu retina display?
apa itu gorilla glass?
seberapa gede sih 32GB?
apa lagi itu baterai 5000mAh?
coba kalau dijabarkan seperti ini…
Cobain nih, iPhune terbaru. Baterai awet seharian, gak perlu kemana — mana bawa charger atau power bank. Dilengkapi dengan layar anti gores, dan layar yang super jernih dari layar pada umumnya. Dengan kapasitas memory internal 32GB, kamu bisa menyimpan puluhan film kualitas tinggi dan ribuan musik sesuka hatimu.
Dengan menceritakan suatu produk (sedikit menyentuh teknis) user bisa membayangkan apa yang bisa dia dapatkan ketika menggunakan produk tersebut.
Talk About User Center Design for Mature Product
Pembicara ke-3 sekaligus yang terakhir mas Walesa Danto (Founder, Limakilo). Yang akan berbagi dalam menentukan User Centered Design.
Dalam sesi ini mas Walesa akan bercerita tentang bagaimana dia berkecimpung di dalam proses desain produk. Selain founder Limakilo, mas Walesa juga bekerja di Mivo. Sebuah layanan TV dan film streaming.
Mas Walesa menceritakan, bagaiamana pengalamannya dalam mengembangkan sebuah fitur yang ada di Mivo. Merubah sebuah tombol stop dan play. Yang tadinya dipisah, kemudian dibuat jadi satu tombol saja. Sekali klik bisa pilih, ketika play bisa distop. Ketika posisi stop, bisa diplay.
Hanya perubahan simple, tapi apa sih keuntungannya buat user dan owner aplikasi. Bagaimana juga user bisa lebih mudah dengan menggunakan satu tombol itu? Dari desain yang simple tersebut. Kita harus tau goalnya dari perubahan itu. Efek apa yang kita inginkan. Setelah perubahan tersebut, apakah user banyak yang terbantu dan memberikan efek positif bagi owner aplikasi.
Untuk mengukurnya, bisa menggunakan analytics. Bisa google analytcis ataupun fabric. atau bisa juga bikin sendiri kalo mau….hehehe
In The end.. karena hape saya masih jadul, dan baterainya juga lemah. Jadi tidak bisa ambil banyak photo :D. Seperti itulah gambaran orang — orang yang berada di balik layar dari sebuah kesuksesan aplikasi, dengan membuat great ux. Yang berkecimpung di dunia UX tidak hanya seorang desainer. Namun semua lini terlibat dalam membuat great UX.
Untuk video lengkapnya bisa diliat Disini