Jejak Sepatu pada Marmer Kembang

Sepatu yang kau pijakkan pada tanah, selalu mencipta jejak langkah.

Aku mengenangmu ibarat pijakan sepatu pada marmer kembang, setelah berlalu, lalu tak berbekas, hilang.

Nama itu tak lagi pernah disebut semenjak jalan ini terhalang kabut.

Di depan ada telaga warna jingga, kenangan itu tiba-tiba hilang, tanpa makna.

Yogyakarta, 24–11–2015