Kang Santri Dai Ramadhan

Kang Santri — Karena rutinitas tahunan biasanya dipegang oleh pesantren salaf. Diantaranya adalah Pon-Pes API Tegalrejo Magelang, Pon-Pes Lirboyo Kediri, Pon-Pes Termas, Pon-Pes Al-Musyaffa ‘Kendal dan beberapa pesantren Salaf lainnya yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

Da’i Ramadhan adalah arena bagi Santri untuk mengasah talenta dakwah mereka dengan terjun langsung di bidang minoritas yang berpengetahuan luas tentang Islam.

Beberapa daerah yang biasanya menjadi pusat Ramadan adalah Kab. Wonogiri, Kab. Gunung Kidul, Banjarnegara, Purbalingga, dll.

Da’i Ramadhan adalah program wajib bagi Santri yang telah menginjak kelas / tingkat akhir di Pesantren.

Karena latar belakang dan pengetahuan yang berbeda tentang Santri, tidak semua santri dapat lancar menjalankan tugas ini. Ada banyak cerita bahagia dan lucu dari para siswa yang telah melalui tugas ini.

Di antara ceritanya, ada santri yang saat berkhotbah Jumat mengajak interaksi seperti ceramah pada umumnya. Seseorang yang diceritakan kepada adzan telah gemetar, ada sholat sholat shalat shalat dan segera batalkan sholat sembari mengucapkan “maaf pak saya lupa tadi tidak doa qunut ”.

Di atas adalah kisah nyata bahwa Kang Santri dapat mencari sumber dari beberapa sumber. Kang Santri sendiri dulu saat Da’i bisa jatah di daerah Kec. Ngadirejo Kab. Wonogiri. Kang Santri adalah santri dari Kendal Jateng.

Untuk lebih jelasnya, inilah hal yang akan dilakukan oleh Da’i Ramadan selama dakwah masing-masing:

pengantar

Hal pertama yang harus disiapkan oleh Santri Da’i adalah mempersiapkan sesi pengantar dengan masyarakat tempat dia berkhotbah.

Biasanya, setelah penjemputan siang / sore oleh Ta’mir (Baca: Panitia / Orang yang mengurus kebutuhan Santri dalam dakwah), Maghrib setelah pesta Ta’mir Ta’mir akan diumumkan ke masyarakat. saat kedatangan Ustadz yang akan membimbing selama bulan Ramadhan.

Saat itulah Santri diminta mengenalkan dirinya. Pengantar ini termasuk nama, tempat asalnya, asal Pesantren, visi & misi sementara di tempat dimana dia berkunjung dan (sudah ada kandidat atau tidak?: -D) dia)

Jangan lupa sampaikan niat untuk belajar sosial dan sosial sementara di tempat dakwah, agar tidak menyiratkan kesan absolut bahwa mereka yang membutuhkan kita, tapi kita juga membutuhkan mereka untuk belajar masyarakat.

Siapkan Do’a Tarawih & Witr

Siapkan doa tarawih & witr. Pengalaman Kang Santri biasa dibaca, karena tidak hafal dan tidak ada waktu untuk menghafal :-D). Dan jika Anda harus menghafal, yang Kang Santri baca adalah shalat biasa.

Bahan untuk Kultum

Karena masing-masing daerah berbeda, tugas Da’i berbeda. Ada yang terisi penuh untuk mengurus semua kegiatan masjid seperti Imam Tarawih, Kultum, Khotbah, Charge Studies, dll. Ada juga yang tidak full alias terjadwal, jika ini adalah tugas yang dibagikan dengan Masjid Ta’mir.

Siapkan 1 Buku Khusus untuk Rutin Review

Yang satu ini juga bersyarat, tergantung masyarakat setempat. Ada orang yang meminta pembacaan rutin. Materi yang diminta biasanya tentang fiqh.

Buku yang paling direkomendasikan adalah Safinatun Najah & Fathul Qorib. Karena babnya memilih yang penting saja.

Siap Sediakan Majmu ‘Syarif / Latif

Siapkan buku master Anda yang berisi surat-surat Yasin, Tahlil & Do’a Tahlil. Majmu ‘Syarif dan Majmu’ Latif adalah buku yang paling banyak direkomendasikan.

Pasalnya, kami tak pernah curiga kapan pun diminta memimpin Tahlil. Di beberapa daerah, Tahlil diadakan setiap Jumat malam.

Siap Siap Jika Diminta Memenuhi Maulud

Tidak semua Santri bisa untuk melantunkan Qasidahan / Sholawatan. Akan menyenangkan sebelum hal-hal yang tidak ingin terjadi, mulai sekarang bisa diisi dengan MP3-nya dengan Sholawat-an Habib Syech atau Al Muqorrobin.

Memang tidak semua daerah ada kegiatan mawlid, tapi siapa tahu daerah yang anda tempati sudah terbiasa dengan rutinitas mawlid ini.

Buku Panduan Khotbah

Khotbah adalah sesuatu yang hampir bisa dikatakan wajib bagi Da’i Shaikh. Karena hampir semua Santri, Da’i akan diberi tahu tentang Khotbah. Baik itu Khotbah Jum’at atau Khotbah Idul Fitri.

Karena itu, siapkan buku khotbah, bacalah dan siapkan setiap hari Kamis. Karena tidak mungkin kita disuruh Khotbah, meski jadwalnya bukan kita. Inilah pengalaman yang biasa dirasakan Kang Santri.

Pelajari juga harmonis dan kondisinya. Karena masih banyak siswa dalam praktiknya salah, yang paling umum adalah “ajak interaksi jemaat” selama khotbah.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.