Lekuk Kusam Zaman
Kau dan aku berjarak antara bilik bambu yang tak lama lagi digusur monster mesin pengeruk.
Tak tega aku menatap dari lampu temaram yang hanya dapat sekilas menangkap kilau tanda air di mata yang menetes.
Kau mulai selepas maghrib hingga subuh mengutuki jiwa-jiwa penuh wewenang itu.
Turuti dia atau popor senjata dilayangkan ke arah tulang pipimu.
Isak tangis anak yang sebentar lagi berusia 6 bulan akibat air susu ibunya mulai mengering.
Susu atau air tazin hal biasa menenangkan matanya meneruskan mimpi.
Pelukan pasrah penghangat.
Kain batik usang yang penuh dengan tambalan.
Tidak sanggup menahan angin malam menerobos masuk lewat rumah tanpa jendela, menusuk ujung jemari sampai ubun-ubun kepala.
Merintih terbohongi
Sakit hati akibat dusta
Perih karena luka yang meneroka
Getirnya riak yang harus tertelan ludah sendiri
Kemana aku pergi membawa istri-anakku yang kurus akibat tidak cukup gizi.
Kemana aku pergi lagi mendorong dua roda yang telah botak mengais lembar demi lembar alat tukar.
Atau kemana ia pergi dengan mobil mewah berplat merah tanda dirinya sebagai aparatur negara.
Bukankan nasi yang kau makan dengan keluargamu lebih dari cukup untuk mengenyangkan perut keluarga kecil ini.
Aku terlambat, ia meraup segala yang ada dengan tamak tak bertanggung jawab.
Waktu mempecundangiku dengan seribu alasan yang tidak masuk akal.
Perut salah satu prioritas bertahan hidup yang pikuk.
Jas serta dasi yang ia dapat di luar negeri tak peduli lagi pekikan tangis bayi-bayi menahan lambungnya yang perih.
Sampai aku pun sadar dia selalu mengejar, membakar isi berkasnya tanpa sadar diri. Gila untuk membeli. Membeli untuk menggilai. Menggilai sampai jual harga diri.
Tutuplah kupingmu rapat-rapat tapi haram kau tutup mata hatimu.
Puisi cerewet akan membungkam retoris yang kedaluwarsa.
Karena zaman kita.
Kita terkutuk zaman fana.
Karena setiap lekuk cinta di kota ini ada harganya.
Harga untuk menjual diri kepada tengkulak-tengkulak ibu kota.
Depok, 25 Juli 2017
