Manusia dan Aku
Aku mengambang dengan masa depan, persepsi orang banyak, sampai tertiup stigma serampangan mereka yang liar menyimpul.
Bukankah aku, kau, hanya berasal dari tetesan kehinaan manusia.Aku menyeringai, termakan debu-debu trotoar pendamping aspal yang panas.
Aku tersipu seketika menatap wanita-wanita di tempat terbuka, membuka segala-galanya; belahan dada yang tak sebulat itu semestinya.
Bayang fantasi yang tak berujung pada keputusan mutlak menuju onani.Kita sekaligus menyeringai bersamaan, lahirkan gelak tawa Stalin saat mempercundangi Dostoyevski, meracuni Gorky hingga mati. Rasa haru Hitler memeluk bangkai-bangkai keluarganya saat terkepung di Munich.
Ataukah aku harus menyeringai pada para pesorak ria yang menyedot hingga tulang belikatku menonjol.
Tanda keresahan yang terulang kembali.Kopi hitam di kedai murahan tempat renungan durjana sambil aku mendengar seonggok daging penuh angkuh.
Gelak tawaku habis, aku marah akan diriku sendiri.
Aku muak dengan pemikiran-pemikiran usang yang tak tersaup reruntuhan rezim otoriter.
Muakku meletup-meletup merasa malu-malu untuk kuungkapkan di permukaan.Bibirku merasa kering, hawa kakiku tak hangat lagi. Asap tembakau pekat, butir demi butir penenang saraf, hingga air bersih yang harus kubayar dua kali lipat dari bulan sebelumnya.
Lipatan-lipatan kekhawatiran.
Lekuk dekil sejumput kepentingan.
Kau wewenang yang bisa memerintahku.
Ku turuti engkau, kau injak leherku.
Ku maklumi engkau, kau hantam kebebasanku bertutur.
Ku biasa saja, kau tuduh aku manusia-manusia apatis, pesimistis, nihilis.
Kau dan aku saling menyeringai menutupi dendam yang berkobar diam-diam

- Depok, 25 Juli 2017
