
Telanjang Untuk Tertidur
"Aku pakai bayanganmu, agar aku tidak berpakaian lagi seperti manusia"
Aku berjalan dalam sebuah sedan menuju perbatasan. Telah aku pinjam seluruh makna agar dapat hidup sebagai manusia.
Tentang sebuah rumah yang gigil, tempat orang-orang menaruh cemas di lembaran surat kabar, menu makan siang, dan rasa lapar yang berat.
Aku telah telanjang untuk tertidur sebagai seorang lelaki.
Yang singgah untuk berjalan.
Yang telanjang untuk tertidur dalam cairan yang menggenang dalam lubang di jalan raya.
Di Jakarta, sebuah mikropon pecah di telingaku. Merayakan kematian dalam sebuah pikiran. Membangunkan patahan-patahan harap yang bersembunyi dalam selimut.
Mungkin, aku telah berhenti mencari makna pada sepasang converse, pameran foto, pentas teater, dan keributan konser yang bising.
Mungkin juga terpaku pada keramaian stasiun, hilir mudik orang-orang di terminal, dan sebuah pasar yang terbakar di siang hari.
Kenyataan telah memasungku untuk berjalan. Menonton sebuah perputaran narasi yang bingung. Hidup adalah suara yg bising, ketukan keras, dan selembar menu makanan di restoran.
Aku pakai bayanganku, agar aku tidak berpakaian lagi seperti manusia.
Aku ingin telanjang dalam kamar mandi. Berhenti berkelana, seperti suara sunyi yang tak terdengar lagi.
20/11/2015
