Puisi-Puisi Arif Hukmi

Dimuat di Media Indonesia, Minggu, 7 Mei 2017

www.pinterest.com

Perjamuan Kota

Jalan-jalan basah dan kemacetan dimana-mana

Adakah hari untuk kaumerasakan jalanan sepi, tak semacet hari ini, tak sepadat ini — ataukah itu tak akan terjadi di kotaku

Hujan membasahi kepala, ingatan dan seluruh tubuh

Dingin, katamu

Semuanya telah berubah, keramaian kota seperti penjara, bising dan sesak

Barangkali lewat puisi kaumampu menerka-nerka beberapa hal yang membuat muak

Aku hendak tualang — jauh di tempat sepi tanpa bayang-bayang hujan di matamu

Engkau kini menjelma riuh suara teriakan-teriakan penguasa jalan, egois, marah dan terlunta-lunta menahan sesaknya jalan raya

Makassar, 2016


Di Kota yang Purba

Di kota yang purba—barangkali kaumenemui klakson-klakson kendaraan bersahutan di kiri dan kanan jalan

Belum sempat kau basuh wajahmu dengan air kopi yang setiap pagi kau cicipi

Berita duka telah terdengar yang dikabarkan oleh televisi—tentang seorang anak kecil kehilangan masa depan

Adalah anak lelaki yang bercita-cita menjadi penyair, namun tak mampu menentang nyinyir diri sendiri

Patutkah aku mempersalahkan semesta yang kejam

Barangkali bumi—tidak disuguhkan secangkir kopi dan sepotong roti di pagi hari

Kauhitung kembali berapa banyak kendaraan berlalu-lalang di malam kelam

Di kota yang purba—pohon-pohon ialah asupan paling langka yang jarang kutemui

Di sini—orang-orang sibuk mengurusi diri sendiri

Setelah beberapa lama saling menjual asumsi

Barangkali kau hanya mendapatkan sesuap nasi setelah senja berganti

Di kota yang purba sekali lagi, gedung-gedung selalu berganti warna—berganti kaca pada dinding-dinding serakah

Kita adalah sepasang tetua yang acapkali menahan debar di dada, menentang nyinyir diri sendiri

Di museum kota yang usang, sekelompok anak muda sedang merayakan pesta, bergurau dan bernostalgia pada masa lampau

Sedang kita—masih dalam keadaan serupa

Menikmati kota yang lusuh oleh usia

Makassar, 2017


Mencintai Bumi Mencintai Diri Sendiri

Apakah kaumencintai bumi tempatmu berpijak, lahir dan mati kemudian ?

Mencintai membutuhkan perhatian bagai tiang penyangga gedung-gedung kota

Tempat kaumenghirup udara yang usang

Bukankah kita saling merindukan udara pagi yang sejuk, burung-burung bernyayi di halaman — tapi itu mimpi buruk yang tak kunjung kudapati

Apakah kautemui taman-taman kota yang rimbun dan cuaca sejuk di sekitar tempat kaumengejar impian di masa datang ?

Belantara kota ditumbuhi hutan-hutan beton yang menusuk langit — sakit

Bumi terisak, tercabik-cabik, menua, suara-suara mereka semakin parau

Berteriak di antara riak jalan kota yang menyesakkan

Bencana datang dan kausaling menyalahkan

Bumi tutup usia dan meninggalkan kita pada kesedihan-kesedihan yang tak kunjung selesai

Cintaimu demikian — putus di persimpangan jalan

Tamat

Makassar, 2017

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.