Data Scientist : Early Perspective

“Banyak yang bertanya, aku ini mau jadi apa, kok ngga kuliah, juga ngga kerja, tapi kujawab inilahku adanya?” (cuplikan lagu Steven & Coconut Treez — Bebas Merdeka yang sering kudengarkan waktu SD)
Saat itu aku baru resign dari pekerjaan lamaku, dan aku memang ngga ngapa-ngapain, cuma belajar beberapa materi untuk mengejar cita-citaku menjadi sehelai Data Scientist, dan saat itu juga mulai banyak yang bertanya, “apa itu Data Scientist?”. Karena aku capek menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, aku berpikir akan lebih mudah jika kubuat saja penjelasannya disebuah postingan entah dimana (jadinya disini), dan kalian semua yang bertanya akan kuarahkan kesana (jadinya kesini), dan kalian yang juga data scientist bisa mengarahkan pertanyaan tersebut kesana (jadinya kesini). Nggak tau ya penjelasanku sesuai atau tidak dengan kondisi aslinya dan yang seharusnya. Tapi inilah yang sejauh ini kulakukan sebagai sekuntum Data Scientist.
Pertanyaan yang sama tersebut, jika ditanyakan oleh orang yang berbeda, maka jawabannya akan berbeda pula, tergantung tingkat pendidikan dan usia orang tersebut (tanpa bermaksud mendiskriminasi siapapun). Karena memang cukup sulit menjelaskan dengan tepat profesi ini. Dan artikel-artikel yang ada di internet sangat panjang dan bertele-tele.
Jawaban untuk:
Mbah Uti, ibuku, dan ibu mertua : “Data scientist itu seperti statistikawan (aku bahkan nggatau statistikawan kerjanya ngapain), kerjanya menganalisis data pakai komputer mbah.”
Bapak, teman kuliah non Matematika non Computer Science dan sejenisnya : “Seperti programmer, tapi yang di coding metode-metode statistika.”
Tukang ojek, tetangga desa, dan kang nasi goreng: “Programmer (bodo amat).”
Teman kuliah Matematika, CS, IF, dsb: “Nganalisis data, ngoding dan query, tujuannya buat nyari insight dari data-data tersebut, visualisasi data, predictive modeling, sampai ngasih saran bisnis proses atau decision ke product manager, data lead, atau yang berkepentingan berdasarkan hasil analisis untuk tujuan memajukan perusahaan. Something like that.”
Epilogue
Menurutku data scientist bisa dibilang dokter data. Karena membaca indikasi, memberikan konsultasi, memberikan saran dan ‘obat’.
Menurutku data scientist juga bisa dibilang geologist, karena mencari dan menggali ‘hasil tambang’ berupa informasi penting yang nggak bisa dilakukan secara manual.
Dan karena data scientist adalah irisan dari berbagai bidang studi seperti matematika dan statistika, ilmu komputer, dan business knowledge. Maka cukup jarang data scientist yang benar-benar sangat ahli di semua field of study tersebut. Dan jika ada yang expert di semua bidang tersebut tentulah hourly wage data scientist tersebut sangat tinggi.
Bahkan Glassdoor.com menjadikan Data Scientist sebagai pekerjaan terbaik di Amerika.


Apakah di Indonesia sudah terlihat seperti itu? I can’t say for sure. Menurut kamu?
Epilogue 2
Sisi lain dari profesi ini yang sangat kusukai (in my company):
- Bekerja dengan jam kerja sesuka hati.
- Lebih mengutamakan kualitas dibanding kuantitas (kerja sedikit dan sebentar nggapapa yang penting berdampak).
- Makan sehat 3x sehari.
- Jadwal PES/FIFA tidak terganggu.
- Pakai kaos, celana bebas, dan sendal (kecuali meeting).
Semoga lulus probation.
