Sukardi dan Seragam Anaknya

Rio Arifin
Nov 1 · 12 min read

Cerpen oleh Rio Nur Arifin

Sudah hampir satu jam Sukardi bergumul dengan para tengkulak ikan, ketika terik matahari diatas kepalanya terus memanggang emosinya yang sedang tak stabil. Nampaknya tak ada yang berkompromi dengan keadaan jiwanya yang sudah tak berhasrat itu. Tak ada seorangpun yang menghiraukan Sukardi. Sukardi seperti dipermainkan, mereka bersekongkol mengacuhkannya. Para tengkulak ini malah sibuk melayani nelayan lain yang juga ingin menjual ikan-ikannya. Entah mengapa hari ini sangat sesak, Sukardi tergerus lautan manusia. Ia limbung, kakinya hampir tak kuasa menahan berat tubuhnya yang sebenarnya tak lebih berat dari beban hidup yang dibawanya. Apa daya, tumpahan minyak dari kapal tanker beberapa hari lalu membuatnya harus memanen total tambaknya, begitupun dengan petani tambak yang lain, kalaupun tidak, ikan-ikannya tetap akan mati juga. Dengan keadaan seperti ini, entah apa yang akan ia lakukan besok, ia tak berani membayangkannya. Jangankan besok, satu jam kedepan saja ia tak mampu. Pokoknya hari ini tugasnya hanya menjual ikan-ikan itu.

Sukardi berjalan menjauh, dengan wajah merah sisa emosi yang telah dikuras habis ia menenteng hasil panennya. Ia ingin menepi sejenak dari kerumunan, mencari udara segar sambil menenangkan diri. Sembari berjalan, ingatannya terlempar kembali ke hari itu, ketika anaknya, Yuda, pulang dari sekolah dengan sisa-sisa air mata yang menbekas di seragam putihnya, persis seperti hari-hari sebelumnya. Sukardi yang saat itu sedang sibuk menjemur ikan, menatap Yuda yang berjalan lurus masuk ke rumahnya tanpa mengucap salam. Jika itu adalah Ayah Sukardi, mungkin ia sudah dicambuk 17 kali.

Sudah sejak sebulan yang lalu, Sukardi berencana untuk membelikan seragam baru untuk anaknya. Ia tak habis pikir apa yang dipikirkan oleh anak-anak itu dengan mengolok-olok dan meledek anaknya hanya karna baju seragamnya lusuh dengan sedikit bekas jahitan karna robek, sepatunya bolong dan solnya sudah mengelupas, celananya yang kekecilan dengan warna yang semula merah kini telah menjadi putih pudar kekuningan. Namun, semakin dipikirkan, ia malah semakin mengerti kenapa anak-anak itu mengejeknya. Selanjutnya ia berpikir ulang, ia lantas tak habis pikir kepada dirinya sendiri kenapa ia bisa tak habis pikir terhadap anak-anak itu. Memang sejak istrinya meninggal dua tahun lalu, Sukardi menjadi gundah. Ia tak bisa mengontrol emosinya dan mulai tidak fokus. Anak semata wayangnya yang sebenarnya sangat ia cintai dengan ketidakmampuan untuk mengungkapkan rasa cintanya, membuat Sukardi seolah-olah selalu dingin terhadapnya. Anak-anak tentu sulit menerima konsep cinta semacam itu, mereka akan mencerna apa yang dilihat dan diterimanya secara fisik, sedangkan Sukardi, yang seluruh hidupnya hanya bergelut dengan ikan-ikan dan udang, tak memiliki kecakapan dalam hal mengungkapkan perasaan. Toh, ia juga tak mendapatkan hal semacam itu dari ayahnya, dan ia masih baik-baik saja, pikirnya.

***

Dua tahun lalu, istrinya meninggal karena kanker rahim yang dideritanya. Sukardi yang cinta mati kepada Ainur, istri yang dinikahinya 10 tahun lalu, tak bisa berbuat banyak ketika takdir yang sejak dulu memang tak berpihak padanya kembali bercanda dengan hidupnya. Ibunya sendiri sudah meninggal sejak ia masih berumur 8 tahun, mirip seperti apa yang dialami anaknya sekarang. Hal ini sekaligus membuatnya berpikir bahwa ia harus mendidik anaknya setidaknya lebih baik darinya.

Sukardi menahan nafasnya, membiarkan otaknya kekurangan oksigen. Ia merasa tak ada yang bisa membuatnya lebih buruk dari apa yang telah ia alami. Mengenakan kaos putih bergambar bunga teratai, dengan celana pendek yang gombrang, dan kaki yang tanpa alas ia berjalan menyusuri kios-kios yang menyediakan ikan-ikan segar, udang, tiram, dan kepiting untuk para wisatawan. Lengannya yang kekar dan kaki yang kuat menahan tubuhnya dengan gontai.

Dulu, daerah ini hanya berisi hamparan pasir yang luas, dengan beberapa pohon kelapa dan lavender laut yang banyak bertebaran. Sebagai anak pantai, dunianya memang hanya laut, pasir, ikan-ikan, cakrawala dan garis horizon yang tercipta dari proyeksi Samudra Hindia di kornea matanya, namun semua itu sudah lebih dari cukup, sampai ia bertemu Ainur di sore itu. Bukan, bukan berarti ia baru bertemu dengannya saat itu. Sukardi mengenal Ainur sudah sejak lama, sejak kecil ia tahu Ainur, anak salah seorang sekretaris desa. Namun sore itu ia bukan bertemu Ainur anak sekretaris desa, namun Ainur sebagai sebuah individu dengan persona yang baru ia pahami saat itu. Dan hatinya pun bergetar, lebih hebat dari ketika ia mendapatkan ikan-ikan yang besar. Saat itu Sukardi berusia 17 tahun lebih 2 bulan.

Tempat yang ia injak sekarang adalah tempat dimana dulu ia dan Ainur pernah bersama-sama bercerita tentang keinginan sederhana mereka untuk hidup selama-lamanya, memiliki 3 orang anak, mencari ikan bersama-sama, menjualnya di pasar, berjalan-jalan di kota setiap hari minggu, membesarkan anak-anak mereka sampai dewasa, dan semacamnya. Entah bagaimana Sukardi bisa mendapatkan hati Ainur yang saat itu rasa-rasanya tidak mungkin bahkan tak ada manusia waras yang akan berani bertaruh satu rupiah pun untuk hubungan mereka. Ainur memiliki derajat keluarga yang lebih tinggi dari Sukardi, setidaknya Ainur menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat SMP. Namun Sukardi bukan tanpa pendidikan sama sekali, ia dididik oleh ayahnya, satu-satunya guru ngaji di kampungnya. Dan siapa yang menyangka, alam semesta ternyata berkonspirasi mendukungnya. Suatu hari kemudian, Ia akhirnya menikah juga dengan Ainur, menumbangkan pria-pria lainnya yang juga menginginkan Ainur. Saat itu pula, Sukardi merasa cadangan keberuntungan seumur hidupnya telah habis oleh karena mendapatkan Ainur.

“Ainur, maukah kamu bergabung denganku di dalam duniaku yang sederhana?” Ucap Sukardi di suatu sore setelah ia menduga bahwa Ainur pun memendam rasa terhadapnya, meskipun ia tak sepenuhnya yakin. Ia tak tau siapa yang membisikinya kalimat itu sehingga tiba-tiba ia mengatakannya. Ia pun tak tau darimana mendapat keberanian seperti itu. Namun kini, senja yang merah keunguan dan tak bersalah telah jadi saksi dari apapun yang akan terjadi di dunia yang tak bisa terprediksi. Tak ada yang berani bersuara, tak ada debur ombak, tak ada daun-daun yang bergesekan, tak ada desir angin, tak ada kicau burung, semua menanti jawaban Ainur. Namun Ainur diam, tak mengatakan sepatah katapun, bagai lautan di malam hari setelah badai, hening. Hanya senyum tipis yang mengembang perlahan dari wajahnya. Dalam kasus ini, bagi Sukardi diam adalah setuju.

Di kejauhan Sukardi melihat garis pantai yang selalu bertambah tinggi setiap tahun. Dulu, airnya tak setinggi ini, ia masih bisa bermain dan berlari-larian dengan teman-temannya di areal yang sekarang sudah sepenuhnya tertutup air laut, sepertinya semua hal telah berubah dimatanya. Dulu, ia pikir Ainur takkan berubah, namun ia salah. Ainur berubah, menjadi tiada.

Sejak Yuda lahir, Ainur jadi sakit-sakitan, ia bahkan pernah menyalahkan Yuda karena hal ini, namun tak pernah lagi terucap dari mulutnya sejak Ainur menegurnya. Sukardi memang orang yang berpikiran pendek. Ia tidak pernah memikirkan segala sesuatu dengan matang, begitu terbalik dengan Ainur. Makanya Sukardi begitu sedih ketika Ainur meninggalkannya, sampai-sampai ia larut dalam kesedihannya dan lupa bahwa ia masih punya seorang anak yang masih sangat labil dan tak kalah sedihnya karna ditinggal oleh Ibunya.

***

Ayah Sukardi, kini menghabiskan lebih banyak waktu di rumahnya, ia lebih sering berbaring. Asam uratnya semakin parah, ditambah ia juga terkena Alzheimer. Biasanya, ia mengajar ngaji anak-anak di desanya tiap sore di sebuah gazebo kayu sederhana yang ada di sebelah langgar. Saat ini ia hanya mampu mengajar tiap hari Rabu dan Minggu. Sehabis Ashar, anak-anak akan datang berbondong-bondong ke rumahnya. Beberapa cemilan dan teh hangat pun sudah siap tersaji di pelataran rumahnya.

Minggu lalu, Sukardi telah berniat untuk mengunjungi Ayahnya. Walaupun jarak rumahnya dan rumah ayahnya tidak terpaut jauh, hanya sekitar 3 sampai 5 km, namun ia tergolong cukup jarang ‘sowan’ ke tempat ayahnya, apalagi beberapa bulan lalu setelah Yuda sering menginap di tempat kakeknya itu tanpa ijin terlebih dahulu, Sukardi sempat bersitegang dengan ayahnya. Betapa sedihnya Ayahnya ketika Sukardi meninggikan suaranya di hadapannya hanya karna masalah yang sangat sepele. Sambil memegangi dadanya menahan tekanan dari perutnya, ayah Sukardi hanya bisa tergagap dan membiarkan anaknya tersebut meninggalkan rumahnya, membawa pulang Yuda.

Ayah Sukardi sama seperti dirinya, tidak pandai dalam menyampaikan perasaannya, sehingga seolah-olah ia selalu ‘garang’ dan keras, namun jauh di lubuk hatinya, ia sangat menyayangi Sukardi, dan kini sedikit banyak ia menyesalinya.

Namun Minggu ini, Sukardi sudah putuskan untuk mampir ke rumah ayahnya dan meminta maaf, ia menyadari tingkah kekanak-kanakannya yang berlebihan terhadap ayahnya. Sukardi tahu betul bagaimana pentingnya menyambung tali silaturahmi, ayahnya sendiri yang mengajarinya.

***

Jauh di ujung pantai, samar-samar, Sukardi melihat sosok yang sangat dikenalinya.

“Ibu?” ia berkata lirih. Memperhatikan lagi dengan seksama sosok wanita yang hanya nampak dari belakang.

“Ibu?!” ucapnya lebih keras. Kali ini ia yakin apa yang dilihatnya adalah sosok yang sudah 30 tahun tak pernah ia temui, ibunya. Tanpa ragu ia berlari menghampirinya, tubuhnya yang sudah gontai tiba-tiba mendapat kekuatan misterius yang datang entah darimana, mungkin dari kerinduan telah mengendap begitu lama. Ia berlari, sekuat tenaga yang ia punya, berlari seperti anak kecil yang ditinggal ibunya ke pasar untuk membeli kebutuhan rumah kemudian kembali lagi dan berdiri di depan pagar, Ia berlari seperti anak kecil yang sedang bermain dengan teman-temannya kemudian melihat ibunya di kejauhan memanggilnya, Ia berlari dengan segala permasalahan hidupnya yang ingin segera ia ceritakan kepada ibunya, tentang Ainur yang telah pergi meninggalkannya, tentang pertikaian dengan ayahnya, tentang kondisi ayahnya yang sudah sangat lemah, tentang kondisi keuangannya, tentang Yuda yang selalu dirundung teman-temannya karna seragamnya sudah usang, tentang tambak ikannya yang gagal panen, tentang semuanya, ibunya pasti akan memiliki solusi untuk setiap permasalahannya, ia yakin, selalu begitu.

Sukardi berlari semakin kencang, jejak kakinya membekas jelas di pasir. Semakin jauh ia meninggalkan bibir pantai, ombak-ombak kecil terpecah diantara kakinya, sudah lama sekali ia tidak berlari seperti ini. Tapi, semakin ia berlari mendekat, wujud ibunya justru semakin kabur. Tidak. Ini tidak bisa dibiarkan. Sukardi tidak boleh kehilangan ibunya untuk kedua kalinya. Ia terus berlari menepis keraguan, pikiran negatif, dan tentu saja akal sehat. Bicara akal sehat, bukankah selama ini yang ia alami memang sudah diluar akal sehat? Alam dan takdir seolah bersepakat untuk mencari masalah dengannya. Maka, saat ini Sukardi adalah makhluk yang berdiri sendiri. Maka, ia terus berlari bersamaan dengan bayangan ibunya yang lambat tapi pasti terus menguap, dan hilang.

Alam menipunya lewat fatamorgana, salah satu bagian alam semesta yang secara natural adalah oposisinya, dengan kecewa, Sukardi kembali melanjutkan perjalanan. Ia tenteng lagi ikan-ikannya. Tujuannya adalah pasar ikan yang lebih besar, terdapat juga toko-toko kelontong yang menjual berbagai kebutuhan rumah di grumbul tetangga. Disana lebih ramai, siapa tahu ia bisa langsung dapat pembeli besar tanpa melalui tengkulak, syukur-syukur ikan bandeng dan udang windu yang masih tersimpan di rumahnya bisa diborong semua.

Kemarin malam, ia sudah kesana. Tapi tidak ke pasar ikan, hanya ke toko kelontong milik Abah Abdul langganannya. Disana ia membeli seragam, tas dan sepatu baru untuk anaknya. Setelah beberapa purnama terlewati, akhirnya ia memilih menggunakan tabungan yang semula akan ia belikan ‘perayang’ untuk membeli seragam anaknya. Ia sudah membayangkan betapa senangnya Yuda mendapatkan seragam baru. Tak ada lagi yang akan menghinanya setelah ini. Ia sudah berencana untuk memberikan kejutan pada Yuda besok, di hari Minggu.

Memang, kasih sayang tak pernah bisa dilihat atau disentuh, tak selalu terucap, tak harus berwujud, ia harus dirasakan menggunakan hati yang tulus. Tapi mungkin ini adalah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk sedikit menebus perasaan bersalahnya. Dan barangkali satu-satunya kesempatannya saat ini untuk memberitahukan dan membuat Yuda mengerti bahwa ia adalah ayahnya, ayah yang sangat menyayanginya, bagaimanapun juga.

Ketika Sukardi tau bahwa Yuda mengalami hari-hari yang buruk disekolahnya, bukan ia tidak peduli. Ketika Yuda bercerita bahwa teman-temannya memiliki sepatu yang bagus, bukan ia tak menghiraukan. Ia dengar dan catat itu dalam-dalam di otaknya yang sederhana. Diam-diam ia menuju kamarnya, membuka wadah plastik berbentuk kotak yang ada di belakang lemarinya, tempat ia menyimpan cadangan uangnya, mengernyitkan dahinya, lalu kembali menemui Yuda dan menasehatinya, bahwa yang penting dalam menuntut ilmu bukanlah seragam maupun sepatu yang bagus, lihat saja, teman-teman Yuda yang mengejeknya itu bahkan peringkatnya berada jauh dibawah Yuda. Ia mengatakan itu sambil meminta maaf dalam hati, bahwa uangnya saat ini hanya cukup untuk membayar biaya sekolah Yuda bulan depan. Ia memang masih memiliki sejumlah uang di kotak lain, namun uang itu rencananya akan ia gunakan untuk membeli ‘perayang’, alas tambak dan beberapa pakan hidup, sebelum kejadian minyak tumpah terjadi beberapa hari yang lalu. Nampaknya musibah ini membawa berkah bagi Yuda. Dan Sukardi yang sudah pasrah akhirnya memutuskan untuk menggunakan uang tersebut untuk membeli keperluan sekolah Yuda. Apa yang terjadi besok, biarlah menjadi urusan besok.

Lalu dengan niat bulat, malam kemarin ia bergegas menuju toko Abah Abdul. Tentu saja ketika ia datang, tokonya sudah tutup. Untunglah Abah Abdul merupakan teman baik ayahnya, dan toko tersebut adalah juga rumahnya, sehingga kedatangannya di malam itu tak menjadi masalah sama sekali. Ia bahkan sempat mengobrol cukup lama dengan Abah Abdul, membahas keadaan keluarganya, kondisi ayahnya, dan tentu saja tentang seragam sekolah Yuda.

Sukardi berjalan meninggalkan toko dengan membawa sekantong kresek berisi baju dan celana seragam, serta sepatu baru untuk Yuda. Bahkan sepatunya tak perlu ia bayar, Abah Abdul memberikannya cuma-cuma setelah mendengarkan cerita Sukardi panjang lebar. Sungguh tak diduga, ternyata semuanya berjalan lebih baik dari yang ia bayangkan. Uangnya pun masih cukup untuk membeli keperluan tambaknya.

Angin malam di pantai bergerak ke arah laut, menggelitik leher dan wajah Sukardi yang lelah. Melewati pasar ikan dan toko-toko yang sudah tutup, Sukardi berjalan menembus dinginnya angin darat yang mengikis pasir dan batuan pantai, juga pelipis wajahnya.

Semakin menjauh dari bangunan-bangunan toko, Sukardi kini berjalan dibawah langit tanpa panghalang, ia melewati bulak yang panjang. Bulak ini ramai di siang hari karena merupakan akses utama ke pasar ikan besar, masjid, dan sekolah. Namun suasana di malam hari tampak sedikit mengerikan, hanya ada rumput yang tinggi di sisi kanan kirinya dan beberapa pohon kelapa yang jarang, membuat bulu kuduk berdiri. Tak ada keramaian yang biasanya memadati daerah itu. Untunglah dia Sukardi, yang sudah ratusan kali melewati jalur itu.

Di kejauhan nampak beberapa nelayan bersiap melaut. Pandangan Sukardi terpaku pada batas garis pantai, memperhatikan perahu-perahu nelayan yang berjejer rapi hingga tanpa sadar ada sesuatu yang menabraknya dari arah samping, “Brak!! Crass!!”. Sukardi tersungkur. Dua orang yang tak dikenalinya berusaha merebut tas kresek di tangan Sukardi. Ia langsung tahu mereka adalah begal. Akhir-akhir ini memang sedang ramai menjadi perbincangan begal yang kerap menyerang warga dan merampas barang-barang korban. Dengan sekuat tenaga ia memeluk tas kresek berisi alat-alat sekolah Yuda hingga tanpa sadar seluruh uang di kantongnya sudah raib oleh para begal tersebut. Pergumulan itu membuat Sukardi sangat lemas dan merasa hampir pingsan. Ia pun memilih untuk beristirahat sejenak dibawah sebuah pohon mahoni yang tumbuh liar di tepi jalan sebelum melanjutkan perjalanannya pulang.

***

Sukardi yakin kesialan tidak akan datang dua kali berturut-turut. Hari ini pasti ikan-ikannya akan terjual di pasar. Maka dengan sisa semangat walau ditopang tubuh yang sempoyongan, ia tetap melangkah tanpa ragu. Ia juga akan mampir sebentar ke toko Abah Abdul, mumpung hari belum terlalu siang. Siapa tahu Abah Abdul bisa membantunya mencari tahu tentang begal-begal tersebut.

Sambil mengisi pikirannya yang kosong, Sukardi memandangi pantai, menyaksikan nelayan-nelayan yang ia lihat semalam mulai kembali ke daratan. Diantara para nelayan itu, ia melihat objek yang tak asing di otaknya.

“Hei! Kosim!” Sukardi menyapa temannya, Kosim datang ke arahnya sambil membawa ember besar. Ia menyapanya beberapa kali namun Kosim terus berjalan mengacuhkannya.

‘Ada apa dengan orang-orang ini?’ pikirnya. Kesal juga lama-lama ia dengan orang-orang pantai ini. Tapi masa bodo dengan mereka, ia lanjutkan perjalanannya menuju pasar.

Gerimis turun perlahan, menetes di ujung hidungnya. Kakinya melangkah seperti biasa, tiada dipercepat tiada pula diperlambat. Bagi Sukardi, hujan tidak hujan tentulah bukan masalah yang berarti. Satu-satunya masalahnya adalah bagaimana menjual hasil tambaknya dengan cepat.

Dengan belaian angin laut dan diiringi syahdunya gerimis di tengah sengatan matahari pagi, tibalah Sukardi di bulak panjang penghubung grumbulnya dan grumbul tetangga. Tempat ia dibegal semalam. Akses jalan satu-satunya untuk menuju ke pasar, kecuali kau mau melewati hutan yang penuh pohon salak dan nyamuk-nyamuk haus darah. Sebenarnya tak apa, hanya saja jaraknya tidak berbeda jauh, sehingga tak ada alasan bagi siapapun untuk melewati jalur itu.

Di kejauhan, jauh di tengah bulak ia melihat kerumunan manusia yang tak wajar, seperti lalat mengerumuni bangkai ikan. Pastilah ada sesuatu yang luar biasa sehingga warga sampai berkerumun seperti itu. Dengan tanpa rasa penasaran sedikit pun, Sukardi mendekat secara pasti dan hanya berniat melewatinya ketika pikiran itu tiba-tiba urung seketika karna Sukardi mendengar suara anaknya mengerang diantara kerumunan itu.

Sekelebat pikiran negatif langsung menghinggapi kepalanya tanpa permisi. Berbagai skenario buruk ia ciptakan sendiri. Apa yang terjadi pada Yuda? bagaimana jika ia ternyata dibegal juga? atau jangan-jangan ia tenggelam di laut? ah bagaimana ini? Sukardi begitu takut dengan kemungkinan-kemungkinan itu. Ia berusaha keras untuk tenang namun batinnya malah semakin kalut. Dengan kerumunan yang seramai itu sulit rasanya ia menyelinap untuk melihat apa yang terjadi. Diantara celah manusia-manusia itu, ia mencoba mengintip ke dalam sementara suara Yuda semakin jelas memanggil-manggil namanya dengan lirih.

Dengan berbagai cara, akhirnya ia berhasil menemukan celah untuk melihat kedalam. Matanya terpaku pada sosok laki-laki di dalam kerumunan itu. Laki-laki yang dikenalnya, nampak tidak asing.

Di atas jalanan berbatu kerikil, dibawah pohon mahoni yang besar, angin bertiup sangat aneh. Karena ditengah gerimis yang telah berubah menjadi hujan, orang-orang berhamburan pergi, udara panas justru membuatnya terpaku. Melewati kerongkongannya. Rasa panasnya perlahan membakar isi perutnya. Dengan jelas ia melihat Yuda terduduk disamping seorang laki-laki yang bersimbah darah sambil memeluk tas kresek hitam, mengenakan baju berwarna putih bergambar bunga teratai dengan celana gombrang. Ditengah bulak yang panjang dengan ilalang tinggi di pinggiran jalan yang melambai-lambai tertiup angin. Dibawah langit tanpa penghalang, diatas tanah batu berpasir, terdengar jeritan seorang bocah yang suaranya melengking hingga ke ujung pulau.

“Ayaaaaaah!!!!!”

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade