Percakapan

ini tentang peta yang dipatri pada lekuk leher mu
menuntun laskar malaikat untuk pulang
kirain teh surga, ternyata bukan
ku pasang telinga hidup-hidup sewaktu mereka memecah tangis kelelahan
dengar mereka bertutur tentang
sayapnya yang lecet mengejar para pendosa
“Bandel betul si cucu adam!” seru Atid
Raqib terkekeh, helai sayapnya terjatuh ke tanah ketika pundaknya berguncang, “Hari ini kerja ku tak banyak, hanya minum susu, main karambol dan merebah. Keranjangmu pasti berat ya, Tid?”
“Wah! Kau pemakan gaji buta, hai Raqib! Apakah aku harus menulisimu juga?”
kemudian maghrib pun tiba dan terbenam di rambutmu
kedua malaikat nanar menatap
di tubuhmu, cela menjadi cinta yang ilahi
dan kita akan cantik pada waktunya
(arindha gak bisa karambol, awal Oktober 2019)
