Bukankah kita (mestinya) membaca pesan?

via dailyremindernetwork

Seorang remaja laki laki pergi ke luar rumahnya menggunakan sebuah seragam putih abu seperti biasa, setiap harinya, tak ada yang berbeda dengan remaja SMA lainnya. Belajar, bermain dan bersenda gurau dengan teman sebayanya, hingga di malam itu sebuah peristiwa yang tak terduga terjadi. Ia yang hidup di atas impiannya tetiba bahkan kini tak mengenali dirinya sendiri. ia kemudian tak sadarkan diri.

Saat terbangun ia seolah lupa pernah mengalami hidup belasan tahun. Ya.. dia kini layaknya seorang anak berusia 6th yang merengek meminta dibelikan permen, bahkan menangis saat tas ransel berwarna kuning berbentuk tokoh kartun favoritnya diambil.

Namun keluarganya melihat hal yang begitu menyayat setiap hati yang menyimpan benih iman di dalamnya. Di kondisi sakit terparahnya, ia melakukan sejumlah gerakan tubuh yang begitu aneh. Keluarganya begitu panik, namun di akhir gerakan-gerakan aneh yan berulang di tempat tidurnya, dia menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Ternyata dia sedang berupaya sholat, sholat isya terakhirnya sebagai seseorang yang sadar.

Kini paginya adalah rengekan, dan senjanya menjadi pembungkus suasana bagi tidurnya hingga matahari hadir kembali. Selalu seperti itu. Setiap hari.

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

Tiga bulan berlalu. Remaja itu kini hidup di sebuah pesantren di sebuah daerah pedalaman di Jawa Barat. Ibunya datang berkunjung membawa uang hasil usahanya untuk dibayarkan kepada pengurus pesantren yang kini berupaya mengurus anaknya. Sang pengurus pesantren memanggil anak itu untuk bertemu dengan ibunya. Anak itu kemudian ke ruang tamu dengan memakai baju koko dan sebuah sarung berwarna cerah, sembari tersenyum penuh haru dan memeluk ibunya. Melihat anaknya yang kini sehat kembali secara fisik, namun masih seperti seorang anak kecil tak ayal kemudian ibunya pun terus menangis. Tapi tak ada yang dapat dilakukannya, tak ada lagi orang yang ia pikir dapat menolong anknya selain pesantren itu. Ibu itu perlahan melangkah keluar dari pintu pesantren dengan bersimbah air mata. Ia kemudian dengan berat hati meninggalkan anaknya di pesantren itu.

Di perjalanan pulang, ia terus berpikir “mengapa ini terjadi?”, “mengapa harus anaknya?”, “mengapa harus dirinya?”, namun ia tak kunjung menemukan jawabannya hingga kemudian ia mengingat kata iman yang pernah dia jadikan paling utama dalam hidupnya.
Bukankah kita tepat hadir di titik takdir yang akan selalu membawa pesan terbaik bagi mereka yang meyakininya?
Bukankah Dia lah yang merancang setiapdesain takdir makhluk tanpa sedikitpun celah kesalahan?
Bukankah kau yakin dengan kata “Qadarullah”?
Bukankah seharusnya yang hadir adalah sujud-sujud penuh harap kepadaNya untuk dapat membaca dan memahami pesanNya?
Bukankah semesta pun tak hidup dan bergerak di luar genggamanNya?

Memang hanya mimpi, dan kuharap itu memang tak kan berwujud di dunia sebagai selain sebuah entitas mimpi. Karena tak terbayangkan, untuk hidup tanpa hati yang menghimpun seluruh rasa percaya yang ada kepadaNya yang menggenggam dunia.