Adzan Maghrib Kenapa Sungguh Lama Sekali?

Sejatinya, saat siang vampir-vampir tidak tidur selama itu juga, tidak sampai dua belas jam. Wah, itu terlalu lama. Sebenarnya sama saja seperti manusia kebanyakan, ya cukup 6–8 jam lah supaya bagus untuk pertumbuhan dan kemampuan ingatan.

Aku sendiri tidur jam 6 pagi dan biasanya sudah bangun jam 1 siang. Masih ada lima jam lagi sampai maghrib ketika matahari benar-benar sudah tidak tampak. Tapi aku tak bisa serta merta keluar dari lemari bajuku, tempat tidurku selama ini. Kamar kosanku sangat terbuka dengan sinar matahari. Tak peduli seberapa banyak dan tebal karton yang kupakai untuk menutupi ventilasi, sinar matahari selalu masuk ke dalam kamarku. Ya, sinar matahari jam tiga selalu saja menerobos masuk dari jendela kamarku yang menghadap arah barat. Dari dalam lemari aku hanya bisa mengintip sinar cahaya keemasan yang menerangi seluruh dinding kamar, ‘Room of the Rising Sun’, aku menyebutnya. Sayang sekali, andai saja aku bisa keluar dari lemari ini dan menikmati sunbathing di dalam kamar sendiri.

Saat tulisan ini dibuat pun, aku masih meringkuk di lemari, menunggu maghrib. Adzan magrib selalu menjadi suara yang aku rindukan. Dari kosanku ini lantunan suara adzan bersahut-sahutan mulai dari masjid pojokan, musholla kecil seberang jalan, sampai masjid kampung sebelah. Terkurung sepanjang hari dalam lemari itu membuat pegal seluruh badan. Biasanya aku ikut shalat maghrib di masjid. Hei, gerakan shalat ternyata stretching yang baik loh. Teman-teman vampirku biasanya melakukan pemanasan yoga atau semacamnya yang lebih rumit, tapi aku lebih suka gerakan sholat, tiga rakaat pas. Ironis sebenarnya mengingat selama menjadi manusia aku terbilang jarang melakukan shalat, terlebih shalat maghrib yang rentang waktunya satu jam. Samalah dengan kebanyakan orang penghuni jakarta ini. Masjid tempat biasa aku shalat juga hanya satu shaf, kontras dengan jalan raya yang macetnya bisa bershaf-shaf.

Tapi sekarang masih jam tiga, kurang tiga jam lagi. Jika dipikir-pikir aku seperti anak SD yang menanti buka puasa, tiap jam rasanya lama sekali. Betul juga, selama jadi vampir aku kan selalu puasa, apakah ini bisa dihitung pahala?

Kalau sudah bangun jam segini maka aku biasanya menyetel lagu dari hapeku. Sayangnya aku selalu lupa untuk mendownload lagu-lagu baru. Di handphoneku hanya ada lima album dari The Sundays, Weezer, Pulp, Oasis, dan Dewa 19. Bosan, I’m dying listening to those songs in repeat. Sebenarnya, koleksi laguku lumayan banyak namun hilang bersama handphoneku dicuri di Pasar Minggu. Aku selalu meminta untuk mengcopy lagu dari Fajar, teman vampirku, tapi dia selalu lupa membawa laptopnya. Bukannya aku malas untuk membeli cd mp3 atau mendownload sendiri, tapi aku hanya suka musik rekomendasi dia. Aku sendiri tak tahu selera musikku apa. Aku punya kaset-kaset lama seperti The Sundays, Westlife, The Corrs itupun juga dari Fajar.

Saat ini aku sedang mendengarkan Different Class-nya Pulp. Kalau Oasis aku pernah dengar, tapi kalau Pulp ini kenapa dulu tidak pernah ada di radio ya? Kata Fajar, bagaimanapun Pulp ini band penting dalam skena british pop tahun 90-an. Orang-orang membicarakan Oasis atau Blur karena itu saja yang disiarkan di MTV Indonesia. Benar juga.

Sementara aku mengusir kebosananku dengan menulis dan mendengarkan Pulp, mungkin kamu bisa ikut mendengarkannya. Coba saja cari di youtube, atau kalau suka, boleh didownload albumnya di torrent. Lagu hitsnya di album ini judulnya Common People, tapi aku sih suka yang Disco 2000. Ini lagu singalong yang nuansanya jadul tahun 80-an. Liriknya klise tentang sebuah janji bertemu kembali sepasang muda mudi di tahun 2000, lagu ini sendiri dirilis tahun 1995. Selain itu, masih ada lagu lain yang enak didengar seperti Mis-shape atau Underwear. Aku suka Pulp mungkin karena suara vokalisnya dapat berpindah dengan cantik dari nada rendah serupa gumaman ke nada tinggi yang menyerempet ke falset minor. Tambahan musik-musik synth elektronik juga semakin menambah kaya album ini. Aku suka album ini, kuberi empat bintang dari lima, kamu silakan coba.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Toru’s story.