Air Putih

Ketika dokter memvonis bahwa aku mengidap hepatitis B, aku tersenyum sendiri dalam hati: kebetulan sekali. Ada sebuah kemungkinan bahwa aku akan mati karena sakit hati.

Dokter itu, yang kukira usianya masih cukup muda, mungkin belum mencapai empat puluhan, mungkin memiliki seorang istri dan seorang anak, dan mungkin tinggal di rumah cluster di pinggiran kota, berucap padaku dengan sorot mata penuh simpatik, “Virus Bapak Gio ini bisa dibilang belum aktif. Tentu jika tidak diobati dari sekarang, bisa berdampak buruk nantinya. Tapi Bapak tidak perlu takut, saya akan buatkan resepnya.”

Aku terlalu naif, tentu saja di dunia yang serba modern ini, apoteker-apoteker terbaik telah menemukan obat terhadap sakit hati. Ucapan dokter muda tadi sedikit menenangkanku. Mungkin aku bisa sembuh, mungkin aku tak perlu bunuh diri untuk mengakhiri penderitaan ini.

Siapa pula aku berhak menghakimi diri sendiri?

Aku tak sekeren Cobain. Sebuah aksi bunuh diri yang kulakukan tidak akan membawa keributan selain sebuah catatan kependudukan di kantor kelurahan. Cobain dan Nirvana-nya mampu menggebrak permusikan dunia sehingga ketika ia mati, seluruh orang menangis untuknya. Aku tidak sekeren itu, atau dengan kata yang lebih optimis, belum.

Mungkin aku bisa seperti Freddie Mercury. Ia superstar yang sakit mengenaskan setelah berjuang dengan penyakitnya. Tapi jalan yang dilaluinya sungguh panjang dan berjenjang.

Aku mendengarkan Bohemian Rhapsody pertama kali sambil menangis. Waktu itu aku masih SMP mau naik ke SMA, gejolak puber dan galau remaja sedang memuncaknya. Sesi piano ballad di bagian versenya membuatku membayangkan sebuah panggung opera yang kosong dan terabaikan. Sebuah piano di tengahnya dan seutas tali tergantung dari atas. Kau harus terus menyanyi atau kau boleh gantung diri. Sebuah bayangan yang abstrak, namun scene itu yang selalu berputar di kepalaku ketika Mercury syahdu menyanyikan lirik yang litih tersebut.

Lagu tersebut juga yang memancingku untuk berteriak keras-keras pada bagian riff gitar Brian May. Segala keresahan dan kemarahan khas anak muda tumpah di situ. Lirik ‘so you think you can stone me and spit in my eye’ ku-copy-paste ke status twitter dan facebook biar seluruh dunia maya bisa berbagi keresahan bersama. Pada waktu itu semua orang menuliskan lirik yang sentimentil, aku ikut dalam kecenderungan sosial yang ada. Ketika orang lain mendapat banyak comment dan likes karena lirik yang mereka copy paste adalah lirik yang pupuler alias romantis picisan, aku hanya mendapat lima likes dari lingkaran sosialku saja.

Di bagian akhir lagu, ketika nampaknya si tokoh bohemian yang dikarang Mercury sudah pasrah dan menyerah pada takdirnya, ‘nothing really matters to me’, aku mendapati simpati yang dalam terhadapnya. Saat itu aku belum bisa menjelaskan sebenarnya apa yang kurasakan. Baru setelah aku lebih banyak membaca, aku menyadari bahwa sekarang bahwa aku sama-sama terperangkap dalam nihilisme Nietzche. Kehidupan yang terlalu luas dengan segala pernak-perniknya namun sedikit yang bisa dicerna artinya. Setiap konsep adalah repetisi yang menjemukan. Jauh dalam keterasingan dan kesendirian yang dialami satu individu, seseorang dapat menciptakan suatu konsep yang ia yakini memberi arti. Tapi momen ketika ia kehilangan kepercayaannya terhadap konsep itu, ia mati langkah. Harapannya kandas dan tekadnya tandas. Jadilah ia manusia yang meyakini pada kekosongan, bahwa segala konsep yang ada hanya rekaan dan bualan.

Dokter muda itu berucap kembali, pikiranku kembali tertambat ke ruang praktek-nya yang sempit namun cukup nyaman, “Ini resep buat Bapak, tukarkan nanti di apotek. Pesan saya, jangan lakukan aktivitas yang terlalu melelahkan, tidak baik untuk kondisi hati Bapak. Jangan lupa juga untuk minum air putih yang banyak.”

Sekarang kalau sudah begini mau bagaimana lagi? Aku meminum obat dengan teratur, menjalani hidup dengan aman tanpa godaan sosial media, pertemanan, dan rasa cinta yang berlebihan. Aku berusaha menjaga hatiku dari segala aktivitas yang melelahkan seperti yang disarankan dokter muda tersebut. Aku sudah membuat daftar yang harus kuhindari: iri, dengki, gosip, mengingat masa lalu, mencemaskan masa depan, terlalu menaruh harapan, melihat keberhasilan lawan, membuat lawan, menanggapi kritikan, membuat perdebatan, terlibat dalam cinta segitiga, memberi kasih sayang, dan lain-lainnya. Sebagai gantinya mulai sekarang aku rajin minum air putih.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Toru’s story.