Fake Plastic Dreams

Mungkin sekalipun tubuhku tersusun dari debu dan racun, aku akan tetap memiliki mimpi. Mimpi yang bagi sebagian besar orang dijadikan ambisi, alat pemacu diri, dan pegangan motivasi, bagiku hanyalah seutas entitas untuk tidak didiskriminasi oleh orang-orang yang mengaku punya mimpi. Maka dari itu, mimpiku adalah mimpi setipis-tipisnya mimpi, tanpa landasan untuk dikonkretkan dan lantas sekadar basa-basi, tapi bagaimanapun juga aku punya mimpi. Mimpiku adalah bisa manggung di Glastonbury. Hei, bukannya kamu yang menyadarkanku untuk mempunyai mimpi.

Kita mungkin hanya menjadi band biasa, nongkrong di kamar kosan, studio, pinggir jalan, atau sudut-sudut taman tanpa tujuan, sembari mendengarkan lagu-lagu yang sudah tenar dan mengulik untuk dibuat cover versionnya. Jika ada yang menawarkan panggung pun tidak jauh dari pentas seni SMA, panggung dies himpunan kampus, sampai konser tujuh belasan, dan hanya ditonton kurang dari lima puluh orang dan diliput media lokal, tingkat kampus. Aku makin skeptikal. Band ini, yang dibentuk pada awalnya karena kejenuhan dan kespontanan khas pemuda tanggung dua puluhan, bahkan tak akan mampu merayakan ulang tahunnya yang pertama. Di level skena musik perkampusan kami sudah kalah dari band-band amatiran lainnya, selalu ditaruh di setlist pertama ketika orang-orang belum sampai ke venue dan bahkan panitia masih sibuk makan.

“Gi, at least lima tahun dari sekarang kita harus bisa manggung di Glastonbury,” kamu berkata sabtu itu, di lintasan lari sasana olahraga sehabis kita menuntaskan lima putaran dengan napas ngos-ngosan dan keringat yang membanjir jatuh ke tanah liat. Bahkan ucapanmu masih lebih subtil dibanding petir di siang bolong, ku pikir kamu hanya menggumam capek dan tidak jelas. Tapi toh aku menanggapi juga dengan “hah?”

“KIta juga harus punya mimpi, Gi, buat band kita, biar gak kalah sama band-band lainnya”.

Saat itu aku tidak menyadari dengan siapa aku bicara, kupikir apa yang kamu ucapkan sudah semacam delusion of grandeur yang tak akan mungkin terwujud. Buat apa punya mimpi gila dan tak wajar, tidak konkret, tidak disusun dalam kerangka sistematis karena tujuannya saja tidak terjangkau oleh kapabilitas dan kompetensi? Sungguh tidak visioner alias mustahil. Punya mimpi hanya sekadar ingin punya tanpa dipertimbangkan masak-masak goal yang ingin dicapai. Tidak diturunkan ke misi, tidak dirumuskan SWOT-nya dan mustahil dibuatkan program kerjanya. Seketika aku ingin menyanggah dengan berbagai sanggahan atas mimpi gila yang barusan kamu ucapkan, tapi kamu langsung menambahkan,

“Tunggu dulu, gue udah tau lu mau nyanggah apa.”

Aku terdiam menyimak.

“Gi, gue udah tau ini band mungkin bakal bubar 3 bulan, 2 bulan lagi. Besok juga udah bisa bubar. Lu liat di tengah pergaulan anak muda sekarang di mana semuanya merasa bangga dan pamer karena punya mimpi. Lu buka path, instagram, facebook, papan mading sekolah, semua orang lagi promosi mimpi. Gue liat Gendud, Jared, Kiwil, bahkan lu juga, manusia-manusia yang sebenarnya punya bakat tapi gatau ke mana. Kita udah gak bisa pegang prinsip let it go with the flow lagi, Gi. Jaman udah berubah, gadget yang di tangan lu yang bikin nambah parah. Mimpi ini, bagi gue, jadi tameng biar kita gak didiskriminasi sama mereka yang punya mimpi segudang.

“Na,lu tuh cuma iri, sirik, skeptik, dan gak seneng sama kesenangan orang”

“Emang lu enggak?”

Aku melongo.

***

Jadi kami mengukir mimpi Glastonbury menjadi apa yang kalian sebut sebagai visi, goal, tujuan, motto,semangat, dan motivasi. Kami menggumamkan Glastonbury di sela doa sebelum kata amin saat mau manggung dan rehearsal. Kami mendesain logo bertuliskan “Glastonbury” dan mencetaknya dalam sablon kaos, tempelan stiker di gitar, avatar twitter dan facebook, dan poster di kamar kosan masing-masing. Kami terlihat seperti seorang high achiever, punya cita-cita tinggi dan mimpi setinggi gunung. Tak jarang kami menertawakan ketololan kami, tapi lebih sering lagi menertawakan ketololan mereka. Seperti melihat etalase di mall-mall yang senantiasa berusaha menampilkan segala yang serba cantik mewah, tapi plastik. Sementara kami, bangga berlindung dalam keplastikan diri sendiri.