Gila Stroberi

“Gue jelek, bodo amat, soalnya lu juga..”

Cobain pasti mengonsumsi mushroom saat membuat Lithium. Semua musik dan lirik giting pasti diciptakan dalam pengaruh mushroom. Kevin Parker pasti juga, atau minimal sutradara videoklipnya, walhasil Feels Like We Only Go Backwards dibuat berpusing-pusing seperti itu. Tapi satu hal yang pasti, Matt Bellamy memang mabok saat membuat Plug In Baby. Toh, saat live dia juga masih bisa memainkan riff­-nya sambil guling-guling jungkir balik di Glastonbury.

Lantas, apa jamur kamar mandi ini juga bisa memabukkan juga? Mungkin aku bisa menghasilkan mahakarya. Aku harus gila untuk membuat sesuatu yang tidak biasa, supaya diganjar penghargaan 150 album terbaik Indonesia versi Majalah Rolling Stone. Musik-musik yang aku ciptakan masih kacangan semua. Alih-alih ingin menyamai Billboard chart, masih kualitas tangga lagu Dahsyat. Bahkan sekelas MTV Ampuh pun belum.

Tapi aku jadi teringat dulu chart MTV Ampuh memang did something to my musical experience. Rasanya tiap minggu selalu deg-degan apakah Padi dengan Kasih Tak Sampai-nya masih bertahan di peringkat satu. Selang beberapa periode giliran Sheila on 7 yang mendominasi dengan Pejantan Tangguh. Sampai akhirnya sebelum negara api menyerang dan mempora-porandakan peta musik Indonesia, aku masih sempat melihat Peterpan dengan semua single dari album Bintang di Surga yang gonta-ganti jadi peringkat satu. Mulai dari Ada Apa Denganmu sampai Khayalan Tingkat Tinggi, semuanya sama: videoklipnya selalu menampilkan Ariel gonta-ganti berpasangan dengan model-model cantik. Aku sama sekali tak tertarik untuk membahas kisah cinta vokalis pujaan sejuta wanita ini, tapi sesungguhnya Ariel inilah si Pangeran Zukho yang mengubah wajah permusikan Indonesia. Vokalis-vokalis muda pendatang baru ingusan berlomba-lomba memberatkan suaranya supaya minimal terdengar sama dengan Ariel. Sayang, ya, bagaimanapun tiruan tak akan bisa secemerlang aslinya. Ariel tetap terdepan dalam masalah permusikan maupun peranjangan (sudah kubilang aku tak ingin menyinggung masalah ini, tapi apa daya cap itu selalu melekat).

Tapi jujur, aku juga sempat mendengarkan album Bintang di Surga itu utuh, diulang berkali-kali sampai jenuh. Aku punya kasetnya yang selalu kuputar di radio boombox hadiah karena berani disunat. Aku agak malu menceritakan hal ini padamu, tapi tak apalah, agar kamu tahu. Kamu kan juga pernah sekali dua kali kan memainkan lagu mereka? Minimal semua gitaris pemula yang muncul di generasi 2000-an pernah memainkan Semua Tentang Kita untuk menyetem gitarnya.

Huft, tapi untungnya kaset itu cepat rusak, entah karena memang gosip-gosip proses rekamannya yang horor atau entah karena aku terlalu sering memutarnya, sehingga aku pun tidak terjerumus terlalu jauh dan masih berada di track yang tepat untuk membentuk band rock progresif alternatif eksperimentalis. Aku beruntung dan sangat berterima kasih kepada Kiwil karena dikenalkan kepada Radiohead dan kawan-kawan british­-nya. Aku berterima kasih kepada Jared yang sudah mengajariku gitar pertama kali dengan membawakan lagu Creep. “Dulu pas awal-awal lu belajar, lu creep banget, Gi. Sekarang Jhonny Greenwood juga mau duet sama lu gantiin Ed O’Brien.” Itu satu-satunya pujian Jared yang aku tulis di belakang body gitar pertamaku sebagai cambuk motivasi, agar aku tidak kembali ke zaman jahiliyyah bermain gitar di mana memainkan kord gantung B minor rasanya tangan sulit sekali dan sekali genjreng sudah kapalan.

Namun sekarang aku sudah memasuki fase di mana semua jenis kord sudah kumainkan namun tak kutemukan suatu kombinasi harmoni apapun yang pantas untuk menjadi suatu materi lagu.

Si Gendud sudah kusuruh untuk mencari jamur di manapun jamur itu dijual. Gendud paling jago soal makan dan makanan selain menggebuk drum. Kalau menggebuk drum dengan perut kenyang, kehebatannya berlipat ganda. Tapi sayangnya otaknya di dengkul, sehingga ia lebih jago memainkan double pedal dibanding memikir yang serius. Dia membelikanku jamur sop, dijual di Superindo Dago dengan harga diskon. Lalu dia masak sendiri, ia makan sendiri, dan main drum sendiri.

Akhirnya, harapan satu-satunya tinggal jamur di kamar mandi ini. Aku tak tahu apakah ini beracun atau tidak. Toh kalau memang beracun, aku nothing to lose, bagiku hidup ini sudah tidak berarti jika aku tidak bisa mencipta lagu yang paling pantas untuk membuatmu berpaling kembali padaku.

Tapi, rasanya sekalipun jamur ini memabukkan, ini tak akan cukup untuk membuatku mabuk. Kiwil pernah menawariku arak Bali. Kuminum seteguk, dua teguk, hingga sebotol, aku masih tetap waras. Di sampingku, Kiwil sudah terkapar di atas karpet. Omongannya tidak jelas. Tak henti-hentinya dia mengigau soal melodi, nabila, kinal, dan member-member lainnya sampai 48 kali. Ingatannya luar biasa untuk orang yang sedang mabuk. Tapi bagaimanapun juga, aku masih kebal.

Mungkin bukan jamur, ya, tapi stroberi. Aku tiba-tiba jadi ingat akan stroberi. Bandung saat itu sedang panas-panasnya. Kita, maksudku dengan kita adalah menyertakan Kiwil, Jared, dan Gendud juga, sedang ngumpul di kosanku untuk membicarakan materi lagu baru. Di saat itulah kamu membawa stroberi. Satu kotak penuh segar baru keluar dari kulkas.

“Nyokap gue baru dari Bogor, nih, dibawain stroberi,” Kamu menawarkan pada kita semua.

Oh, apakah di Bogor ada yang jual stroberi? Pasti ada ya, kan di sana ada asinan juga. Tapi aku tak peduli, kenapa ya, kalau perempuan itu terlihaat paling manis ketika memberikan makanan, entah itu buatan sendiri atau buah tangan. Sudah kodratnya mungkin, sejak Hawa menawarkan apel kepada Adam. Suatu godaan tak tertahankan.

Aku tak akan pernah melupakannya, karena saat kamu mencuci stroberi itu di washtafel sebelum membagikan kepada kita-kita, aku mendengarmu bersiul “Let me take you down, cause I’m going to strawberry field.” Tentu hanya terdengar nadanya, kutuliskan liriknya agar mudah dibayangkan saja. Ya ampun, momen ketika kau menyanyikan No Surprises saja aku tak lupa, kurekam baik-baik dan kusimpan dalam kotak baja memori otakku yang terbatas. Ini momen berharga yang tak kalah ketika kamu menyanyi. Bersiul! Hanya siulan saja sudah cukup membuatku mabuk. Aku mabuk stroberi pada saat itu juga. Pikiranku langsung bekerja. Kau ingat, kan, demo lagu “Red Roses” yang sempat kutunjukkan kepadamu namun liriknya belum tuntas dan bagian riffnya belum rampung? Itu terinspirasi dari kisah ini. Dulu aku agak malu untuk menceritakannya, tapi sekarang rasanya sudah tak ada artinya lagi.

Sekarang, ketika kamu sudah pergi. Di manakah kamu sekarang ini? Di kebun stroberi-kah? Ya, ya, tak usah dibilang dua kali lagi, kau pasti sedang berada dengan dia.