Maurisius Si Kepala Batu

Aku bosan mendengar musik melulu, terlebih mendengarkan Radiohead yang diskografinya sudah kuputar berulang-ulang sembari mengeluh kapan album barunya akan keluar. Aku butuh sebuah hobi baru. Maka aku membaca, hm, sebuah cerpen? Dulu aku pernah membaca sebuah cerpen yang kupikir bagus meski sedikit aneh. Kau pernah membacanya? Judulnya Maurisius Si Kepala Batu dikarang oleh Han Diparaja. Kau tidak pernah dengar? Aku membacanya di internet beberapa waktu lalu. Baiklah akan kuceritakan padamu. Agak panjang, mungkin kau akan bosan, mungkin halaman-halaman facebook dan serangkaian post di akun instagram-mu lebih menarik untuk diperhatikan. Cerpen ini mungkin memakan waktu 10 menit, kamu pasti tidak ingin kelewatan post di akun path atau bahkan snapchat-mu. Maafkan mungkin aku mengganggu kehidupan sosialmu, kan aku hanya berbagi cerita.

Ngomong-ngomong, bagaimana kamu sebut itu kehidupan sosial? Kembali ke bangku SD dulu, di pelajaran PPKn aku memahami kehidupan sosial sebagai interaksi antarmanusia demi menjalin suatu ikatan atau mencapai tujuan tertentu. Ambilah contoh misalnya gotong royong, kerja bakti, atau musyawarah. (Aku suka sekali kata-kata ini karena sungguh mengandung aura positif dan kebaikan. Jika ada soal di mana harus memilih salah satu tindakan yang mencerminkan kebajikan dan ada kata-kata itu di antara pilihan jawaban, pasti akan langsung kujawab. Ya sejujurnya aku sungguh rindu dengan bangku SD, terkadang begitu polos dan tanpa intrik. Tak ada problema yang rumit dan mengganggu ketenangan hidup seperti sekarang ini yang kualami. Satu-satunya kekhawatiranku zaman SD mungkin hanya memikirkan bagaimana caranya buang air besar di WC murid tanpa ketahuan teman-teman).

Aku melantur terlalu jauh dan parahnya lagi aku salah. Aktivitas yang kamu lakukan adalah kehidupan sosial media atau media sosial menurut EYD yang tepat. Ada perbedaan yang cukup tajam di antara keduanya. Sayang aku tidak mempelajari itu di bangku SD dulu, ya, karena memang tidak diajarkan. Apakah sekarang diajarkan? Mungkin anak-anak SD membawa gadget masing-masing untuk praktik langsung di kelas.

Aku sungguh melantur terlalu jauh.

Bukankah tadi aku berniat menceritakanmu cerpen Maurisius Si Kepala Batu? Ya, sabarlah sedikit, aku akan membuka blog yang memuat cerpen itu dan meng-copy-paste-kannya ke tulisanku ini. Tidak akan makan waktu lama tapi pasti kamu sudah merasa tidak sabar. (Menarik sekali fitur copy paste ini diciptakan dalam teknologi komputer sekarang. Ini semudah membeo perkataan orang, semudah melatahkan kata-kata orang lain. Aku bisa meng-copy-paste-kan suatu karya tulisan milik seseorang ke dalam tulisanku. Kusunting sedikit dan kutambah opini pribadi sana-sini, jadilah suatu karya tulis yang baru).

Menarik melihat bahwa sumbu kesabaran manusia makin memendek dari waktu ke waktu. Kalau beberapa dekade lalu, orang bisa menunggu berminggu-minggu demi menerima balasan surat dari orang yang dipuja. Sedangkan jaman sekarang, ah silakan lanjutkan sendiri contoh-contoh lainnya, kamu kan tidak bisa bersabar dan maunya straight to the point.

Apa aku benar membuatmu tidak bersabar?

Tunggulah sebentar karena tiba-tiba koneksi internetku mati. Jangan kesal dulu karena kamu pun bisa pergi dari halaman ini kapanpun kamu mau. Tapi kamu tahu kan kesalnya jika koneksi internet tiba-tiba mati? Kembali ke SD lagi, dulu hal yang membuatku kesal adalah jika tidak ada makanan di rumah sehabis pulang sekolah. Bapak dan Ibu selalu bekerja dan kadang tak sempat membuat makan siang. Aku tak punya pembantu. Terkadang terselip tulisan di kulkas, ‘Dek, Ibu gak sempet masak, kamu beli sendiri ya, uangnya ada di atas kulkas’. Karena kesal bercampur lelah dan malas, aku mengganti makan siangku dengan tidur siang. Tidur yang cukup panjang hingga maghrib nanti Bapak dan Ibu pulang membawa makanan.

Mungkin koneksi internet sudah jadi kebutuhan primer manusia ya? Lagi-lagi mari kembali ke bangku SD lagi untuk mengambil contoh kasus. Ketika itu aku dipusingkan dengan pertanyaan di manakah seharusnya mengelompokkan televisi sebagai kebutuhan manusia? Apakah termasuk kebutuhan primer atau sekunder? Seingat buku yang aku baca, kebutuhan primer itu hanya sandang, pangan, papan, maka televisi masuk kebutuhan sekunder. Tapi guruku yang agak nyentrik, galak, dan idealis berpendapat bahwa televisi adalah kebutuhan primer. Coba pikirkan lagi apakah ada keluarga yang tidak memiliki televisi. Semua orang di kota pasti punya dan begitu juga di desa. Apa kamu pernah berkunjung ke rumah yang tidak memiliki televisi? Kalau dipikir-pikir, perkataan guruku benar juga tapi bisa dibantah. Aku bisa saja mengambil contoh bahwa suku pedalaman di Papua atau Kalimantan sana pasti tidak punya televisi bahkan listrik saja tidak masuk ke daerahnya (bagaimanapun rasio elektrifikasi di Indonesia tidak 100 persen, jadi pasti ada daerah pedalaman sana yang tidak terjamah listrik bahkan televisi). Tapi sebagai murid yang baik alias penurut alias penakut terhadap orang yang lebih tua dan berkuasa, aku mengangguk-angguk setuju kepada pendapat guruku dan membetulkan jawabanku.

Kembali ke masa sekarang, jika bertemu si guru itu aku akan menggugat dia untuk merevisi jawabannya waktu SD dulu. Mana mungkin televisi menjadi kebutuhan primer? Aku bahkan sudah tidak menonton televisi selama empat tahun. Sekarang aku lebih tidak dapat hidup sehari tanpa koneksi internet, tanpa wifi! Wifi-lah yang harusnya naik derajat menjadi kebutuhan primer. Dan mungkin jika memungkinkan, aku pun akan menggugat Damon Albarn karena liriknya ‘just give me coffee and tv…’ sudah tidak relevan. Gantilah judulnya dengan ‘Coffee and Wifi’. Yah, apa boleh buat, tidak usah diganti pun tidak apa. Tidak perlu dipaksakan untuk menyesuaikan kebutuhan zaman. Musik kan sudah berhenti di tahun 90’an, katanya.

Aku meminta maaf rasanya aku tak mungkin membagi cerita Maurisius Si Kepala Batu itu hari ini karena sekarang tak hanya koneksi internetku yang mati tapi listriknya juga. Sebentar lagi baterai laptopku akan mati. Mungkin saat ini tetangga mulai mengeluhkan dan menyalahkan PLN sebagai biang kerok yang harus disalahkan tiap terjadi pemadaman. Huh, salah sendiri bisnis listrik kok dimonopoli. Kalau tidak kan tetangga bisa menyalahkan PDN lah, PGN lah, PSM lah, MLM lah.. Tapi kan bagaimanapun sesuai undang-undang dasar, kekayaan alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus dikuasai negara, jadi ya sah-sah saja keberadaan PLN sebagai otoritas satu-satunya.

Aku jadi kangen dengan Pancasila yang terakhir kulafalkan saat upacara SMA. Empat tahun di bangku kuliah aku tak pernah menyentuh Pancasila, wajar sana nanti kalau bekerja malah mengkhianati negara. Melakukan tindak korupsi, misalnya. Hei siapa bilang hanya dengan mempelajari Pancasila maka korupsi dapat dihilangkan selamanya? Salahkanlah mental warga negaranya yang sudah bobrok warisan perilaku korup dari zaman pemerintahan kompeni Belanda. Tapi bahkan kompeni Belanda tidak sepenuhnya salah. Salahkanlah sistem kerajaan-kerajaan Jawa yang menghamba pada sistem feodal dan penghormatan hanya berdasarkan keturunan dan jabatan, yang membina tumbuh lestarinya jiwa-jiwa kerdil nan culas yang maunya memperkaya hidup sendiri tanpa menghiraukan orang yang berjingkat-jingkat di bawah kakinya. Salahkanlah,… (sudah jangan diteruskan karena aku tahu nantinya aku akan menggugat yang tidak mungkin disalahkan).

Bateraiku tinggal lima persen dan sudah ada peringatan untuk segera mengisinya ulang atau menghubungkannya ke sumber daya lain (ah, susah sekali menerjemahkan plug in or connect to another power source). Aku mungkin akan membagikan cerita Maurisius Si Kepala Batu di lain hari. Tapi kau terlanjur membaca entri ini, aku sungguh bersalah membuat waktumu terbuang percuma. Bagaimana jika aku menceritakan spoiler-nya saja? Aku tahu mungkin kamu tak akan menyukai spoiler, lagipula siapa di dunia ini yang menyukai jika akhir suatu cerita dibeberkan dengan tidak bertanggung jawab. Tentunya akan mengganggu kekhusyukan dalam mengikuti plot cerita. Tapi kenapa kamu membenci spoiler karena bahkan spoiler ini diajarkan oleh Tuhan? Tuhan memberikan spoiler akhir cerita kehidupan ini dalam berbagai literatur, begitu jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya. Hanya sayang, ada berbagai macam revisi yang oleh sebagian kelompok orang diakui sebagai paling akurat sehingga berkembang menjadi berbagai versi. Versi-versi ini yang membingungkan karena semuanya logis dan sesuai dengan jalan cerita yang sekarang kita alami. Semuanya mengaku memiliki bukti. Yang tadinya sudah di-spoiler malah berkembang menjadi cerita-cerita lain yang justru memusingkan akhir cerita asli itu sendiri. Sebagian tanpa bertanggung jawab mengarang sendiri spoiler menurutnya sendiri, hanya menambah-nambah ragam versi yang tak kunjung ditengarai jalan tengahnya. Sebagian lagi dan yang kukira sebagian besar dari kita-kita ini, memilih untuk menutup rapat telinga dan mata dari segala bentuk spoiler dan fokus menikmati jalan cerita alias just enjoy the movie.

Karena itu tidak salah kan jika aku memberikan spoiler saja alih-alih harus menceritakan ulang cerpen Maurisius Si Kepala Batu kepadamu? Percayalah, meski kau sudah tahu akhir ceritanya sekarang kau masih bisa menikmati jalan cerita itu nantinya. Seperti halnya jika aku memberi tahu bahwa di film Fight Club si tokoh utamanya mengidap skizofrenia dan semua interaksinya dengan Brad Pitt si Tyler Durden hanyalah khayalan alias delusi semata. (Ups, aku memberikan spoiler. Tapi ya ampun, masa kamu belum pernah menonton Fight Club?). Ataupun Spoiler yang tidak terasa seperti spoiler karena memang menjadi rahasia umum lainnya seperti bahwa Darth Vader adalah bapaknya Luke Skywalker di Star Wars. Tentu kamu sudah tahu kan? Namun, tetap saja itu tetap tidak mengurangi kenikmatan dalam menonton drama luar angkasa terbaik sepanjang masa (ya, setelah 2001: A Space Odyssey, tentunya).

Maka dari itu, sebelum bateraiku habis, maka akan kuberi tahu padamu bahwa sebenarnya Marius Si Kepala Batu adalah