Saija dan Adinda

Suatu hari aku akan menaklukkan jawa. Lereng dan lembah hijau atau gersangnya. Kuturuti garis jalan raya pos sebagaimana pramoedya terlebih dahulu mengurutkannya.

Aku tidak suka berbicara kesenangan dan kemewahan. Bahasaku adalah kesengsaraan sebagaimana saija dan adinda mengubur kisah kasihnya di liang tanah jajahan.

Ketika masanya tiba dan semua muka di hadapan adalah sama, kita boleh sama-sama memiliki jawa. Dari anyer sampai panarukan, terlintas eloknya priangan dan sibuknya tuban. Baik batavia maupun surabaya, kota-kota mengisi sebagai rumah ataupun penjara. Kita boleh miskin dalam materi tapi tidak dalam hati.

Kulitku dan kulitmu adalah kulit jawa, dirajut pakaian petani dari keringat dan darah. Mataku dan matamu adalah mata jawa, sudah biasa menjadi saksi akan derita.