Siklus Uang

Anggaplah kita ini semiskin-miskinnya manusia yang jangankan berharap bisa eksis di media sosial, eksis di kehidupan nyata saja susah. Hidup kita di catatan sipil negara dikategorikan dalam kelompok menengah miskin ke bawah yang setiap tahun membebani anggaran pemerintahan dalam subsidi BBM, listrik, dan beras. Takdir menempatkan kita hidup berkalang rumput, bertetangga dengan ilalang persawahan kering kerontang yang di musim hujan justru tergerus banjir bandang. Sama-sama makan nasi tapi dengan lauk pauk yang hanya ada seminggu sekali, kita terdidik dalam suatu komunitas yang tak peduli dengan etika dan dikungkung keterbelakangan. Pemerintah terlalu sibuk mengawasi ibukota, kita terlupakan di sepanjang pantura.

Siang yang begitu terik saat musim mudik lebaran tiba. Kita melihat produk-produk kemewahan ibukota melintas sepanjang jalur pantai utara. Produk-produk yang sebenarnya berasal dari tangan-tangan kita juga. Produk kerajinan buruh-buruh pabrik yang dibayar murah, yang disulap dengan serangkaian iklan di televisi dan internet sehingga harganya menjulang dan menjadi produk mewah. Produk-produk konsumerisme itu ikut pulang kampung juga bersama para majikannya. Lumayan untuk sesi pameran di lingkup keluarga besar: mobil baru tujuh penumpang, jam tangan imitasi merek internasional, gelang kalung berlian, dan tentunya baju baru lebaran. Sebuah pasar dadakan.

Begitu sepanjang tahun sepanjang hari sepanjang bulan, jalur pantura menjadi arus barang dari desa ke kota tiada habisnya tanpa kita mampu merasakan kecipratan kemewahannya. Setiap mudik tiba, di arus transportasi kemacetan mobil-mobil jakarta yang mudik sepanjang jalan pantura, kita mengemis kembali barang-barang dulu yang pernah kita produksi.

Kita pun bermimpi untuk ikut ke ibukota tetapi buru-buru mengurungkan diri dengan kenyataan bahwa hidup tak selamanya bersikap baik dan ramah. Kota yang panas dan sempit sesak, berbeda dengan desa yang antara manusianya masih bisa terpisah sawah sepetak. Saling sikut-menyikut seperti sudah tidak ada ruang.

Ah, andai saja mendaftarkan anak ke sekolah sama mudah gratisnya seperti mendaftar akun di Facebook. Kita pasti sudah menyekolahkan anak-anak kita dengan pendidikan terbaik supaya tidak kalah bersaing nanti di kota. Pendidikan terbaik sehingga tidak hanya mampu menghasilkan uang yang halal tetapi juga mampu mengelola kekayaan dengan arif bijaksana sesuai sila kelima Pancasila: keadilan sosial dan pemerataan kekayaan supaya harta tidak ditumpuk di satu sisi saja. Karena seperti air dan udara, uang pun mengikuti siklus alam, harus mengalir dari yang tinggi ke rendah.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.