Aku Meriang

Pagi tadi aku salah tidur

Leherku keseleo, tulangnya jadi liat

Akhirnya kujadikan guci tiruan dari negeri Panda sana

Kupikir, ”kalo bisa jadi duit, kenapa tidak?”

Uang hasil jualannya kutawarkan ke keluarga kekasihku

Sebagai mas kawin, tentunya

Namun ayahnya berkilah,

“Nak, dia sudah lama menikah. Kamu telat.”

Karena tak terima, aku akhirnya menggelinding pergi dari rumahnya

Kecewa campur malu, aku kesandung batu di jalan menuju gang sebelah

“batu sialan!”, umpatku

“bedebah, berani kali kau injak aku!”, balasnya

Lalu aku kelahi dengan batu itu

Dengan sigap kulempar ia ke pohon mangga dekat situ

Pemiliknya marah, namun kutuduh batu itu,

“dia pelakunya, dia pelakunya!”

Setelah kubantu pemilik pohon menggebuki batu itu

Aku melangkah pergi, lalu aku kembali ke warteg langgananku

Si Mbok lalu menghardik,

“eh, hutang kamu dari tahun kemarin mana? keterlaluan kamu ini!”

Dengan berat hati kuserahkan uang itu padanya

Lalu aku pergi, tak ada duit untuk makan

Akhirnya aku hanya duduk merenung

Sembari mencari arti dari senyum si Kunti berbadan tiga itu