Lalu Ada Pelangi

Ari Putra Anugrah
Jul 30, 2017 · 1 min read

Sesekali di kala aku lupa menganga karena hutang-hutang yang kelewat dalam kugali di warung tegal, engkau akan datang menertawakan betapa sialnya aku yang masih saja bertanya apa ruang hati di dalam dompetnya itu benar-benar ada.

“Lalu apa?”, katamu sembari mencomot tempe mendoan si mbok yang masih mengepul dengan segala sisa-sisa minyak sawit hasil bakar kebun di Riau sana.

Aku kesambet kaget seketika mendoan itu kau cumbu dengan lombok hijau yang kebetulan mesti kelahi dulu dengan si mbok karena menggoda kantong si mbok dengan binalnya.

Tak ada yang kupikirkan secara spesifik, jujur. Akhirnya kujawab sekena-kenanya.

“Lalu ada pelangi”, kataku.

Ari Putra Anugrah

Written by

Wandering Wordsmith | International Relations Student | History and Pop-Culture Enthusiast | Barely a Quasi-photographer

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade