Lalu Ada Pelangi
Jul 30, 2017 · 1 min read
Sesekali di kala aku lupa menganga karena hutang-hutang yang kelewat dalam kugali di warung tegal, engkau akan datang menertawakan betapa sialnya aku yang masih saja bertanya apa ruang hati di dalam dompetnya itu benar-benar ada.
“Lalu apa?”, katamu sembari mencomot tempe mendoan si mbok yang masih mengepul dengan segala sisa-sisa minyak sawit hasil bakar kebun di Riau sana.
Aku kesambet kaget seketika mendoan itu kau cumbu dengan lombok hijau yang kebetulan mesti kelahi dulu dengan si mbok karena menggoda kantong si mbok dengan binalnya.
Tak ada yang kupikirkan secara spesifik, jujur. Akhirnya kujawab sekena-kenanya.
“Lalu ada pelangi”, kataku.
