Menjiwa

Aku menyusuri memoriku
Dalam nuansa noir
Sekedar melihat kembali
Cuma mengunjungi lagi

Aku melihat jiwaku sendiri, sebuah keberadaan mikroskopis,
Ditimbuni abu dari jembatan-jembatan yang pernah kubakar
Yang kubiarkan terbakar
Hingga dalam duniaku hanya ada abu

Kusapu tumpukan abu yang sudah lama hinggap di bahuku
Mataku berteriak lelah, menggumam letih
Sejauh pandanganku hanya ada reruntuhan istana hati
Dan aku disana, berkelana

Bertelanjang kaki menyusuri kota mati
Yang tertutup abu, abu, dan kelabu
Yang ditiup waktu, waktu yang mewaktu
Yang telah lalu, lalu yang berlalu

Like what you read? Give Ari Putra Anugrah a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.