Tukang Sampah atau Pembersih Sampah atau …?

by Chairul Ichsan (12214052)

Sampah, mendengar kata tersebut terbayang oleh kita akan barang-barang yang kotor, baunya yang menyengat, barang yang membusuk, barang yang dibuang karena sudah tidak bermanfaat lagi bagi pemiliknya. Namun tidak dapat dipungkiri, sampah memang sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari, hasil dari proses kehidupan kita. Saat ini kita dapat melihat, tidak sedikit sampah berserakan di jalanan, di selokan, di rerumputan, dan tidak pada tempat sampah akibat kemalasan kita untuk membuang sampah pada tempatnya. Sekalipun sampah sudah dibuang pada tempatnya, sampah-sampah yang menumpuk tersebut tentunya dapat berdampak negatif terhadap diri kita. Dan karena itulah dia hadir sebagai penyelamat kita, seseorang yang biasa kita sebut ‘Tukang sampah’.

Namanya Pak Odi, beliau merupakan ‘Tukang sampah’ yang bekerja di sekitaran daerah Jalan Kandis, Pekanbaru. Beliau sudah berkeluarga dan memiliki tiga orang anak. Anak-anaknya masih duduk dibangku sekolah dasar dan menengah. 11 tahun sudah pekerjaan ini beliau tekuni, mampir dari satu rumah ke rumah lain untuk mengambil sampah dan mengangkutnya ke tempat pembuangan sampah. Banyak pengalaman telah dialami Pak Odi selama menjadi ‘Tukang sampah’. Mulai dari warga yang tidak puas dengan pekerjaanya karena keterbatasan kemampuan beliau yang terkadang menyebabkan beberapa hari sampah belum juga di angkut sehingga menyebabkan tumpukan sampah di depan rumah mereka, Belum lagi sampah-sampah yang berserakan di jalanan yang harus beliau kumpulkan dalam perjalanannya. Tapi tetap, beliau dengan sabar mendengarkan komentar-komentar dari warga, menjalani pekerjaan ini dengan tulus karena tidak ada pekerjaan lain yang dapat beliau lakukan, demi menghidupi istri dan anak-anaknya yang masih sekolah, yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Begitu, bahkan secara tidak langsung, bapak yang biasa kita disebut ‘Tukang sampah’ seperti Pak Odi ini adalah pahlawan bagi warga. Bayangkan saja saat kita yang hanya sesekali melewati tumpukan sampah yang baunya sungguh menyengat dan seketika mengganggu indera pernafasan kita, bau sampah ini sudah menjadi nafas kehidupannya sehari-hari. Ditambah lagi ancaman penyakit dari sampah yang mereka angkut. Apalagi beliau tidak menggunakan perlengkapan yang memadai seperti masker, sepatu boot serta sarung tangan saat mengangkut sampah karena keterbatasan fasilitas yang ada. Perlengkapannya sehari-hari hanya sebuah gerobak sampah, baju sehari-hari yang kotor dan lusuh serta sendal jepit setiap ia berkeliling mengangkut sampah. Andai tidak ada ‘Tukang sampah’ bisa-bisa banyak keluarga yang terkena penyakit dan terganggu kesehatannya. Maka mungkin mereka juga patut disebut pahlawan tanpa tanda jasa.

Mari kita lihat disekeliling kita sejenak. Sudahkah lingkungan kita bersih ? Jika bersih, mungkin karena perilaku masyarakat di sekitar kita sudah ‘cerdas’ terhadap sampah, atau karena kegigihan dari ‘Tukang Sampah’ yang secara status sosial merupakan masyarakat menengah kebawah ini ? Lantas apa yang sebenarnya bisa kita lakukan kepada ‘Tukang Sampah’ ? Mari kita mulai dari diri kita, setidaknya membuang sampah pada tempatnya. Lebih baik lagi jika kita mulai juga dengan memilah sampah. Pernahkah terbayang oleh kita bahwa memilah sampah itu sangat membantu dan membahagiakan ‘Tukang Sampah’ yang mencari receh demi receh dari mengumpulkan sampah-sampah plastik ? Lalu, mungkin dengan sebuah sapaan atau senyuman sebagai penghargaan kita kepada mereka, yang dapat memberi semangat baru kepada para ‘Tukang Sampah’ ini, menghapus tetesan peluh mereka, membuat mereka merasa dihargai, dan menjadi bagian dari lingkungan tersebut.

Namun, tetap saja sebutan ‘Tukang sampah’ masih tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Mereka, orang-orang seperti Pak Odi adalah orang-orang yang bekerja membersihkan sampah yang dihasilkan orang-orang. Dan biasanya sebutan ‘Tukang’ merujuk pada orang-orang yang membuat, menghasilkan, menyediakan. Mungkin sedikit lebih baik sebutan ‘Tukang Sampah’ diganti dengan ‘Pembersih Sampah’. Atau mungkin ‘Pahlawan Sampah’ ?