Ketika pertanyaan itu muncul kembali.
Akhir-akhir ini kesehatan ibu saya memburuk, entah kenapa beliau gampang capek dan sakit. Dari sinar matanya terlihat kelelahan disana, entah apa yang dipikirkan beliau tapi semoga saja bukan tentang anak-anaknya.
Saya tentu sadar ibu saya makin tua. Dia menyadari bahwa mungkin tak akan lagi mengurus anak-anaknya yang semakin dewasa. Pernah saya laundry baju kiloan, tidak bersih, seketika ibu saya mencuci ulang, menyetrika dan mengomel ke saya karena tidak percaya pada kemampuan dia. Saya cuma tidak tega pakaian kotor saya masih diurus oleh ibu saya. Pria macam apa saya ini.
Ibu adalah seorang tiran di rumahnya. Saya tentu saja mendukung emansipasi wanita, tapi memang pada dasarnya dia menyukai setiap kegiatan beliau untuk anak-anaknya. Setiap nafas, cinta dan doa beliau tentu untuk kebahagiaan anak-anaknya.
Ibu akan marah jika saya ketahuan makan di luar. Sekalinya saya debati kenapa saya makan di luar. Beliau akan menjawab; “kalo kamu makan di luar, ingat selalu saudara-saudaranya di rumah. Jika ngga bisa bawa pulang, tidak usah bilang jika tadi makan di luar.” Kami anak-anaknya paham akan hal ini. Mungkin beliau merasa tersinggung jika sudah masak tapi anak-anaknya makan di luar. Setelahnya kami selalu diam jika habis makan di luar, kalau tidak kami membawa pulang makanan tersebut ke rumah, tentu dengan izin ke ibu. Kami hanya takut ibu terluka.
Di teras rumah, saya sering mendapatkan pertanyaan oleh ibu saya.”Kamu kapan nikah?”. Saya paham arti dari pertanyaan ini. Ini bukan tuntutan seorang ibu ingin segera menggendong cucu dari anaknya. Beliau hanya takut tidak bisa mendukung kegiatan saya, menjadi tempat curhat saya, atau menjaga kewarasan saya. Ini salah satu pernyataan sayang beliau. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu dibarengi dengan nasihat; “Carilah istri yang pintar masak, yang bisa mengurus anak, yang bisa diam di rumah, yang bisa merawat kamu,” katanya.
Saya sering berdebat dengan ibu saya, cuma perkara ini. Saya memilih untuk diam. Bu, yang saya cari adalah istri. Bukan pembantu. Lagipula, membantah ibu karena hal ini akan membuat saya sedih karena beliau orang pertama yang mengajarkan saya berbicara dan saya gunakan untuk melawan nasihatnya. Bodoh jika saya membuatnya terluka. Sudah cukup saya gagal jadi seorang anak, tidak lagi.
Dengan umur beliau yang makin bertambah, saya khawatir dengan keadaan ibu saya. Sepertinya beliau mengalami demensia. Beliau kadang berbicara kalo kangen dengan almarhum ibunya, nostalgia bagaimana dia cerita perihal masa lalunya atau bahkan sampai bermain game tetris. Demensia disini seperti menumpuk buku kalau membuat memori baru, demensia membuang dari atas ke bawah tumpukan bukunya. Jadi orang tersebut bisa lupa istri atau suaminya, tapi ingat orang tuanya. Karena orang tuanya datang lebih awal di kehidupan masa kecilnya.
Saya adalah salah satu dari sedikit orang yang tidak percaya dengan konsep menikah pada usia muda. Saya tahu ini untuk menghindari zina, tapi kebanyakan orang yang saya tanya perihal menikah muda, jawabannya adalah untuk bahagia, capek hidup sendiri, atau agar membuktikan adanya cinta sejati. Cih, hidup saya bukan perkara tentang bertahan hidup atau berkembang biak saja. Ada sekedar hasrat pribadi untuk memilih mengejar cita-cita saya, atau keinginan saya yang belum tercapai. Tapi, setelah dipikir, mungkin ini cara Tuhan untuk membuat saya sadar bahwa keinginan duniawi jika semakin dikejar semakin menjauh dari jangkauan. Plin-plan memang, dan saya sekarang hanya mengikuti rencana Tuhan.
Tapi jika ditanya terus menerus pertanyaan tersebut, lelah juga dan harus segera menyiapkan jawabannya.
Beberapa orang harus sadar jika pertanyaan tersebut adalah ranah privat yang dijadikan bahan obrolan di ranah publik. Saya pernah menanyakan hal ini kepada teman saya. Jawabannya? “Saya pernah punya tunangan, dia meninggal dua bulan sebelum hari bahagia kami, dan sekarang saya masih trauma.” Saya menyesali menanyakan hal tersebut dan berjanji tidak akan lagi menjadikan hal tersebut sebagai pertanyaan basa-basi.
Mungkin, ibu saya takut. Saya menjadi seperti ayah saya, ambisius. Dia sukses menjadi seorang pemimpin, tapi gagal menjadi seorang ayah untuk anak-anaknya. Ibu saya takut saya menjadi pribadi pendendam, dan memperlakukan anaknya seperti ayah saya lakukan ke anak-anaknya. Tenang bu, mungkin saya gagal menjadi anak, tapi tidak akan gagal jadi ayah dan menjadi manusia. Amin
Yang saya tahu, ibu saya bukan pribadi sosialita. Beliau pernah mencoba bergaul dalam ruang lingkup tersebut. Berkumpul dengan istri-istri kolega dari ayah saya. Tapi beliau tidak nyaman, dia capek dengan keadaan yang mengharuskan beliau tampil maksimal dan berusaha membuat orang terkesima dengan prestasi suaminya. Buat apa? Toh bisa dicari juga dengan mesin google di era sekarang informasi semacam itu.
Ibu saya lebih senang menolong sesama, ajaran dari Ibunya. Selalu teringat perkataan sebelum ibunda beliau meninggal; “jangan pernah lupa kamu berasal dari mana, dari orang bawah. Tolong sesama, melihat orang tersenyum itu bahagia sesungguhnya di dunia”.
Simple, tapi terbukti nyata.
Jika ditanya orang lain perkara kapan nikah. Saya tidak akan mendebat akan hal-hal yang mereka anggap tabu atau membawa potongan ayat suci perkara menikah. Saya akan memeluk mereka dan membisikkan jawaban saya.
“Nanti, saya mau lebih lama dengan ibu saya dan membahagiakan dia. Tugas saya belum selesai”.
