
Phantom Pain.
Bukan, ini bukan review gim Konami buatan Hideo Kojima bergenre action-adventure ataupun membahas ini dari sisi kedokteran. Kalian bisa menemukan artikel lain yang lebih dalam membahas hal ini daripada membaca artikel gue yang tentunya melenceng jauh dan hanya mengambil ide dari Phantom Pain.
Phantom pain disini adalah
“Rasa sakit berkelanjutan yang dirasakan oleh seseorang setelah amputasi, padahal bagian tubuh tersebut sudah tidak lagi ada. Ia merasa bahwa anggota tubuhnya yang hilang tersebut masih ada, tapi ukurannya telah menyusut jadi lebih kecil. Rasa nyeri “gaib” ini paling sering terjadi pada orang-orang yang mengalami amputasi lengan atau kaki. Tapi phantom pain juga dapat terjadi pada bagian tubuh lain yang umum diamputasi, seperti payudara, penis, mata, hingga bahkan lidah.”
Kalian tentu pernah merasakan kehilangan. Entah berupa benda, hal abstrak, sampai seseorang. Apalagi jika kehilangan yang disebut itu merupakan hal penting, suatu hal yang membuat kita mempunyai tujuan. Aneh memang kehilangan bisa membuat kita gamang, tidak punya motivasi dan menganggap dunia ini berantakan.
Bicara tentang kehilangan membuat gue teringat teori Kulber Ross. Teori ini sangat jarang diketahui publik, tapi gue yakin kebanyakan orang sudah bisa merasakan itu tanpa diberitahu lebih detail.
Hal yang sudah sangat umum dalam kehidupan manusia adalah kehilangan atau perpisahan. Tidak ada yang kekal, karena semua pada akhirnya akan berubah atau pergi. All is between a hello and goodbye.
Ada 5 tahapan dari kehilangan oleh Kubler Ross, yaitu :
- Denial (Penyangkalan)
Penyangkalan ini ada pada tahap pertama. Seseorang yang baru saja kehilangan biasanya mengatakan : "ini tidak mungkin terjadi" "saya tidak percaya" dan lain lain yang merupakan tanda bahwa dia menyangkal. - Anger (Marah)
Setelah penyangkalan, seseorang biasanya marah dan merasa apa yang terjadi padanya sungguh tidak adil. - Bargaining (Tawar Menawar)
Semisal dengan mengatakan : andai saja, saya yang ada di posisi tersebut. - Depression (Depresi)
Ini merupakan puncaknya. Seseorang bisa saja menjadi sangat tidak berdaya dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai pada tahap berikutnya. - Acceptance (Penerimaan)
Seseorang mulai dapat menerima dengan ikhlas apa yang terjadi.
Pasti di antara kalian ada yang pernah mengalami 5 tahapan ini, ada yang beruntung melewati 1 atau 2 tahapan dan ada yang terus menerus di 1 tahapan. Aneh, suka menyiksa diri sendiri.
Teman gue semalam mengeluh dia ngga bisa move on dari mantan gebetannya. Dia gadis yang menurut gue dan standar laki-laki kebanyakan masuk kategori cantik, dengan hal tersebut bisa saja mendapat lelaki yang dia mau. Dia diam pun sudah banyak laki-laki yang mengejarnya lintang pukang. Tapi ya dasarnya perasaan, dia bilang cuma jatuh cinta kepada laki-laki itu. Dia teringat momen dimana dia dikenalkan oleh keluarga dari lelaki tersebut, sampai saat dia membuat bekal untuk lelaki itu berkerja.
Phantom pain, gue menyebutnya. Tentu benar. Manusia tak pernah benar-benar bisa memahami perasaan orang lain. Kita hanya bisa meraba, mencoba mengerti, atau pura-pura mengerti. Toh perasaan, seperti juga nasib, adalah kesunyian masing-masing. Perasaan adalah sebuah keunikan. Dia bisa hadir seperti seorang maling. Perasaan, seperti juga kenangan, adalah kemampuan manusia untuk terus hidup manusiawi.
Lagipula siapa yang mau hidup dalam bayang-bayang? Mencoba menggaruk bagian memori yang sudah jelas-jelas seseorang tersebut telah pergi, dan hanya bisa berharap ini cuma mimpi buruk, setelahnya berharap bisa secepatnya bangun dari tidurnya. Buat apa mengais terus menerus kenangan tersebut? Setiap bagian dari memori indah itu hanya menjadi bahan bakar kita untuk terus belajar. Kenangan yang indah memang selayaknya disimpan, bukan untuk dirayakan.
Dia mencintai harapan yang tak tuntas. Rasa nyeri atau getir yang didapatkan dari harapan yang tidak terkabul itu membuat kita menyakiti diri sendiri. Tidak mengapa, siapa yang bisa menghadapi kehilangan dengan gagah berani? Mungkin jika kita seperti malaikat yang tidak mempunyai perasaan hal itu bisa terjadi. Sayangnya tidak.
Tidak penting menyintas atau tidak, dipelihara pun tidak masalah. Perasaan melankolis tidak melulu membuat kita dianggap lemah. Banyak karya sastra yang tercipta dari perasaan melankolis tersebut. Selalu ada sisi positifnya.
Kalo ditanya bagaimana cara menyintas. Gue pun tidak tahu. Tapi bagi kalian yang sedang menunggu, sedang bertahan, sedang berharap, dan sedang berusaha.
I want you to repeat after me:
“And so I wish for patience, grace and the strength to see you love him (or her). I don’t want to alter your life and your joy because of what I feel and what I want. Because despite what happened between us, all I want is for you to be happy.”
"We’re stronger in the places that we’ve been broken." — Ernest Hemingway.
