Transaksi Digital Melejit, Bank Uni Eropa Tutup 9.100 Cabang

Sumber Foto: http://www.telegraph.co.uk

Hadirnya teknologi digital juga ikut mengubah cara orang bertransaksi dalam hubungan ekonomi. Pasca berkembangnya e-commerce sebagai pola baru masyarakat dalam berbelanja, juga turut andil menggeser transaksi keuangan yang terjadi di masyarakat. Salah satu nya semakin banyaknya layanan teknologi keuangan (Financial Technology/Fintech) yang menawarkan efisiensi, kemudahan dan kenyamanan masyarakat dalam bertransaksi keuangan.

Angka terakhir yang dirilis Kementerian Komunikasi dan Informatika tahun 2016 menyebutkan nilai transaksi Fintech terbesar diraih oleh Amerika Serikat dengan nilai transaksi sebesar 769,3 miliar US$, disusul oleh China dan Inggris, yang masing-masing memiliki nilai transaksi 441 miliar US$ dan 168,5 miliar US$.

Nilai transaksi Financial technology (Fintech) Indonesia sendiri pada 2016 diperkirakan mencapai US$ 14,5 miliar setara Rp 190 triliun. Nilai transaksi tersebut setara dengan 0,6 persen dari nilai transaksi global yang diperkirakan mencapai 2.355,9 miliar US$. Angka ini diprediksi akan terus meningkat sejalan dengan maraknya trend ekonomi digital.

Namun perkembangan ini bukan tak menghasilkan dampak. Pesatnya perkembangan ekonomi digital membuat peranan bank konvensional semakin menurun. Berdasarkan data yang dilansir oleh Reuters, Bank-bank Uni Eropa menutup 9.100 cabang mereka dan memotong sekitar 50.000 stafnya dari tahun lalu.

Bahkan The European Banking Federation menyatakan jumlah cabang bank di Uni Eropa telah berkurang menjadi 189.000 pada akhir 2016, turun 4,6 persen dibanding tahun sebelumnya. Jumlah staf perbankan di Uni Eropa juga tercatat paling rendah sejak 1997, hanya sekitar 2,8 juta orang.

Jika diakumulasikan, berdasarkan data Reuters, sebanyak 48.000 cabang telah ditutup sejak 2008. Bank-bank di Inggris saja pada tahun ini diperkirakan menutup 762 cabang mereka. Sedangkan yang lain memilih menawarkan fitur layanan gratis sebagai alternatif untuk bertahan.

Namun semakin digemarinya transaksi digital oleh sebagian masyarakat membuat transaksi perbankan konvensional sulit kembali meningkat seperti tahun-tahun sebelumnya. Mungkin inilah yang disebut Clayton M. Christensen sebagai sebuah “disruptive innovation”, sebuah inovasi yang mengganggu. Dalam artian, dunia masuk ke dalam sebuah era dimana perusahaan yang lebih kecil dengan sumber daya yang lebih sedikit dapat berhasil menantang bisnis incumbent yang sudah mapan dengan memanfaatkan inovasi teknologi secara strategis.