The Perks of Being A (Future) Quality Assurance Engineer

Arka Yasa
Arka Yasa
Sep 5, 2018 · 4 min read

Pernahkah Anda ditawari untuk mencoba makanan yang dimasak oleh ibumu, kemudian Anda dibeberkan berbagai macam pertanyaan mengenai masakan yang telah diracik Ibumu? Pasti dia pernah bertanya, “Apakah kurang garam?”, “Lebih enak yang mana, 2 sendok makan gula atau 1 sendok makan gula?”, dan dari semua pertanyaan itu, kamu pun menjawab lantang, “Ya, Bu. Masakannya kurang garam. Mungkin perlu ditambah 1/2 sendok teh garam supaya menjadi lebih gurih.”, “Lebih enak 1 sendok makan gula. Kalau 2 sendok, nanti terlalu manis. Bisa-bisa sekeluarga langsung kena diabetes, Bu.” atau sebagainya yang berhubungan dengan bagaimana anda membantunya untuk membuat masakan bagi setiap anggota keluarga yang akan mencicipi racikan ibumu yang telah kamu uji sesuai standar.

Dari ilustrasi tersebut, coba kita hubungkan dengan proses pengembangan perangkat lunak, atau lebih keren nya disebut, software development. Ketika tim sedang mengembangkan sebuah program baru, tentunya mereka memerlukan berbagai macam “racikan” (seperti Bahasa Pemrograman, library, desain UI/UX). Dari “racikan” tersebut, lahirlah sebuah “masakan” yang matang, yaitu software yang siap disajikan. Namun, hanya karena sebuah “masakan” itu matang, bukan berarti rasa dan kualitas nya seenak yang terlihat di depan mata. Tidak jarang kita pernah disuguhi makanan yang kelihatan nya “Hmm.. Kayaknya instagrammable banget nich.”, eh, ternyata rasanya begitu hambar dan terpaksa harus dihabiskan karena harga makanan nya yang telah menyebabkan krisis moneter di dalam dompet. Oleh karena itu, sebelum diberikan kepada klien yang biasanya menyimpan ekspektasi yang begitu tinggi, diperlukan sosok penguji kualitas program atau bisa kita panggil, a quality assurance engineer.

Kemudian, Anda pun bertanya. “Apa sih Quality Assurance Engineer itu? Apa kerjaannya menguji program doang tanpa ngoding? Wah.. enak dong kerja nya semudah itu. Dibayar mahal pula!”


Eitss.. Memang ada benarnya kalau Anda bekerja sebagai penguji itu tidak banyak ngoding seperti front-end developer maupun back-end developer. Tapi, pekerjaan yang mudah semudah mencicipi makanan saja? Itu tidak benar! Ketika pengujian tengah dilaksanakan, Anda harus pandai memilah dari banyak strategi yang tersedia untuk menentukan strategi manakah yang paling tepat untuk menguji perangkat lunak.

Karena Anda harus menentukan strategi pengujian yang tepat untuk perangkat lunak. Dari strategi itulah, program yang telah “matang” akan terasa amat “sedap” bagi klien. Sebagaimana Anda yang pernah dicoba untuk mencicipi masakan Ibu tercinta, jika Anda salah memberikan masukan, maka masakan yang harusnya enak akan terasa salah di lidah.

Jadi, bisa dikatakan bahwa tugas seorang Quality Assurance Engineer tidak sesederhana menguji program nya saja kemudian selesai, saatnya ketemu dengan klien!

Kemudian, apakah yang akan terjadi jika langsung ketemu klien dengan modal hasil pengujian ala kadarnya, terlepas dari error yang mungkin luput ketika diuji?

Boom! Kekacauan pun terjadi ketika berhadapan dengan klien. Error bermunculan, program pun gagal dijalankan. Si klien kecewa karena apa yang ia inginkan tidak sesuai harapan. Anda tenggelam dalam penyesalan.

Lalu, seperti apakah profesi Quality Assurance Engineer yang sebenarnya?


Berdasarkan pengamatan Saya selama melakoni profesi ini, pengujian yang dilakukan tidak cukup satu kali saja dan sebatas apa yang terlihat oleh kedua mata. Ada standar dari perusahaan yang harus terpenuhi, seperti, apakah error sudah diminimalisir jumlahnya? Apakah perangkat lunak tetap berjalan secara efisien di platform yang berbeda?

Layaknya mencoba “masakan” Ibu, Anda harus bisa memberikan jawaban yang mengubah “masakan” tersebut menjadi lebih “enak”. Teruslah mengulangi pengujian berulang-ulang hingga rasa yang tidak enak menjadi kurang terasa saat dicicipi.

Anda tidak akan pernah menemukan error yang terlewat oleh programmer jika tidak mengulangi pengujian secara periodik. Telusuri semua bagian program lalu diuji sampai total error mencapai paling minimum.

Bisa dikatakan bahwa profesi ini pantang diremehkan. Keberadaannya sangat berharga bagi tim developer. Tanpanya, tidaklah mungkin bahwa perangkat lunak akan langsung selesai jadi dan memenuhi semua permintaan klien dalam satu kali proses pembuatan.

Bahkan beberapa perusahaan, selain perusahaan di mana Saya bekerja saat ini, mewajibkan kemampuan analisis yang amat baik kepada calon Quality Assurance Engineer. Semua fungsi yang ada pada sistem harus memenuhi kebutuhan dari klien. Jika kemampuan tersebut diasah dengan buruk, kekecewaan dari klien akan Anda terima sebagai balasan nya.

Hal lain yang harus dimiliki oleh seorang Quality Assurance Engineer adalah mampu membuat dokumentasi lengkap terkait dengan program dari klien yang selesai dibuat.


Sejak menjabat sebagai Quality Assurance Engineer, meski dengan status magang, Saya mempelajari hal-hal baru yang tidak saya dapat selama belajar di bangku kuliah. Di tempat saya bekerja, saya mulai mampu memahami standar kualitas perusahaan, menganalisis modul beserta fungsinya, menganalisis strategi pengujian manakah yang tepat bagi program yang sedang dikembangkan, serta mendokumentasikan hasil kerja yang mudah dipahami oleh pengguna.

Saya pun dituntut untuk bisa berkomunikasi antar rekan satu tim agar tidak ada penukaran informasi yang simpang siur saat bekerja. Selain itu, diperlukan pula kemampuan untuk berpikir kritis dan teliti dalam menyusun prosedur pengujian, bisa juga disebut test script. Dari situlah, saya dapat menemukan kecacatan pada program sebanyak-banyaknya.

Manfaat yang bisa saya petik dari profesi ini adalah saya menerima banyak ilmu baru serta soft skill saya semakin meningkat dari sebelumnya. Karena kini, soft skill dalam dunia kerja menjadi salah satu syarat yang paling dipertimbangkan di era yang (hampir) serba digital ini.


Thanks to Salsabila Athika Ramadhani atas bantuannya melakukan review dan memberi masukan pada tulisan saya.

    Arka Yasa

    Written by

    Arka Yasa