Gambar di ambil di http://www.mohammadezzati.com/wp-content/uploads/2014/04/DSCN041teeeestttt.jpg

Banyak Air di Sekitar Sini

Suamiku makan dengan lahap. Tapi aku tidak yakin kalau dia betul-betul lapar. Dia mengunyah, kedua lengannya di atas meja, dan menatap sesuatu di seberang ruangan. Sejenak dia menatapku sambil menyeka mulutnya dengan serbet. Dia mengangkat bahu lalu melanjutkan makan.

“Apa yang kaulihat di diriku?” Katanya sambil meletakkan garpu.

“Memangnya aku seperti menatapmu?” Aku menggaruk kepala.

Telepon berdering.

“Jangan jawab!” Katanya.

“Mungkin ibumu,”

“Tunggu saja!”

Aku mengangkat gagang telepon dan mulai mendengarkan. Suamiku berhenti makan.

“kau dengar yang tadi kubilang?” Katanya ketika aku menutup telepon.

Dia kembali makan. Kemudian melemparkan serbet di atas piring lalu mulai mengomel,

“Brengsek, kenapa orang-orang tidak memikirkan urusan mereka sendiri? Katakan apa salahku dan aku akan mendengarkan! Aku tidak sendirian di sana. Kami membicarakannya dan semua ikut memutuskan. Kami tidak bisa langsung putar-balik. Kami lima mil dari mobil. Aku tidak mau kau menuduhku. Kaudengar?”

“Kautahu,” aku berkata.

“Apa, Claire? Katakan apa yang harusnya kutahu?” Dia mengatakan seolah itu sesuatu yang terlihat berarti.

“Dia mati,” katanya, “dan aku menyesal seperti orang lain. Tapi dia telah mati.”

“Itulah masalahnya,” kataku.

Dia mengangkat kedua tangannya. Mendorong kursi menjauh dari meja. Mengambil rokoknya, keluar ke belakang dengan sekaleng bir, lalu duduk di kursi taman dan mengambil surat kabar.

Namanya di sana, di halaman pertama. Bersama nama teman-temannya.

Aku memejamkan mata dan berpegangan pada westafel. Lalu aku menyapukan lengan di rak dan menjatuhkan piring-piring ke lantai.

Dia tidak bergerak. Aku tahu dia mendengar. Dia mengangkat kepalanya seakan masih mendengarkan. Tapi dia tidak beranjak. Tidak berpaling.

*

Dia, Gordon Johnson, Mel Dorn, dan Vern Williams sering bermain kartu dan tebak-undi (fishbowl) bersama. Mereka memancing setiap musim semi dan awal musim panas, jika ada kenalan atau kerabat yang dilalui, mereka akan mengunjunginya. Mereka orang-orang baik, andalan keluarga, laki-laki yang setia dengan pekerjaan. Mereka punya anak-anak yang satu sekolah dengan anak kami, Dean.

Jumat lalu, para pria andalan keluarga itu berangkat ke sungai Naches. Mereka memarkir mobil di pegunungan dan mendaki ke tempat mereka akan memancing. Mereka membawa alas tidur, makanan, kartu, dan whiskey.

Mereka melihat gadis itu sebelum mendirikan tenda. Mel Dorn menemukannya. Tanpa busana. Tersangkut pada cabang-cabang pohon yang mencuat di atas air.

Mel memanggil yang lain. Mereka berbincang apa yang harus dilakukan. Salah satu dari mereka — Stuart-ku tidak mengatakan yang mana — memberi usul untuk bergegas pulang. Tapi yang lain tidak setuju. Mereka mengaku kelelahan, sedangkan hari semakin larut. Dan kenyataan bahwa gadis itu tidak akan ke mana-mana.

Akhirnya mereka ke depan dan mendirikan tenda. Menyalakan api dan meminum wiski. Saat bulan muncul, mereka mulai membahas gadis itu. Seseorang mengatakan bahwa mereka harus menjaganya agar tidak hanyut. Mereka mengambil senter dan kembali ke sungai. Satu dari mereka — mungkin Stuart — menyeberang dan menggapai gadis tersebut. Dia menggiringnya ke tepi dengan tangan. Mengambil beberapa tali nilon lalu mengikat tangannya dan mengaitkan ujung tali yang lain pada sebatang pohon.

Keesokan pagi mereka memasak sarapan, minum kopi, dan minum wiski. Lalu, berpencar untuk memancing. Malam hari mereka memasak ikan, kentang, minum kopi dan wiski. Kemudian, mencuci perlengkapan masak dan makan di tempat awal tubuh gadis itu terendam.

Mereka bermain kartu setelahnya. Mungkin sampai mereka tak kuat lagi untuk membuka mata. Vern Williams beranjak tidur. Tapi yang lain memilih mengobrol. Gordon Johnson mengatakan kalau Ikan forel yang mereka dapat sangat sulit untuk ditangkap karena airnya sangat dingin.

Keesokan harinya, mereka terlambat bangun. Lanjut minum wiski, memancing sebentar, menurunkan tenda, menggulung kantong tidur, mengumpulkan barang-barang lain, lalu mendaki pergi. Mereka melangkah hingga menemukan telepon umum. Stuart yang melakukan panggilan, sedangkan yang lain berdiri di bawah sinar matahari dan mendengarkan. Dia memberi petugas nama-nama mereka. Tak ada yang disembunyikan, mereka tidak punya hal untuk dikhawatirkan. Mereka sepakat untuk menunggu sampai seseorang tiba memberi keputusan yang lebih jelas dan mencatat pernyatan mereka.

*

Aku sudah tidur waktu dia sampai di rumah. Tapi terbangun saat kudengar suara dari dapur. Aku menemukannya bersandar di kulkas dengan sekaleng bir. Dia meletakkan lengan beratnya padaku dan mengusapkan tangannya yang besar di punggungku. Di tempat tidur, ia melakukan tindakan yang serupa, lalu terdiam seolah memikirkan sesuatu yang lain. Aku berbalik dan merenggangkan kakiku. Setelah itu, kupikir dia tetap terjaga.

Dia bangun pagi lebih dulu. Sebelum aku bisa meninggalkan tempat tidur. Mungkin untuk memeriksa jika ada sesuatu di surat kabar, pikirku.

Telepon mulai berdering setelah pukul 8.

“Pergi ke Neraka!” Aku mendengarnya berteriak.

Telepon berdering sekali lagi.

“Semua sudah kujelaskan pada petugas”

Dia membanting gagang telepon.

“Apa yang terjadi?” Kataku.

Saat itulah dia mengatakan kejadian itu.

*

Aku membersihkan piring-piring pecah lalu keluar. Ia berbaring telentang di rumput sekarang, surat kabar dan kaleng bir di dekatnya.

“Stuart, boleh kita keluar sebentar naik mobil?”

Dia berguling dan menatapku, “kita akan membeli beberapa kaleng bir,” jawabnya. Ia berdiri menyentuh pinggulku dan berlalu, “Tunggu sebentar yah,” katanya.

Kami mengitari kota tanpa mengobrol. Dia berhenti di minimarket untuk membeli bir. Aku memerhatikan satu gulungan besar kertas di balik pintu. Di atas, melangkah seorang perempuan gemuk mengenakan gaun bermotif menggenggam permen untuk seorang gadis kecil. Kemudian, kami menyeberangi Sungai Everson dan memutar ke taman piknik. Aliran sungai bergerak di bawah jembatan dan berbelok masuk ke satu kolam besar beberapa ratus yard dari tempat kami. Aku bisa melihat orang-orang di sana. Mereka memancing.

Banyak air di sekitar sini.

“Kenapa kau pergi bermil-mil jauhnya?”

“Jangan membuatku jengkel,” Ia berkata.

Kami duduk di bangku taman ditemani sinar matahari yang hangat. Dia membuka sepasang kaleng bir. Satu untukku.

“Santai Claire,” dia menenangkanku.

“Mereka bilang mereka tidak bersalah. Mereka bilang orang-orang itu gila”

”Siapa?”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Maddox bersaudara. Mereka membunuh Arlene Hubly, seorang gadis tetanggaku dulu. Mereka memenggal kepalanya dan melemparkan gadis itu ke sungai Cle Elum. Itu terjadi waktu aku masih kecil.”

“Kau akan membuatku jengkel,” katanya.

Aku menatap ke sungai. Aku tepat di hadapannya, tertunduk, menatap lekat lumut di bagian bawah. Mati.

“Aku tidak tahu, kau kenapa,” katanya di perjalanan pulang. “Kau membuatku semakin khawatir.”

Aku tidak bisa bilang apa-apa.

Dia mencoba fokus ke jalan. Tapi dia tetap melihat ke arahku lewat spion.

Dia tahu sesuatu.

*

Stuart yakin aku masih tidur pagi tadi. Tapi aku terjaga jauh sebelum alarm berbunyi. Aku berbaring agak jauh dari kakinya yang berbulu.

Sepulang mengantar Dean ke sekolah, dia bercukur, berdandan, dan pergi bekerja. Dua kali dia melirik dan berdehem. Tapi aku tetap menutup mata.

Di dapur, aku menemukan catatan dari dia. Diakhiri dengan “Love.” Aku duduk di meja sarapan dan minum kopi lalu meninggalkan cincin di atas catatan. Aku mengecek surat kabar, membolak-baliknya di atas meja. Lalu aku tertahan dan membaca. Tubuh telah diidentifikasi. Tapi masih butuh penyelidikan lebih lanjut. Di tubuh korban ditemukan beberapa benda, bekas pukulan, sayatan, dan jahitan.

Aku duduk cukup lama menggenggam surat kabar dan berusaha berpikir. Lalu aku menelepon, memesan antrian di salon.

*

Aku duduk di bawah pengering dengan satu majalah di pangkuanku sambil membiarkan Marnie mengurus kuku-kuku ku.

“Aku mau ke pemakaman besok.”

“Aku turut prihatin.” Kata Marnie.

“Itu pembunuhan.”

“Kejadian yang sangat buruk,” Marnie menimpali.

“Kami tidak begitu dekat,” kataku, “tapi kau tahu, kan?”

“Kami akan mengurusmu untuk itu,” kata Marnie.

Malam itu aku tidur di sofa, dan di pagi hari bangun lebih dulu. Aku meminum kopi dan menyelesaikan sarapan ketika dia bercukur.

Dia muncul di pintu dapur, tanpa baju, memikul handuk di bahunya, dan mengamati.

“Kopi,” kataku.

“Telur bisa siap sebentar lagi?”

Aku membangunkan Dean, dan kami bertiga makan. Kapan pun Stuart menatapku, aku bertanya ke Dean kalau dia masih mau susu, roti, dll.

“Aku akan meneleponmu hari ini,” Stuart berkata sambil membuka pintu.

“Kayaknya aku tidak pulang hari ini.”

“Baiklah,” katanya.

Aku berpakaian dengan perlahan. Aku mencoba satu topi dan melihat diriku di cermin. Aku menulis sebuah catatan untuk Dean.

Sayang, ibu punya beberapa urusan sore ini, tapi akan kembali nanti. Kamu tinggal atau masuk ke halaman belakang sampai salah satu dari kami pulang.

Love, Ibu.

Aku menatap kata Love lalu membuat garis di bawahnya. Kemudian aku membaca ‘halaman belakang’. Apa tidak ada cara lain untuk menyebutnya dalam satu kata?

*

Aku melaju melewati lahan pertanian milik pemerintah, ladang gandum dan lobak, serta kebun apel. Sapi merumput di padang yang luas. Lalu pemandangan berubah, terlihat bangunan yang lebih mirip gubuk daripada rumah kebun dan dibangun di atas penyangga balok. Juga ada gunung-gunung, dan di sebelah kanan, jauh di bawah, aku kadang-kadang melihat Sungai Naches.

Satu pick-up hijau mendekat di belakangku dan tetap di sana hingga beberapa mil. Aku melambat di waktu yang salah, berharap dia akan melewati. Lalu aku mempercepat. Tapi ternyata itu juga waktu yang salah. Aku mencengkeram kemudi hingga jari-jariku terasa sakit.

Di atas jalur yang lengang dia mulai melaju dan aku berharap dia segera melewati. Tapi, untuk beberapa saat, dia menjaga kecepatan tetap di sampingku. Mobil kami sejajar. Tampak seorang pria dengan potongan rambut papan mengenakan seragam kerja berwarna biru. Kami saling menatap. Lalu dia melambai, menekan klakson, dan melaju.

Aku melambat lalu menepi. Menarik rem tangan dan mematikan mesin. Aku bisa mendengar aliran sungai di antara pepohonan di bawah sana. Kemudian kudengar pick-up itu kembali.

Aku mengunci pintu dan menaikkan kaca.

“Kau baik-baik saja?” Pria tersebut mengetuk kaca, “kau tidak apa-apa?” sambil menempelkan lengannya ke pintu dan mendekatkan wajahnya ke jendela.

Aku menatapnya. Aku tidak bisa berpikir apa yang harus kulakukan.

“Semua baik-baik saja di dalam sana? Kenapa kau mengunci mobilmu?”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Turunkan kacamu,” dia menggeleng, melihat ke arah jalan lalu kembali kepadaku, “turunkan kaca ini sekarang.”

“Tolong,” kataku, “aku harus pergi.”

“Buka pintunya,” dia seolah tidak mendengar. “Kau akan sesak nafas di dalam sana.”

Dia melihat ke arah dada dan kakiku. Itulah yang dia lakukan.

“Hei, nona,” katanya, “aku di sini untuk menolongmu.”

*

Peti jenazah tertutup rapat, di atasnya ada karangan bunga. Musik dari organ mengalun sesaat setelah aku duduk. Orang-orang berdatangan dan memilih kursi. Kulihat anak kecil dengan celana lebar dan kaos lengan pendek berwarna kuning. Pintu terbuka dan keluarga masuk berbondong-bondong menuju ke sisi ruangan yang bertirai. Kursi-kursi berderit seperti semua orang akan duduk. Sesaat kemudian, pria berambut pirang dengan setelan jas hitam berdiri lalu meminta kami untuk menundukkan kepala. Dia mendoakan semua hadirin, kehidupan, dan di akhir, mendoakan arwah mendiang.

Bersama yang lain, aku melewati peti jenazah. Melangkah ke tangga luar yang ditimpa cahaya sore. Seorang wanita yang terlihat pincang melangkah turun di depanku. Saat di trotoar dia melihat ke sekeliling.

“Akhirnya mereka menangkapnya,” katanya, “mungkin sedikit menghibur. Mereka menangkapnya pagi tadi. Aku mendengarnya di radio sebelum ke sini. Pemuda dari kota ini juga.”

Kami melangkah turun di bagian yang lebih terkena sinar matahari. Orang-orang mulai menyalakan kendaraan. Aku mengeluarkan tangan dan berpegangan pada palang parkir. Mengusap kap dan bemper mobil. Kepalaku pening.

Kukatakan, “Mereka punya teman-teman, pembunuh itu.”

“Aku mengenal anak itu dari dia masih gadis kecil,” kata perempuan itu, “dia biasa berkunjung dan aku membuatkannya kue dan ia akan menikmatinya di depan TV.”

*

Kembali ke rumah, Stuart duduk di kursi dan sebotol wiski di meja. Untuk sesaat, aku berpikir sesuatu telah terjadi pada Dean.

“Di mana dia?” Kataku, “Di mana Dean?

“Di luar,” suamiku menjawab.

Dia mengosongkan gelas dan berdiri, “sepertinya aku tahu yang kau butuhkan.”

Dia menggapai lengan di dekat pinggangku dan tangannya yang lain mulai membuka kancing jaketku lalu terus ke keancing blusku.

“Pertama dan utama,” katanya.

Dia mengatakan hal lain. Tapi aku tidak mendengarkan. Aku tidak bisa mendengar sesuatu ketika aliran air mulai datang membasahi.

“Betul,” kataku, menyelesaikan membuka kancing-kancingku sendiri,

“Sebelum Dean datang. Cepat!”

Cerpen di atas adalah karya Raymond Carver. Saya terjemahkan bebas (baca: seadanya) dari judul asli So Much Water, So Close Home — Salah satu Cerpen yang terdapat di kumpulan cerita Carver, What We Talk About When We Talk About Love.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.