[Jurnal Perjalanan]

Terlahir dengan nama Bagus Burham, pujangga Keraton Surakarta yang wafat di awal abad 19 ini telah menciptakan banyak karya sastra. Salah satu yang terkenal adalah Serat Kalatidha (Zaman Edan).
Garis keluarganya yang memang sudah tidak asing dengan sastra membuat ia ikut tumbuh dengan sastra. Yosodipuro, kakeknya adalah juga pujangga keraton seperti dirinya.
Banyak terobosan yang ia ciptakan untuk karya sastra yang sebelumnya tidak ada, seperti sandiasma, yakni menuliskan nama pengarang di dalam baris-baris tembang atau prosa. 
Selain itu, nuansa Islam khususnya tasawuf amat kental dalam karya-karyanya, seperti dalam Serat Wirid Hidayat Jati. Ia memang tercatat pernah nyantri kepada Kyai Kasan Besari di pesantren Tegalsari, Ponorogo yang sedikit banyak telah memberikan pengaruh Islam kepadanya. Setelah ditetapkan menjadi pujangga Keraton, ia kerap dipanggil dengan Ronggowarsito III. Artinya, ia adalah generasi ketiga pujangga Keraton Surakarta setelah kakek dan ayahnya. Begitu besar nama dan pemahamannya akan sastra sehingga pada waktu itu orang-orang Belanda yang ingin mempelajari sastra Jawa harus berguru kepadanya. Karya terakhir yang ia telurkan adalah Serat Sabda Jati, dimana ia dalam serat ini mampu dengan tepat meramalkan tanggal kematiannya. Hal ini masih menjadi perdebatan hingga sekarang, apakah benar ia mampu meramalkan kematiannya atau ada faktor lain semisal vonis mati yang dijatuhkan kepadanya. Terlepas dari segala kontroversi, Ronggowarsito III atau Ronggowarsito tetap dianggap pujangga terbesar di tanah Jawa, khususnya Surakarta. Namanya harum dalam diri siapa saja yang mengkhidmatinya.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Arlandy Ghiffari’s story.