Yu Patmi dan Petani Kendeng yang Melawan Secara Terhormat [Artikel Tanggapan]

Yu Patmi dan Petani Kendeng yang Melawan Secara Terhormat

Kritik utama Maman dalam tulisannya bermuara pada satu hal: kontradiksi. Bagaimana mungkin para petani Kendeng yang menolak eksploitasi justru melakukan aksi yang eksploitatif, bukankah itu kontradiktif?

Adalah Mohandas Karamchand Gandhi, seorang tokoh besar India yang terkenal dengan perlawanan nir-kekerasannya yang melakukan aksi mogok makan di dalam sel penjara Yerovda, Bombay pada tahun 1932 sebagai bentuk protes atas keputusan pemerintah kolonial Inggris dalam mengadakan pemilu berdasarkan kasta. Tidak hanya satu atau dua, Gandhi tercatat pernah melakukan aksi mogok makan selama belasan kali sebagai bentuk protesnya atas berbagai hal. Gerakan satyagraha yang berlandaskan perlawanan tanpa kekerasan yang dikembangkannya ini kemudian menginspirasi tokoh-tokoh lain di berbagai belahan dunia.

Martin Luther King Jr. adalah salah satu satyagrahi — orang yang melakukan gerakan satyagraha — yang terinspirasi dari Gandhi. Pada 1963, ia memimpin unjuk rasa dengan berjalan kaki menuju Washington untuk menuntut hak-hak sipil. Unjuk rasa yang diorganisir beberapa kelompok sipil dan agama ini berhasil mengumpulkan massa sebanyak 200.000 orang — salah satu yang terbesar. Di sinilah King menyampaikan orasi terkenalnya itu. Di tengah orasi, ia menyampaikan kepada pengunjuk rasa untuk tidak “allow our creative protest to degenerate into physical violence. Again and again, we must rise to the majestic heights of meeting physical force with soul force.

Di Tibet, dalam kurun waktu 6 tahun, dari 2009–2015 terjadi gelombang aksi bakar diri sebanyak 138 kasus di Tibet untuk menantang represi pemerintah Tiongkok. Kebanyakan yang melakukan aksi tersebut adalah biksu dan bekas biksu. Tidak jarang aksi ini berujung pada kematian. Sampai di sini para biksu menunjukkan bahwa pemerintah tidak memiliki hak untuk mengatur mereka. Mereka memiliki hak atas tubuh mereka sendiri yang tidak dapat diintervensi.

Baik Gandhi, King, atau para biksu di Tibet melakukan apa yang disebut Civil Resistance atau perlawanan masyarakat, yakni aksi tanpa menggunakan kekerasan melawan suatu pemerintahan atau rezim yang dilakukan oleh kelompok-kelompok sipil. Maria J. Stephan dan Erica Chenoweth (2008) memberi dua alasan penting mengapa aksi tanpa kekerasan dapat meraih kesuksesan dibanding dengan kekerasan. Pertama, memperbesar dukungan domestik dan internasional serta memperluas partisipasi masyarakat lintas-sektor.

Luasnya dukungan dan legitimasi akan menggoyahkan pemerintah meskipun disokong oleh kekuatan politik dan militer. Kedua, jika pemerintah melakukan kekerasan terhadap aksi ini, maka justru akan menjadi bumerang. Karena jika dilakukan, maka publik dan dunia internasional akan lebih bersimpati lagi terhadap aksi tersebut dan membuat posisi pemerintah semakin terdesak.

Dua alasan ini diperkuat dengan studi Maria J. Stephan dan Erica Chenoweth pada kasus di tiga negara berbeda, yaitu Timor Timur, Filipina, dan Myanmar dalam menganalisis dampak aksi tanpa kekerasan melawan okupasi (Timor Timur) dan pemerintah (Filipina dan Myanmar). Hasilnya, aksi tersebut berhasil dalam menghadapi represi brutal dan mengundang perhatian khalayak luas. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa semakin kuat pemerintah merepresi, semakin kuat pula dukungan dan mobilisasi terhadap aksi. Sanksi internasional juga lebih berat diberikan saat pemerintah melawan aksi tanpa kekerasan.

Lalu, mengapa orang-orang yang melakukan aksi begitu nekad, bahkan tak jarang melukai diri sendiri? Tidak hanya di ‘taraf’ melukai, bahkan yang tak jarang berujung kematian. Persis, di titik inilah Maman tidak memahami bahwa laku perjuangan melawan kesewenang-wenangan dengan medium badannya sendiri, termasuk para petani Kendeng yang mengecor kakinya adalah laku amorfati.

Mereka adalah orang-orang yang cinta akan takdirnya. Mereka adalah individu-individu yang dengan penuh kesadaran melawan dengan tulus. Mereka yang tidak membiarkan alam yang lestari ini dirusak oleh kepentingan pemodal adalah individu-individu yang gigih memperjuangkan takdirnya sebagai petani. Dengan merusak alam tempat petani berpijak, maka pabrik semen telah mengabaikan petani itu sendiri.

Tidak mudah untuk menjalani laku para sedulur-sedulur Kendeng ini. Secara simbolik mereka ingin mengatakan bahwa telah terjadi perusakan lingkungan, di mana kaki telah diputus persinggungannya dengan tanah tempat kaki berpijak. Dan semenlah yang memutus persinggungan itu.

Kritik Maman persis seperti Aliansi Perempuan Rembang Bangkit (APRB) yang melaporkan aksi mengecor kaki itu ke Bareskrim Polri dengan alasan terdapat eksploitasi perempuan dan aksi tersebut membahayakan jiwa para peserta. Sayang, baik Maman maupun APRB tidak mencari titik utama untuk memahami mengapa sedulur-sedulur Kendeng berani melakukan aksi senekad itu. Justru Maman “Sulit menegaskan apakah perjuangan para petani Kendeng melalui aksi demonstrasi dengan cara mengecor kaki di Istana Negara (21/3) adalah murni perjuangan melawan eksploitasi terhadap manusia dan alamnya.”

Dengan tidak memahami alasan di baliknya, maka kita selamanya akan gagal memahami aksi tersebut. Kita harus melihat rangkaian kejadian di belakangnya untuk memahami aksi di Istana Negara kemarin, maka kita akan tahu, siapa sebenarnya yang lebih dieksploitasi?

Lokasi penambangan bahan semen di pegunungan Kendeng Utara dipastikan terletak di area imbuhan air tanah yang digolongkan kawasan lindung geologi. Peta Zona Konservasi Air Tanah yang dibuat Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah menyebutkan, lebih dari 90 persen total luas daerah CAT (Cekungan Air Tanah) Watuputih di pegunungan karst Rembang adalah zona perlindungan air tanah karena termasuk daerah imbuhan.

Peraturan Daerah Provinsi Jateng №6 tahun 2010 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Tahun 2010–20130 menyebutkan bahwa kawasan Watuputih adalah kawasan imbuhan air yang masuk dalam kawasan lindung geologi dan dalam kawasan pegunungan karst Watuputih atau CAT Watuputih itu terdapat 109 mata air. Keppres yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 13 September 2011 juga menguatkan penetapan Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih sebagai sumber air lintas kabupaten.

CAT Watuputih terletak di Kabupaten Rembang dan Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Selain itu, CAT Watuputih merupakan salah satu dari 19 cekungan air tanah di Jawa Tengah yang letaknya di lintas kabupaten atau kota. Letaknya segaris lurus dengan Cekungan Air Tanah (CAT) Pati yang kini sudah ditetapkan sebagai Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) oleh Kementrian ESDM pada 2014.

Jika Maman menginginkan cara yang tidak ‘eksploitatif’, petani Rembang sudah lebih dulu melakukannya. Penolakan terhadap PT Semen Indonesia dilakukan dengan melayangkan gugatan yang dikabulkan Mahkamah Agung pada 6 Oktober 2017. Gugatan ini berhasil dimenangkan warga. Namun, tak dinyana Ganjar Pranowo menerbitkan izin baru bagi PT Semen Indonesia pada 23 Februari 2017.[1] Atas putusannya itu, Ganjar dinilai melakukan pembangkangan hukum dan melanggar konstitusi. Ini menjadi bukti bahwa petani sedang melawan kekuatan besar, di mana hukum dengan gampangnya dikangkangi.

Di paragraf-paragraf akhir Maman menulis bahwa dialog lebih hebat dalam mempengaruhi kebijakan dibanding aksi demonstrasi. Rasanya ini sangat naif sekali. Petani-petani Rembang dan sekitarnya yang terampas mata pencaharian dan lahannya bukannya tidak ingin berdialog, mereka sudah lakukan itu. Tapi kita bisa melihat hasilnya. Maman seolah lupa bahwa dialog dan wacana tidak berada di ruang hampa, ada relasi-kuasa yang bermain di sana. Foucault sudah menunjukkan kepada kita.

Foucault mengatakan bahwa tidak ada ilmu pengetahuan yang netral dan murni. Ilmu pengetahuan yang terwujud dalam teknologi mudah digunakan untuk memaksakan sesuatu kepada masyarakat. Menurut Sutrisno (2005), Foucault menautkan kekuasaan dengan pengetahuan sehingga kekuasaan memproduksi pengetahuan dan pengetahuan menyediakan kekuasaan. Ia mengatakan bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja melalui penindasan dan represi, melainkan juga normalisasi dan regulasi. Dengan begini, maka kita menjadi tahu mengapa pemerintah bersikap demikian.

Terakhir, aksi yang dilakukan Yu Patmi dan para petani Kendeng dalam memperjuangkan alam tetap lestari bukanlah sebuah laku yang mudah. Butuh lebih dari sekedar pembacaan parsial atas itu, dan kita akan tahu bahwa alam ini tidak sedang baik-baik saja. Kita akan tahu bahwa mereka sedang merasakan apa yang mungkin tidak kita rasakan. Dan kita akan tahu bahwa mereka melawan secara terhormat.

Rest in pride, Yu patmi.

**

[1] http://www.bantuanhukum.or.id/web/pernyataan-sikap-atas-terbitnya-izin-lingkungan-untuk-pt-semen-indonesia/

Kepustakaan

Chenoweth, Erica dan Maria J. Stephan. 2011. Why Civil Resistance Works: The Strategic Logic of Nonviolent Conflict. New York : Columbia University Press.

Sutrisno, Muji dan Hendar Putranto, ed. 2005. Teori-teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Arlandy Ghiffari’s story.