Nilai adalah yang ditakutkan pelajar saat ini.Mereka mengutamakan “yang penting nilai saya bagus” bukan bagaimana mereka memahami materi yang diberikannya. Karena pengajar kebanyakan melihat seseorang pintar itu dari dia rangking berapa di kelasnya.

Padahal menurut saya semua orang itu pintar dan pintarnya berbeda ada yg pintar masak,pintar nyanyi,pintar matematika dan berbagai kepintaran lainnya.Mengapa para pengajar melihat nilai? Karena sistem pendidikannya yg salah.Untuk masuk jenjang pendidikan berikutnya yg dilihat adalah nilai.Tentunya para pengajar,orang tua,dan pelajar menginginkan anaknya masuk ke sekolah yg paling bagus.Maka mereka akan berusaha membuat nilai anaknya bagus.Itu

Saya adalah anak dari keluarga yg amat mengutamakan pendidikan.Di rumah pun saya tetap diharuskan belajar.Bahkan saat menonton drama korea saya harus menggunakan subtitle bahasa inggris,saat membaca komik saya harus bisa membuat tulisan apa yang dipelajari dari komik tersebut.Saat saya liburan pun buku lah yg akan diberikan orang tua saya.Dan papa mama saya lebih sering meributkan soal matematika dibanding hal lainnya.

Apa saya kesal? Tentu saja,karena bagaimanapun anak perlu hiburan dan saya sempat menanyakan itu kepada mama saya namun keterpaksaan ini lama kelamaan menjadi hobi yg baik untuk saya.Di usia saya ini saya amat suka membaca.Bahkan bungkus gorengan pun saya baca.

Mungkin cara orang tua saya memang salah dengan memaksa anaknya membaca.Tapi saya tahu hal itu amat berguna untuk saya hari ini.Terima kasih papa mama yg sudah setiap hari menyuruhku membaca dan menulis.Maaf mungkin aku belum bisa seperti yang kalian inginkan

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.