When Nietzsche Wept dan Peristiwa 3 September 2018

Arlin R
Arlin R
Sep 4, 2018 · 4 min read

gambar:brokenisntbad

Tepat pada hari lahirku yang ke 24, aku mencoba merayakannya dengan cara yang paling privat. Maka, kukunci kamar ku, dan membuka laptop kemudian mengacak-acak seluruh file yang ada di dalamnya. Pada akhirnya, aku menemukan cara sederhana yang paling privat untuk merayakan hari kelahiranku, yaitu menginterpretasi ulang film “When Nietzsche Wept” secara dewasa.

Film yang pertama kali muncul pada tahun 2007 sudah saya tuntaskan sebanyak dua kali. Aku bahkan tahu bagai awal dan akhir dari cerita itu. Akan tetapi, seperti kata Jacques Derrida bahwa tak ada makna yang final, setiap penanda akan melahirkan makna secara terus menerus berbeda. Kupikir, saya dapat memberi tafsiran yang berbeda dari setiap kali saya menyaksikan film tentang salah filsuf terbesar dunia Fredrich Nietzsche ini.

Seperti saat pertama saya menyaksikan film tersebut, alurnya berkisah tentang seorang perempuan atau lebih tepatnya mantan kekasih Nietzsche mengunjungi dr. Joseph Breuer. Saat itu, perempuan itu meminta membantuan kepada Breuer untuk mengatasi persoalan sakit kepala yang tak mampu Nietzsche atasi. Oh iya, saya hampir lupa, perempuan itu bernama Lou Salome.

Sebenarnya, ada motif lain yang sedang diusung oleh Lou. Bukan hanya ingin menyembuhkan sakit kepala Nietzsche, akan tetapi juga untuk mengatasi rasa “putus asa” Nietzsche sebagaimana yang tergambarkan dari surat-surat pribadi Nietzsche kepada Lou. Bahkan, di dalam surat tersebut, Nietzsche mengancam akan melakukan bunuh diri.

Breuer sepakat dengan Lou untuk mengobati Nietzsche. Tetapi bersepakat dengan Nietzsche untuk menerima pengobatan bukan sesuatu yang mudah. Breure bahkan harus menyusun strategi “saling mengobati” untuk membuat kata sepakatan dengan Nietzsche. Dengan kata lain, Breuer juga butuh disembuhkan oleh Nietzsche.
Tak ada yang berubah dari visual yang saya saksikan, akan tetapi kesan dari visual yang ada memaksa saya membongkar seluruh ingatan saya tentang Nietzsche.

Hal pertama yang memaksa saya mengais-ngais ingatan saya adalah ketika Nietzsche bertanya secara berulang kepada Breure apa motif anda ingin memberikan pengobatan gratis.

“Apa motif anda?”

Pertanyaan sederhana itu mengantarkan saya pada lorong waktu akan pemikiran Nietzsche. Bahwa pada dasarnya manusia selalu memliki kehendak untuk berkuasa. Nietzsche menggunakan istilah “motif” di dalam percakapan tersebut untuk tidak secara gamblang menyebutkan apa kehendak kuasa yang sedang direncanakan Breure atas peristiwa itu. Jadi, setiap relasi manusia, pada dasarnya adalah relasi kekuasaan.

Peristiwa selanjutnya yang menarik perhatian saya ketika Nietzsche mengatakan ia hanya sedang hamil pikiran, ia hanya butuh melahirkan gagasan dalam bentuk tulisan. Tulisan itulah yang kemudian sangat terkenal dari Nietzsche yaitu “To Speak Zarathustra”.

Dari buku itu kita mengenal ungkapan paling provokatif dari Nietzsche bahwa “Tuhan telah mati”. Hal itu disampaikan Nietzsche melalui tokoh yang ia beri nama Zarathustra. Seseorang yang mendakwa kematian tuhan kepada orang-orang di tengah pasar, tetapi justru mala ditertawai. Maka muncullah salah satu kalimat yang justru menurut saya menjadi kunci dari peristiwa narasi peradaban manusia,”saya datang terlalu cepat”.

Nietzsche seolah ingin mengatakan bahwa apa yang dipikirkannya tentang kehancuran ummat manusia karena sesuatu yang mereka sebut sebagai “kemajuan” belum sepenuhnya dipahami manusia saat itu. Kemajuan atas nama “modernisme” yang saat itu digembor-gemborkan manusia pada akhirnya justru hal yang paling merusak. Sebut saja seperti kerusakan alam akibat industri, lapisan ozon semakin menipis, dan yang paling genting adalah pemaksaan standar akan kehidupan yang dianggap “paling baik” di tengah beranekaragamnya kebudayaan manusia.

Tak heran jika pemikiran filosofi Nietzsche akan kehidupan ini kelak dianggap banyak menginspirasi tokoh-tokoh intelektual dunia. Bahkan konon pemikiran dari tokoh-tokoh posmodernisme dan poststrukturalis seperti Michel Foucault dan Derrida banyak terinspirasi dari pemikiran Nietzsche.

Tapi apa yang paling berkesan dari film yang dianggkat dari novel Irvin Yolom ini adalah kisah romantika mereka. Penting untuk diketahui bahwa, baik Nietzsche maupun Breuer memilih kisah asmara yang sama. Keduanya sedang “sekarat” karena wanita. Nietzsche sekarat setelah menerima penolakan dari Lous Salome. Sedangkan Breure sedang “sakarat” karena dipisahkan dengan seorang pasien yang telah merenggut hatinya, pasien itu bernama Bertha Pappenheim, persis seperti nama akhir dari ibunya “Bertha”.

Jika Breuer bertemu Bertha dalam relasi dokter dan pasiennya, Lou justru bertemu Nietzsche dalam sebuah kuliah. Kecerdasan intelektual Nietzsche membuat Lou jatuh hati padanya. Hanya saja, ternyata itu tidak benar-benar sebuah perasaan yang mendalam.
“Tak ada satu hari pun, bahkan satu jam, waktu dimana aku tidak memikirkannya”. Demikian kata Nietzsche yang membuktikan betapa ia sangat berhapa kepada perempuan itu.

“Aku mempercayaianya, dan ketika aku manawarkan diri padanya, dia menolakku karena sahabatku”.
Peristiwa itu membuat Nietzsche benar-benar terpukul. Bahkan Nietzsche pernah berpikir untuk mengakhiri hidup. Tidak hanya itu, penderitaannya terus berlanjut dengan penyakit migren yang dideritanya. Meski pada akhirnya hal itu justru mempertemukan Nietzsche dengan Breuer dan saling berbagi kisah.

Baik Nietzsche maupun Breuer pada dasarnya benar-benar malu terhadap keadaan mereka. Bagaimana mungkin mereka benar-benar terperdaya akan perasaan mereka. Nietzsche mencintai seseorang yang mencintai orang lain, sedangkan Breuer mencintai pasiennya disaat yang sama dirinya telah memiliki seorang istri dan tiga orang anak.

Pada akhirnya, film itu mengajarkan kita bahwa sesuatu yang tak berarti, sesuatu yang hanya merusak diri dan hidupmu, sebaiknya lupakan saja. Perasaan cinta selalu berarti cinta, tetapi tidak setiap perasaan selalu mendapatkan balasan yang sama. Pada saat itu terjadi, kita tidak bisa memaksakan apa-apa.
Meski kita tidak dapat memiliki seseorang yang kita cintai, bukan berarti segalanya telah berakhir. Hidup tetap harus berjalan, meski tak tak beriringan bersamanya. Kupikir Nietzsche benar ketika mengatakan “kita harus menjadi asing satu sama lain”.

Yah, “kita harus menjadi asing satu sama lain”, menandakan bahwa bersama bukanlah penentu akan jalannya kehidupan. Hal ini terbukti ketika sosok Nietzsche justru menjadi filsuf yang tersohor, Breure menjadi pakar kesehatan, Bertha menjadi pekerja sosial, dan Lou menjadi pakar psikoanalisis bersama dengan Sigmund Freud. Hidupan mereka pernah saling bersinggungan, tetapi mereka pada akhirnya menentukan arah kehidupannya sendiri-sendiri.

Selamat berbahagia, dan sepertinya “kita harus menjadi asing satu sama lain”.

Pujananting, 3 September 2018

    Arlin R

    Written by

    Arlin R

    Kopi, Buku, dan Kamu

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade