Anak dengan Jiwa Kontribusi

Bayangkan masa depan dunia dimana semua anak dibesarkan dengan jiwa kontribusi, bukan kompetisi.

Di sekolah, murid akan sibuk memikirkan bagaimana caranya menggunakan ilmunya untuk kebaikan dunia dan bagaimana membantu teman-temannya memahami materi yang sulit. Kompetisi untuk mendapatkan nilai tertinggi akan tidak berguna.

Dalam lingkungan bisnis, pengusaha dan pekerja akan fokus menciptakan jasa dan produk untuk kemajuan umat manusia dan alam. Aktifitas bisnis yang merusak dan korup, hanya untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya akan terlihat konyol.

Dalam lingkungan politik, politikus akan sibuk memikirkan cara-cara untuk meningkatkan kesejahteraan konstituennya. Praktik-praktik politik jangka pendek untuk mendapatkan kekuasaan akan membuat politikus itu tidak dipilih untuk menjabat lagi.

Di kancah olahraga, atlit akan bertanding dengan sportif untuk menunjukkan potensi maksimalnya dan menginspirasi penonton. Perilaku tidak sportif seperti penggunaan doping atau diving ala Neymar tidak akan terbersit dalam pikiran atlit.

Anak yang memiliki jiwa kontribusi akan bekerja karena panggilan hati, bukan karena iri hati. Anak yang memiliki jiwa kontribusi akan terus bekerja walaupun dia sudah menjadi yang terbaik di bidangnya. Anak yang memiliki jiwa kontribusi akan terus mencari masalah untuk diselesaikan, bukan musuh untuk dikalahkan. Anak yang memiliki jiwa kontribusi fokus pada kebahagiaan, bukan kemenangan. Anak yang memiliki jiwa kontribusi akan membuat dunia menjadi lebih baik.