Mengapa Saya Munafik dan Terlambat Menyadarinya

dhani
dhani
Sep 5, 2018 · 3 min read

Kemarin, setelah berminggu-minggu dimention akun anonim, saya memutuskan untuk memblokir keberadaan mereka. Ini bukan berita besar, malah jadi lucu, kenapa hal sederhana yang semestinya bisa dilakukan siapa saja dan kapan saja, harus ditulis?

Mungkin karena saat saya memutuskan untuk memblokir, saya melakukan hal yang dulu saya anggap bodoh dan kurang keren.

Lho kok bisa?

Ya bisa. Ketika awal mula twitter lahir, kegiatan favorit saya adalah mengganggu status quo. Orang-orang dengan folower lebih banyak sering saya ganggu, bukan karena mereka salah atau karena mereka melakukan hal buruk, tapi sesederhana mereka lebih populer dari saya.

Berdebat, atau dalam bahasa populernya twitwar, adalah kegiatan yang menyenangkan. Menghancurkan opini lawan, membuat mereka tidak nyaman dengan shitposting (content ad hominem yang bertujuan membuat lawan marah), dan berharap mereka membalas kritikan-kritikan yang saya buat.

Tujuannya jelas untuk memuaskan ego. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada melihat orang memblok kita, perasaan bahwa ah akhirnya orang itu takluk dan menyerah, kalah dengan segala argumen kita. Padahal perasaan yang demikian ini fana, sesuatu yang profan, bahkan cenderung absurd. Lha emang twitwar sebuah kompetisi sehingga ada yang menang dan kalah? Kalau menang dapat apa?

Belakangan saya mulai sadar, kamu menuai apa yang kamu tabur. Setelah menjadi belagu bertahun-tahun, hari ini saya merasakan apa yang dulu saya tebar. Dihajar akun-akun tak jelas (yang identitasnya jelas juga ada) dengan berbagai konten yang membuat saya tak nyaman.

Seseorang di twitter lantas menunjukan rekam jejak polah brengsek saya di masa lalu. Anjir, lha kok saya brengsek betul? Merasa terganggu dengan tindakan orang-orang yang agresif dan kasar, lha kok kelakuan saya dulu lebih langsak. Bukannya marah, malah jadi malu, terutama kemudian menyadari bahwa saya ternyata ngga sebaik yang dipikir, munafik malah.

Ada masa di mana saya selama berbulan-bulan, nyaris tiap hari mengganggu satu akun yang spesifik, dengan ejekan yang partikular, dengan kedisiplinan yang biblikal. Seolah-olah mengejek, membuat tidak nyaman, dan mengganggu orang lain itu laku profetik yang diganjar surga dan pahala. Padahal ya tadi, sekedar memuaskan ego yang lebih jahil daripada nyerobot antrian.

Hal serupa juga saya rasakan awal tahun ini. Saat dituduh menjadi penjual proposal atau manipulatif. Tuduhan ini membuat saya marah dan berpikir kenapa orang bisa demikian jahat? Serangan demi serangan yang saya dapat membuat depresi, cemas, dan suicidal. Untung psikolog yang membantu saya melewati momen itu mengajarkan bahwa, apa yang saya alami hari ini adalah konsekuensi dari apa yang saya lakukan dulu.

Sangat mungkin ada orang yang saya buat tidak nyaman di media sosial, menyerang integritasnya, menghancurkan reputasinya, sampai kemudian bisa jadi mengalami penderitaan batin yang luar biasa. Saya tak pernah tahu dampak kata-kata yang saya tulis di media sosial, tapi saya tahu apa yang bisa orang lain lakukan dan dampaknya pada kondisi jiwa sendiri.

Saya merasa perlu mengubah diri. Beberapa kalo dorongan insting untuk merisak dan menyakiti orang di media sosial serupa sakau. Belakangan orang-orang terdekat saya mengingatkan, jika kamu memang ingin merisak, coba kamu tulis dulu di twit, save draft, lalu jangan kamu twit, diamkan beberapa hari, jika memang terasa harus maka twitkan, jika tidak hapus saja.

Orang-orang terdekat saya juga cemas, bahwa suatu hari media sosial akan membunuh saya. Mereka melihat kata-kata kasar, gambar-gambar tidak senonoh yang dibuat berdasarkan foto saya, sampai makian terhadap orang-orang terdekat saya di Media sosial. Belakangan saya berpikir, saya pantas mendapatkan perlakuan itu, hanya saja jika ada orang yang terlibat karena ulah saya, itu jadi beban tersendiri dan melahirkan rasa bersalah yang luar biasa.

Saya minta maaf kepada siapapun yang pernah tersakiti, marah, terpantik, dan menderita karena kata-kata yang saya tulis. Saya mengutuk kebodohan masa silam yang terjebak pada ilusi ketenaran palsu media sosial. Bahwa cara terbaik menaiki tangga sosial adalah merisak orang lain, menyakiti mereka, dan menjadi terkenal sebagai tukang jagal. Kebodohan ini saya sesali hingga hari ini.

Manusia tumbuh. Saya kira menjadi tua itu punya manfaat sendiri, kita belajar untuk menyadari bahwa kesombongan masa muda itu bisa berakhir dua hal, menjadi lebih baik atau menjadi lebih brengsek. Saya lebih memilih untuk terus belajar, bahwa kesalahan yang saya bikin di masa lalu mungkin tak bisa diperbaiki, tapi setidaknya ke depan saya bisa lebih baik.

    dhani

    Written by

    dhani

    SJW. Katanya jago bikin proposal. Suka typo.