Menemukan Kewarasan

Saat saya menulis ini. Kepala saya sedang penuh dengan hal-hal yang entah. Setiap waktu di hari-hari belakangan ini, saya terus mencari pembenaran terhadap apa yang terjadi saat ini. Keadaan saya tak baik-baik saja. Saya sedang tidak waras.

Pukul 5 sore, saat hari sedang hujan. Saya terus-menerus berteriak di kupingnya. Berharap ia mengerti, bahwa saya sedang tidak suka. Namun dia terus menggerutu. Kami dua orang yang sama-sama keras. Kata ibuku, kami berdua tidak akan cocok. Sejak kecil, saya tak suka dengan hal-hal berbau-nya dan kaumnya. Butuh waktu sekitar empat tahun di tanah rantau untuk membuat saya yakin bahwa saya dengannya saling membutuhkan. Setidaknya saya membutuhkan dia, mungkin.

Hari ini, kami bertengkar hebat. Baginya, selalu saya yang tidak mengerti keadaan. Baginya, keadaan kita berdua sekarang hanyalah jebakan. Baginya kita tidak pernah cocok dan ia tak pernah yakin kepada saya. Baginya, bagi sebagian orang lainnya saya adalah mahluk yang kasar. Baginya, saya tak pernah memperbaiki diri. Baginya tulang dan ikan-ikan yang saya bawakan adalah kado pertemanan. Baginya saya yang salah. Menurutnya ia akan begitu ke semua yang ia anggap teman. Baginya kita berbeda. Saya yakin bisa, ia yakin tidak.

Hari ini saya benar-benar tidak terima dengan pernyataannya. Namun apa harus di kata. Saya sudah terlanjur kecewa. Amarah kita berdua akhirnya membakar banyak hal di bumi.

Saya mengambil earphone dari saku Rian. Rian mengajak saya berjalan-jalan. Saya memutar lagu Mengunci Ingatan yang cover oleh Kunto Aji. Di sore hari itu, banyak perempuan cantik berlari di kampus biru. Saya hanya bisa menggonggong dan kadang meringis sedikit. Rian menarik terlalu keras Tali yang ia tautkan di leher saya.

Saya sedang tidak waras, sampai tulisan ini saya muat. Saya masih mengais-ngais sampah di halaman rumah. Berharap menemukan kewarasan di sana.

Atau saya memang sudah tidak waras sejak dalam pikiran? Karena lama sekali tinggal di jalan tapi tiba-tiba masuk kandang? Di mana saya bisa membeli kewarasan?

Meonganmu di mana?

Btw, saya seekor anjing liar jalanan yang merantau ke rumah Rian, saya dipungut lebih tepatnya dan ia kucing rumahan yang cantik.

Like what you read? Give Armani Billardhi a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.