Cerita Senja

Matahari perlahan pulang. Warna oranye mulai menghiasi langit barat. Semilir angin sore membelai wajahku yang sejak tadi termenung menatap ujung jalan. Tempat terakhir kali aku melihat punggungmu yang perlahan menghilang diujung jalan. Kau pergi, bersamaan dengan datangnya senja kala itu.


"Aku udah gak bisa. Aku minta maaf." Suaramu parau, seakan ada yang menyumbat tenggorokan. Sekeras apapun usahaku untuk menahanmu, sebanyak apapun aku bicara. Hanya kalimat itu yang terucap dari bibirmu. Lalu perlahan kau melepas genggaman tanganku yang begitu erat menggenggammu.

Airmata yang sedari tadi menetes semakin menderas. Aku tertegun atas apa yang (benar-benar) terjadi. Kau melepas "genggaman" tanganku. Dengan alasan yang samar. Kau hanya berkata bahwa kau tak lagi bisa. Dan akhirnya kau berjalan pergi meninggalkanku yang tertegun.


Air mata ini kembali menetes ketika bayang-bayang kejadian itu lewat begitu saja bersama datangnya senja sore ini. Hanya saja punggungmu yang dulu perlahan menghilang kini sudah benar-benar menghilang. 
Entah sudah berapa senja kulewati dengan cerita yang sama. Cerita pilu ketika kau meninggalkanku.

"Senja, apakah esok kau bisa hadir dengan cerita yang lain? Cerita tanpa rasa pilu. Dimana tidak ada airmata atau rasa sakit yang datang bersamaan denganmu?"
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.