Kilometer Terakhir dari Seringai
Lagu metal pertama yang saya dengarkan secara penuh dan seksama untuk menemukan sebuah makna (dan tentunya untuk menyelesaikan sebuah tugas).
Melompat ke sadel dan kuhantam sang selah.
Melawan arah kutantang maut indah.
Terasa lepas.Melesat di jalan, kilometer terakhir.
Ya, ku hampir tiba, kilometer terakhir.Kubakar bensin mesin ini meradang.
Pacu motor kutuju matahari.
Tancap!Melesat di jalan, ya, ku hampir tiba.
Angin menerpaku, serigala lepas.Roda berputar, kilometer terakhir.
Hampir esok, seperti kemarin.
Kilometer terakhir…

Lagu ini mengantarkan imajinasi saya pada seseorang dengan wajah tegas, berambut gondrong, jaket kulit lengkap dengan jeans hitam, sedang mengendarai moge kesayangannya. Imajinasi saya terhenti pada kata selah yang tidak saya temukan artinya di KBBI sementara Google mengarahkan saya pada Alkitab Ibrani. Namun saya masih belum mengerti hingga akhirnya saya menemukan
Maybe this is a good time for a Selah. Lol. It is for me. Selah means “pause, and think about that” or a more literal definition, “God had spoken.”
dari Joshua Woods, A Song for the Lonely: The Missing Key to Once and for All Seal Your Pact With God.
Saya mulai merangkai pemahaman saya. Bagi saya, lagu ini mengisahkan tentang seseorang yang berhenti memikirkan itu itu melulu kemudian memutuskan keluar dari zona nyaman dengan mengambil sebuah langkah besar dalam hidupnya. Apapun yang terjadi kemarin, hari ini, dan esok, dia akan tetap menjalaninya. Dan apapun yang terjadi dalam proses keluar dari zona nyaman itu, dia akan menghadapinya. Terus bergerak agar segera sampai di tujuan.
Sekian dan terima kasih.
— dari seseorang yang masih mencoba memaknainya
