Cerita, kritik & Arus 2.0

My desk full of stuff.

Bermimpi jadi “seniman” sejak kecil membuat saya akrab dengan kata “kritik”. Komik pertama saya di lembar-lembar belakang buku pelajaran dibilang orat-oret katro. Biasa. Lagu pertama yang saya tulis untuk gebetan di sekolah dasar dibilang culun karena iramanya mirip lagu Raihan berjudul “Demi Masa”. Iya, jangan tanya saya kenapa iramanya bisa nyaris sama. Dan banyak karya seni amatir akut yang saya buat dulu dijuluki hal-hal jelek lainnya.

Beranjak dewasa, kritikan yang masuk memang mulai berkurang–kadar sadisnya. Mereka jadi lebih sopan, tapi buat saya itu lebih menyakitkan. Ketika saya mempersiapkan diri untuk dibombardir hujatan dan pembelajaran, mereka memilih untuk bermanis-manis saran dan memuji barang secuil. Saya pikir itu adalah hal terburuk yang bisa saya terima ketika memilih jadi “seniman”. Tapi, ternyata…

Seniman butuh panggung itu sesuatu yang saya sadari sejak kecil. Satu hal yang tidak pernah saya sadari adalah bahwa selama ini saya tidak pernah benar-benar berada di panggung. “Pentas” saya hanya sebatas ujian ambil nilai di kelas yang ditonton teman-teman sekelas dan diponten sekenanya oleh guru kesenian. Padahal, pentas yang sebenarnya adalah rimba. Penontonnya adalah warga rimba yang bisa jadi buas karena tidak puas atau jinak karena berhasil dibikin enak.

Pentas rimba pertama saya adalah ketika merilis film pendek pertama berjudul “Berbagi Batin” di YouTube. Di film itu saya berperan sebagai sutradara dan penulis skenario. Saking over-protective dengan film tersebut, saya memaksakan diri dan permisi kepada tim untuk memberikan director’s cut. Alhasil, rilislah film “Berbagi Batin” secara digital di YouTube.

Kepada beberapa teman saya sering menunjukan film itu dan meminta pendapat mereka. Sebagian meluncur dengan kagum pada treatment syuting. Sebagian lagi memilih memuji skenario yang saya tulis. Sejujurnya, saya lebih suka mendengar kritik dari siapapun yang saya kenal. Karena saya sendiri tahu kalau karya saya belum sesempurna itu untuk dipuji.

Pentas rimba kedua–dan terberat–yang saya hadapi adalah ketika dua buku saya dirilis oleh penerbit besar. Ya, saya tidak pernah terpikir kalau buku fiksi yang tertulis sejak SMA bisa dirilis oleh Elex Media. Saya takut membaca kritik. Saya takut tersadar tidak memiliki kualitas diri untuk yakin di mimpi yang sudah menahun dijalani.

Sejak saat itu, saya berhenti mencari kritik. Saya berhenti menanyai siapapun yang baca. Pada titik tergoblok bahkan saya men-deactivate akun Facebook dan mengganti username Twitter dari @agungRush ke @arusioso. Saya lari sejauh mungkin dari sentuhan kritik. Saya menjadi destruktif pada mimpi sendiri.

Jika baca review buku pertama saya isinya sedikit sekali pujian. Mereka bilang saya penulis yang masih harus berbenah. Mereka bilang saya penulis ganggu. Mereka bilang saya penulis s0-last-year. Mereka bilang saya penulis ajaib. Mereka bilang saya penulis standar.

Sampai akhirnya, beberapa bulan kemudian buku kedua saya rilis. Beberapa review pembaca di Goodreads menyadarkan saya akan beberapa hal. Seniman dan berkesenian ibarat dandelion dan serbuk sari. Biar karya itu terbang kemanapun ia mau, menyentuh apapun yang butuh disentuh, dan kembali lagi dalam bentuk yang lebih indah.

Saya mulai berani meng-Googling judul buku dan nama saya untuk membaca review. Hasilnya cukup membuat saya jumawa dan mesem-mesem bukan main. Semua resensi rata-rata ditulis berparagraf-paragraf. Banyak yang berisi pujian. Mereka bilang saya keren. Mereka bilang saya lebih matang. Mereka bilang saya cerdas. Mereka bilang saya jenius. Mereka bilang saya berwawasan. Mereka bilang saya manis.

Setelah berani menghadapi kritik, saya mulai dihantui ketakutan yang berikutnya. Ya, saya juga bingung mengapa hidup tidak pernah membiarkan keberuntungan datang dengan sendiri. Selalu saja ada rintangan baru menyusul tak tunggu lama-lama. Saya mulai dihantui momok best seller dan cetak ulang. Lagi-lagi saya drop. Menulis jadi terasa berat dan dibebani. Saya takut gagal. Saya takut tidak ada lagi kesempatan berikutnya untuk karir menulis saya. Sampai akhirnya, sebuah obrolan santai di kasur lusuh kamar saya dengan seorang teman membawa pencerahan. Ia bicara tentang bagaimana seorang pelukis tetap menguas tinta di ratusan kanvas meski tak satupun karyanya menandingi kepopuleran Monalisa atau The Last Supper. Berkesenian lah untuk mencipta karya, bukan untuk menjadi hebat atau populer. Karena seni dan populer tidak pernah ada di satu topik yang sama.

Malam itu saya jatuh cinta pada dua hal.
 Teman yang setengah mabok memberi saya nasihat brilian itu.
 Lalu, pada Arus 2.0 yang sudah siap berkesenian lagi.

Di akhir posting panjang bin mencerahkan diri ini, ada hadiah untuk Anda berupa hadiah yang diberikan pembaca Malaikat untuk saya. Enjoy, Gais!