Pokok-pokok Pikiran Njoto

Njoto (sumber foto: Google).

Jika kita pergi berkunjung di daerah tertentu dan menuju ke beberapa tempat, biasanya Anda akan melihat spanduk dengan kalimat peringatan berbunyi “Awas Bahaya Laten Komunisme!”. Selain itu di beranda media sosial kita, berbagai konten berkaitan dengan PKI di-posting dan dibagi yang intinya menggaungkan ancaman ketakutan akan bahaya dari komunisme.

Komunisme atau dalam konteks partai adalah Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan partai yang sudah lama terbentuk bahkan sebelum proklamasi Indonesia dikumandangkan. PKI berdiri pada 1914. Semenjak berdiri partai ini sudah melahirkan beberapa tokoh seperti Semaoen, Darsono, Musso, Alimin, Aidit, hingga Njoto. Tentu menarik jika kita menengok isi pikiran tokoh PKI, partai yang katanya mengemban ideologi “berbahaya” ini. Untuk itu kali ini saya akan mencoba menulis isi pokok pikiran dari salah satu tokoh PKI: Njoto. Tokoh PKI pasca peristiwa Madiun dan mantan menteri negara era kabinet Soekarno.

Lahir di Jember, Jawa Timur pada 17 Januari 1925, Njoto termasuk beruntung lahir di keluarga yang membebaskannya belajar banyak hal. Ayahnya Rustandar Sosrohartono juga seorang kader PKI. Dari kecil Njoto sudah akrab dengan buku-buku karya Karl Marx, Stalin, dan Lenin. Dia juga banyak belajar secara otodidak. Kondisi ini membuat wawasannya cukup luas. Buku Njoto: Biografi Pemikiran 1951–1965 memuat beberapa pokok pikiran dari seorang Njoto. Yakni di bidang Ekonomi-Politik, Pers, dan Kebudayaan.

Ekonomi-Politik

Bersama Aidit dan Lukman, Njoto bahu-membahu membangun PKI pasca peristiwa Madiun 1948. Dalam melakukan revitalisasi ini ia menekankan pentingnya kerja-kerja pengorganisasian dan pengelolaan massa. Njoto melakukan banyak perjalanan ke daerah-daerah. Di sana terlihat banyaknya masyarakat yang miskin, pengangguran, kelaparan imbas ribut politik di Jakarta. Secara tidak langsung ia menekankan bahwa kemerdekaan secara langsung belum mendatangkan kemakmuran bagi rakyat.

Njoto memang sinis terhadap kaum borjuasi dan tuan tanah. Ia melihat tidak ada kesempatan berharap kepada borjuasi dan tuan tanah karena golongan ini selamanya akan mencegah munculnya kesadaran rakyat. Sedangkan dengan kesadaran rakyat lah salah satu modal berjuang meraih cita-cita kemakmuran.

Bagi Njoto, ideologi merupakan jalan pembebasan bagi rakyat, dan Marxisme merupakan jalan yang ia pilih untuk berjuang. Dan menjadi Komunis adalah berpihak kepada rakyat atau kaum tertindas. Tidak ada jalan kompromi.

Njoto sadar bahwa Komunisme lahir dari alam yang berbeda dari Indonesia. Untuk itu penerapannya pun perlu dilakukan kontekstualisasi dengan kondisi Indonesia. Menurutnya Indonesia kala itu masih terbelit masalah Imperialisme dan Feodalisme. Ini menunjukkan bahwa kondisi Indonesia masih negara setengah jajahan dan setengah feodal. Untuk itu kedua masalah itu mesti ditumbangkan terlebih dahulu. Njoto sering berkoar bahwa Sosialisme Indonesia mesti menjadi tujuan. Menurutnya Sosialisme adalah suatu susunan sosial atau sistem masyarakat berdasarkan pemilikan bersama atas alat-alat produksi. Dalam Sosialisme, manusia bekerja menurut kemampuannya dan mendapatkan prestasi atas hasil kerjanya. Pada kondisi ini tidak terjadi apa namanya penindasan. Tanpa penghisapan oleh manusia atas manusia.

Cita-cita Sosialisme Indonesia tidak akan tercapai jika kemerdekaan penuh dari Feodalisme dan Imperialisme belum tercapai. Jadi diperlukan sebuah Revolusi Nasional-Demokratis untuk meruntuhkan Imperialisme dan Feodalisme. Revolusi inilah jalan yang mesti dilalui menuju Demokrasi Rakyat yang selanjutnya menuju Sosialisme. Demokrasi Rakyat nantinya akan melanjutkan programnya dengan pembangunan industri nasional, proteksi dari persaingan asing, perbaikan sistem perburuhan, dan pelaksanaan program agraria untuk memperbaiki kehidupan tani.

Pers

Bersamaan memulai karir politiknya, Njoto juga mulai menekuni dunia jurnalistik. Njoto merupakan jurnalis dari Suara Ibu Kota, Harian Rakjat, dan kolumnis Bintang Merah. Baginya perjuangan rakyat tidak akan mencapai kemenangan tanpa pers. Ia menekankan para aktivis untuk menyadari pera penting pers ini. Media mesti mengabdi kepada rakyat. Mengampanyekan gerakan rakyat dan sebagai acuan arah politik dan ideologi.

Dalam perjalanannya media mesti berlaku objektif. Objektif menurut Njoto adalah mencerminkan kejadian-kejadian di dalam masyarakat sebagaimana adanya. Objektif tidak sama dengan netral. Istilah objektivitas hadir setelah jurnalis dipihak mana dia berdiri. Jadi objektivitas dipraktekkan di dalam sudut pemberitaan tertentu dalam keberpihakannya. Tentu sebagai seorang Komunis, keberpihakan yang ia maksud kepada kaum buruh dan tani.

Dalam urusan memanajemen media ia memilih terbuka kepada publik. Salah satunya dengan menjual saham milik media tersebut. Ia juga kerap membuka forum publik yang tujuannya menampung kritik dan saran masyarakat. Dengan begitu rakyat lebih dilibatkan dan menjaga relasi dengan massa.

Perihal isi konten media, Njoto juga punya prinsipnya sendiri. Menurutnya ia sangat mengecam media yang menjual muatan sensasional. Menebar gosip dan mengesampingkan akurasinya. Njoto juga turut memperhatikan akan bahasa dan penyajian berita. Berita disajikan secara sederhana tapi hidup.

Selepas dari isi konten dari media, Njoto turut memperhatikan soal distribusi dalam media. Menurutnya sebagai alat perjuangan media mesti dibaca banyak orang dan disebar seluas-luasnya. Ia menyadari betul tidak mudah menyebarkan media ke seluruh rakyat yang mana lokasi dan infrastrukturnya berbeda. Bisa jadi di perkotaan lebih mudah untuk mengakses, namun bagaimana jika di pelosok dan pedesaan? Apalagi dengan jumlah tiras yang tidak terlalu besar, ini akan menjadi tantangan tersendiri. Untuk menanggulangi masalah tersebut ia menekankan partisipasi aktif masyarakat dalam menyebarkan media. Ketersampaian informasi ke khalayak luas akan terjadi jika masyarakat turut dilibatkan. Para buruh dan tani ketika membaca suatu media, baiknya turut mengajak kawannya untuk membaca dan mendiskusikannya. Selepas membaca tetap meletakkan media pada tempat yang sifatnya publik. Hal ini agar dapat menjangkau khalayak yang lain.

Budaya

Dalam diskursus kebudayaan, Njoto juga ikut serta memikirkan bagaimana kebudayaan di Indonesia seharusnya. Apalagi pasca revolusi kemerdekaan akan ada perubahan kebudayaan lama era kolonial ke kebudayaan baru pasca kemerdekaan. Salah satunya tentang apakah kebudayaan lama itu harusnya ditolak atau tidak? Menurut Njoto, tidak semua kebudayaan lama itu ditolak, selama masih ada hal yang positif tetap kebudayaan lama masih bisa dipakai.

Indonesia merupakan negara yang luas dan mempunyai banyak daerah. Tentu ini menghasilkan banyak kebudayaan tradisional sesuai daerah masing-masing. Menurut Njoto, kebudayaan tradisional mempunyai kualitas estetisnya sendiri. Untuk itu tidak lantas kebudayaan tradisional bersifat terbelakang atau kolot secara keseluruhan. Kebudayaan tradisional bisa diangkat ke tingkat nasional jika dipadukan dengan unsur kekinian yang lebih kreatif. Tradisi dan modernitas dapat saling mengakomodisi bahkan dipromosikan sebagai kebudayaan nasional. Tentu semua kebudayaan ini tetap menekankan sikap antielitisme dan antifeodalisme.

Terhadap kebudayaan Barat, Njoto cenderung mengambil jarak. Meski begitu ia tidak serta merta menolak. Sebagai kader PKI ia jelas anti-imperialisme dan anti-feodalisme. Untuk itu kebudayaan Barat yang datang mesti diwaspadai perihal kepentingan imperilaisme dan feodalismenya.

Salah satu aktor penting dalam kebudayaan adalah seorang seniman. Seniman menurut Njoto mesti ikut berjuang dalam setiap karyanya. Lantas bagaimana para seniman ini berpartisipai dalam perjuangan? Pertama yang mesti dilakukan adalah memahami kondisi massa rakyat. Dengan memahami kondisi permasalahan masyarakat, seniman akan paham apa yang seharusnya dihasilkan dari tangan dan buah pikirnya. Proses memahami kondisi masyarakat ini dikenal dengan metode Turba atau Turun Ke Bawah. Hubungan antara seniman dan rakyat bisa menjadi suatu timbal-balik. Di sisi lain seniman akan menginspirasi rakyat dan sebaliknya rakyat akan memberikan inspirasi seniman.

Penutup

Dari penjabaran di atas, Njoto sebagai kader PKI, partai yang notabene diidentikkan dengan sesuatu yang mengerikan, malah mempunyai kecenderungan berpihakan kepada kaum petani dan buruh. Menolak intervensi asing dan menekankan kedaulatan bidang ekonomi-politik dan kebudayaan. Mungkin ada beberapa pemikiran Njoto di atas masih relevan dengan kondisi sekarang, atau malah pada yang perlu diperbarui. Tentu sebagai seorang manusia, Njoto dan tokoh PKI lain punya kekurangan. Anda boleh tidak sepakat dengan salah satu pemikiran tokoh PKI di atas, tapi memahami terlebih dahulu sebelum menentukan sepakat atau tidak saya rasa itu penting. Tabik.

Referensi;

Firdausi, Fadrik Aziz. 2017. Njoto: Biografi Pemikiran 1951–1965. Tangerang Selatan: Marjin Kiri.