monosaccharide
Sep 1, 2018 · 1 min read

Kamu selalu menolong orang, tapi siapa yg akan menolongmu?

Pertanyaan yg mulai terbiasa muncul di pikiranku. Mungkin ada yg mau menolongku, tapi aku adalah tipikal pekerja sendiri. Namun, secara realita hingga sekarang aku belum mendapatkan apa itu yg disebut pertolongan.

Aku, tanpa maksud apapun akan dengan senang hati menerima permintaan tolong dari orang lain. Ini karena sejak kecil aku dibiasakan untuk menolong orang. Baik itu ikhlas maupun dengan sedikit upah. Tapi, semua pekerjaan yg kulakukan selalu ditopang oleh yg namanya ikhlas. Aku ikut senang ketika melihat orang yg aku tolong ternyata sangat berbahagia. Senyum mereka adalah sebuah kebanggaan bagiku. “Aku bangga berhasil membuat mereka tersenyum bahagia” adalah prinsip yg selalu aku pegang erat. Tapi, terkadang ada yg sedikit mengganjal di dalam pikiranku. Sesuatu seperti rasa sedih, entahlah mungkin lebih ke arah iri atau mungkin sakit hati? Aku sendiri bahkan tak mampu menafsirkannya secara eksplisit. Hanya saja intinya adalah kadang aku merasa sedikit sakit melihat mereka yg mungkin dulunya pernah ku bantu sekarang jauh di depanku. Mereka menginjakkan kaki ke tahap selanjutnya dalam hidup mereka. Mereka mampu tersenyum senang karena sudah tidak membebani orang tua.

Ah, beban. Satu kata ini yg menimbulkan kekacauan di dalam pikiranku. Menimbulkan pertanyaan lanjutan “Apakah karena aku sering menolong orang lain hingga aku lupa akan diriku sendiri, sekarang aku membebani orang yg pertama aku rasakan sentuhannya di dunia?”.

Surabaya, 2 September 2018, 03.00 WIB.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade