
Diskusi yang berkualitas
Ruang kelas seharusnya menjadi tempat yang paling indah dalam dunia pendidikan. Di dalamnya terdapat perang argumentasi, analisis, hingga pemikiran. Saling bantah-membantah adalah puncak kenikmatan yang seharusnya hadir di ruang kelas sebagai cara ke-3 mengukuhkan pemahaman tentang keilmauan yang dipahami setelah membaca dan menulis.
Tidak banyak orang-orang yang seru untuk di ajak berdiskusi diruang kelas, sebab diantara modal lawan bicara kurang membaca dan memahami pokok diskusi. Maka ketika yang diajak berdiskusi kurang memahamk masalah sulit mendapatkan kuliatas diskusi yang konstruktif.
Sebagai contoh, misalnya mahasiswa yang tugas umumnya harus banyak membaca, menulis dan berdiskusi tidak dikerjakan secara maksimal maka kadar pemahaman mahasiswa tentang pelajaran sangat kurang. Bisa saja minat komentar tinggi, tapi tanpa minat baca yang tinggi pula itu bisa menjerumus kepada cacian.
Orang yang banyak membaca cenderung bijak dalam berargumentasi sehingga kulitas diskusi bisa baik.
Saya kira sidang konstitante tahun 1950–1959 menjadi contoh terbaik diskusi. Sidang tersebut membahas tentang dasar negara. Sidang ini terbagi menjadi 3 pihak yakni kelompok islam, kelompok sekuler dan kelompok islam nasionalis
