Menua dengan Elegan
Sebuah catatan dari perempuan seperempat abad.
Menolak keriput sama halnya dengan minta mati muda. Impossible!
Entah kenapa peringkat pencarian Google tentang penuaan early (read: dini) masih menjadi kunci menuju harta karun yang selalu dicari. Adalah fatamorgana bagi (kebanyakan) kaum perempuan yang dibuai janji manis anti aging.
Stress management, makanan tinggi serat, skin care, diet karbo, air putih, olahraga, jalan, yoga, yogi, yoyo dan yani.
Lexeme itu sudah seperti lirik dangdut koplo yang selalu terngiang di lingkungan yang katanya milik makhluk sosial. Bosan sih. Tapi coba dengarkan dan dihayati. Yasudah jalani saja toh kita juga terlanjur ada di dalam frame ini.
Mari beropini. Jadi gimana? Mau sampai kapan maido?
Lima tahun terakhir saya mencoba hidup seimbang sambil mencoba menghayati lirik lagu koplo di atas (read tips anti aging).
Hasilnya rumus yang saya anggap dan masih saya terapkan di seperempat abad ini:
- 30% mengikuti arus. Kerja keras bagai quda. Mencari sesuap nasi. Stress. Buruh pikiran dan fisik karena hidup butuh duit. Namun ingat, kebanyakan kerja juga bikin kamu tidak elegan.
- 70% self awareness. Senam fisik, otak, jiwa, dan hati. Saatnya menghayati kenapa lirik lagu koplo di atas perlu digaungkan. Banyakin tidur juga perlu karena kurang tidur bikin otak memakan dirinya sendiri. Jangan takut dianggap “sok sehat”.
Intinya, jangan biarkan dirimu menjadi buruh pekerjaan. Waktumu tidak banyak hanya karena merasa sehat. Cobalah untuk lebih seimbang. Lebih menyayangi apa yang Dia titipkan. Jadi, ketika tiba saatnya disebut “tua”, Anda menua dengan elegan. At least, punya kesempatan memanfaatkan tubuh Anda dengan bijak.
