Busway 30

Asfira Saraswati
Sep 4, 2018 · 7 min read

Dering alarm di dalam kamarku memecah heningnya pagi itu. Membangunkanku secara paksa. Membuyarkan mimpiku yang belum usai. Dengan berat aku membuka mata perlahan, dan menutupnya lagi karena cahaya lampu di langit-langit kamar yang menyilaukan. Jam berapa ini? Aku menoleh kearah jam di meja yang masih berdering. 09.03. Aku memicingkan mata dan mengulurkan tangan untuk mematikannya. Ia berhenti berdering dan suasana kembali hening. Aku bangun dari tidurku dan menyibakkan selimut, kemudian terdiam sebentar. Aneh. Aku memandangi jam digital yang menyala hijau itu. 09.03. 09.03? Siapa yang menyetel alarm jam 09.03? Kenapa tidak jam 09.00 tepat? Aku menyimpan rasa penasaran itu sembari perlahan meninggalkan tempat tidur dan melangkah pelan kearah jendela dan membuka tirainya. Membiarkan semburat sinar matahari pagi mengalir di sela-sela teralis dan menerangi kamarku. Aku menatap sejenak keluar kamar. Sepi sekali pagi ini. Kemana semua orang? Berlibur? Memesan tiket dan pergi ke Hawaii? Oh, ya. Seharusnya aku juga berlibur.

Aku menggeleng perlahan dan berbalik melangkah menuju pintu. Aku menyambar handuk yang tergantung disebelah pintu dan keluar dari kamar. Aku tidak berencana bangun sepagi ini sebenarnya, namun karena alarm sialan itu, aku jadi tidak bisa tidur lagi. Lagipula aku tidak ada jadwal kuliah, jadi untuk apa bangun pagi-pagi?

Aku menyeret langkahku menuju kamar mandi di dekat ujung tangga. Aku menyewa rumah ini dengan satu orang temanku. Joni. Kami sama-sama kuliah di Cambridge. Dia mengambil teknik arsitektur, sementara aku lebih suka di bagian desain. Kami sudah bersama sejak SMA, jadi cukup mengejutkan kami bisa diterima di kampus yang sama. Fakultas yang sama, bahkan. Dan aku…

Gerakan tanganku terhenti sesaat ketika hendak membuka pintu kamar mandi. Aku baru menyadari sesuatu. Aku berbalik dan memandangi seluruh sudut ruangan.

“Joni?” Panggilku. Suaraku bergaung. Tidak ada jawaban. Dimana dia? Aku melangkah perlahan mendekati pintu kamarnya. Belum sempat aku menyentuh gagang pintu, aku melihat sesuatu di meja tv. Selembar kertas. Aku memungutnya dan menemukan sebuah pesan. Dipesan itu tertulis, ‘Aku ke kota hari ini. Makan siang dengan seseorang. Kembali sebelum pukul 2. Sampai nanti’.

Aku menghela nafas. Ya. Itu tulisannya. Aku merasa lega dan kembali melanjutkan niatku untuk mandi.

***

Aku kehabisan sereal. Sial. Aku kemarin lupa mampir ke toko. Terpaksa pagi ini aku sarapan dengan porsi setengah dari biasanya. Tidak ada malah. Kutuang semua susu di botol yang rencananya akan kuminum dua kali. Aku akan mampir di toko besuk. Niatku dalam hati.

Aku menikmati sarapan pagiku yang komposisinya kacau balau sembari mendengarkan berita di radio. Volume yang kusetel sangat lirih cukup terdengar keras karena suasana rumah yang sunyi. Kenapa Joni tidak membangunkanku dan mengajakku ke kota saja? Aku menggerutu dalam hati.

“… Amelia melaporkan langsung dari jalur dua Camp Street, kemacetan terjadi di beberapa titik pagi ini, Minggu 6 Maret 2016. Kami masih mencoba memastikan apa yang membuat jalur ini mengalami kemacetan di akhir pekan. Beberapa orang yang kami temui mengatakan, beberapa menit yang lalu, jalanan tidak begitu padat ketika tiba-tiba mobil-mobil dan kendaraan mulai berjalan merapat dan kini berhenti total. Ya, kami baru saja mendapatkan berita dari jalur lima, William Street juga mengalami kemacetan total. Arus kendaraan berhenti sama sekali. Dylan, dapatkah kau memberi tahu kami apa yang terjadi disana?

Aku menelan sereal ku dengan susah payah. Aku menoleh kearah radio — yang merupakan tindakan bodoh karena dengan begitupun aku tidak akan bisa melihat apa yang terjadi seperti kalau melihat televisi. Tidak, tidak. Hanya saja berita itu sedikit menarik perhatianku. Tidak biasanya jalur-jalur itu macet. Camp Street, William. Itu jalur strategisku kearah kampus untuk menghindari kemacetan. Kenapa bisa macet? Lagipula bukankah ini akhir pekan?

Aku teringat Joni. Dia ke kota kan hari ini? Mungkinkah dia tahu apa yang terjadi? Kemudian inisiatifku muncul. Aku mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mencari nomernya. Begitu ketemu, aku langsung menghubunginya. Sembari menunggu hubungan tersambung, aku berdiri dari dudukku dan berjalan kearah radio. Kenapa lama sekali? Aku memutar tombol di radio untuk menaikkan volumenya.

… Dylan melaporkan langsung dari William Street. Kami masih mencoba mencari tahu apa yang terjadi hingga kemacetan yang parah ini terjadi. Beberapa orang terlihat berkumpul di — ,

Hallo?” Aku bisa mendengar suara Joni begitu tersambung.

“Hey, hallo Jon. Dimana kau sekarang?” tanyaku, sembari menyandarkan tubuh di meja dapur.

Aku, erm… sedang dalam perjalanan ke kota. Ada apa?” Joni bertanya balik dengan nada heran.

“Oh, tidak ada apa-apa. Hanya saja, aku baru mendengar berita di radio, ada kemacetan di beberapa jalur. Kau tahu? Camp street, William.” Aku memberitahunya.

Aku tidak tahu.” Jawabnya. Aneh. Aku menyimpan rasa heranku.

“Oh, baiklah. Hey, bisakah kau naik Busway 30 di jalur khusus yang biasa lewat Marry Street? Saran saja. Itu jalur yang cukup bagus untuk menghindari kemacetan.” Ujarku. Dia mengatakan sesuatu dan aku mendengarkan sesaat.

“Oh, kau sudah naik itu? Bagus. Baiklah kalau begitu. Hati-hati. Sampai jumpa.” Aku memutuskan panggilan begitu ia bilang kalau ia sudah naik bus yang aku sarankan. Aku menghela nafas, sedikit lega.

“… Beberapa orang mengatakan suaranya begitu keras hingga menghentikan semua aktivitas di sekitar jalan itu. Disini kami mendengarkan saksi dari — ,” Aku tersadar dari lamunan. Suara radio tiba-tiba mati. Aku menoleh kearah radio dan mengerutkan kening. Aku kembali menghela nafas dan dengan malas melangkah kembali ke radio di meja.

Kenapa ini? Tidak biasanya. Aku menunduk sembari menggerutu pelan. Kugeser radio itu supaya aku bisa melihat bagian belakangnya. Tidak ada kabel yang putus. Semuanya baik-baik saja. Aku mengetuk pelan bagian atasnya. Tombol power-nya kumati-hidupkan. Tidak menyala juga. Kemudian aku dikejutkan oleh suara televisi yang tiba-tiba menyala dengan sendirinya. Dan layar itu menampilkan sesuatu.

… Dua puluh orang meninggal dalam tragedi yang mengerikan ini. Beberapa saksi mata sempat melihat bagaimana kronologi peledakan yang benar-benar menggemparkan seluruh warga di sekitar lokasi kejadian. Tidak diragukan lagi ini adalah aksi pengeboman.” Aku melangkah perlahan mendekati televisi. Layarnya menampilkan kericuhan yang terjadi di sebuah jalan di kota. Aku mengenalnya. Aku mengenal jalan itu. Bukankan itu Nelson Street di tengah kota? Apa yang terjadi?

… Kini kami akan mendengar kesaksian dari Jim. Hey, Jim. Bisakah kau jelaskan pada kami apa yang kau lihat?” Pembawa acara itu meminta keterangan seorang laki-laki bermantel biru dengan topi hitam terbalik di kepalanya. “… “Yea. Aku tidak begitu yakin apa yang terjadi sebelumnya. Aku sedang dalam perjalanan ke tempat kerja ketika suara dahsyat itu mengejutkanku dari belakang. Tepatnya di pertigaan Nelson Street disana itu.”” Laki-laki itu menunjuk jalanan di belakangnya. Aku terus mendengarkan berita itu meskipun layar televisi sesekali bergetar seolah ada gangguan.

… adalah Busway 30. Diperkirakan tepat pukul setengah sepuluh pagi ini, beberapa menit yang lalu tepatnya, bus itu meledak dan mengejutkan seluruh warga dalam radius tiga ratus meter. Sebuah bom telah meledak dan menghancurkan bus yang malang itu dan menewaskan seluruh penumpangnya. Tidak ada korban selamat dari kejadian.

Seolah petir menyambar tepat diatas kepalaku, aku terkejut bukan main mendengar apa yang dikatakan reporter berita itu. Apalagi ketika layar televisi menampilkan sebuah bus merah yang hancur dengan banyak korban tercecer. Aku langsung menutup mulutku menahan histeris. Astaga. Tidak mungkin. Joni menumpang bus itu pagi ini.

“Ya Tuhan.” Lenguhku ketika kemudian televisi mati kembali dengan sendirinya.

***

Dengan sekuat tenaga aku berlari ke lokasi kejadian. Aku tahu. Jauh sekali jarak dari tempatku ke kota, tapi aku tahu jalan pintas menuju kesana. Aku melewati Marry Street. Aku berlari di sepanjang jalan. Sampai di Camp Street, aku berhenti untuk menghela nafas. Aku menoleh ke seluruh penjuru jalan dengan nafas terengah. Ya Tuhan. Aku lelah sekali.

Sembari masih mengatur nafas, aku menyadari ada yang aneh. Camp Street. Bukankah di berita dikabarkan jalanan ini macet total? Aku tidak melihat apapun disini. Beberapa mobil terparkir rapi di pinggir jalan. Dan jalan ini lengang. Sama sekali tidak ada tanda-tanda akan terjadi kemacetan. Dengan panik aku berdiri disana, menghela nafas dengan susah payah. Apa yang sebenarnya terjadi? Kemana semua orang?

Aku menoleh kesana-kemari dan tidak menemukan jawaban. Aku melihat seorang laki-laki berjalan kearahku. Dengan gusar aku langsung menghampirinya dan menghentikan langkahnya.

“Maaf,” Aku mencoba mengatur nafas dengan susah payah. Laki-laki itu berhenti dan menatapku dengan tatapan aneh. “Aku… aku mendengar berita pagi ini. Berita itu… berita itu mengatakan kalau…” Dengan susah payah aku mengatur kalimat agar nafasku tidak berantakan.

“Maaf, aku terburu-buru. Aku harus pergi.” Laki-laki itu justru tidak menghiraukanku dan meninggalkanku begitu saja. Aku menatapnya tidak percaya.

“Sial… sialan.” Ya Tuhan. Mengumpat saja aku tidak kuat.

Tanpa berpikir panjang lagi, aku kembali berlari melewati jalan kecil di taman menuju Nelson Street. Tempat kejadian. Kepanikan memenuhi otakku seperti racun. Yang aku pikirkan hanya sahabatku, Joni.

Aku tiba di Nelson street dan menghentikan langkah cepatku tepat di pertigaan. Tepat di tempat kejadian yang diberitakan. Namun sesuatu sungguh menggangguku. Tidak ada apa-apa disini. Jalanan lengang. Aku melihat sebuah mobil berjalan pelan begitu lampu menyala hijau. Ya Tuhan. Sungguh. Lelucon macam apa ini? Tidak masuk akal. Bagaimana mungkin? Aku melihat sendiri kekacauan itu di berita tadi. Disinilah kejadiannya. Aku yakin. Aku memegangi keningku dengan kuat. Apa yang sesungguhnya telah terjadi? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku hanya bisa mengulang-ulang kalimat itu di otakku. Panik, heran, kesal, bercampur jadi satu. Aku menatap lurus kearah jalan didepanku, ketika tiba-tiba seseorang menabrakku dari belakang. Aku berbalik dan melihat laki-laki itu, yang kemudian langsung membuatku terpaku.

Laki-laki itu memegang ponsel di telinganya. Ia mengenakan mantel biru, dengan topi hitam terbalik di kepalanya. Ia menatapku dengan kesal karena jalannya terganggu karenaku. Ia masih menatapku sembari berjalan mundur menjauh, kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya. Sementara aku masih terpaku. Mematung disana seperti batu. Aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari laki-laki itu. Bukankah ia… Bukankah ia laki-laki yang memberi kesaksian dalam berita yang aku lihat tadi? Iya. Aku yakin itu.

Aku semakin tidak mengerti ini. Sama sekali tidak terjadi insiden apapun disini. Tidak ada kemacetan, tidak ada keramaian, tidak ada kepanikan, tidak ada kericuhan. Sama sekali tidak ada apapun. Lelucon macam apa ini? Bagaimana bisa berita itu menampilkan semuanya?

Aku tidak bisa menerima ini. Harus ada penjelasan. Aku sama sekali tidak bisa menerimanya, bahkan ketika Busway 30 berhenti tepat dibelakangku.

__________

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade