Empat Tahun Cahaya

Asfira Saraswati
Sep 4, 2018 · 6 min read

Izinkan aku menceritakan padamu sebuah kisah. Jika cerita ini terlalu tidak masuk akal untuk kauanggap kisah nyata, maka anggaplah ini fiktif belaka. Ya. Fiktif mungkin lebih tepat untuk yang tidak ingin repot-repot memahami teorinya, dan aku tidak akan memenuhi cerita ini dengan teori-teori yang sulit dimengerti, namun kuharap kalian akan mengerti satu hal begitu cerita ini usai.

Namaku Ellis. Anderson Ellis. Delapan tahun yang lalu, aku membuat sebuah keputusan yang mungkin akan kusesali selama sisa hidupku. Aku menerima sebuah kontrak perjalanan dalam rangka penelitian yang diajukan padaku secara khusus sebagai bentuk apresiasi mereka atas kontribusiku selama ini pada instansi. Aku bahkan tidak mengerti kenapa penghargaan itu mereka beri dalam bentuk penugasan, lagi. Awalnya aku berpikir, sungguh? Tidak bisakah mereka memberiku tiket gratis untuk liburan ke Karimunjawa saja? Namun pemikiran itu sirna begitu aku melihat berkas penugasanku dan menemukan sebuah nama yang selama ini menjadi obsesiku. Proxima Centauri. Ya. Dia adalah sebuah bintang. Nun jauh disana dimana tak seorangpun pernah menjangkaunya. Entah makhluk apa yang telah merasuki para ilmuwan itu sehingga mereka pikir mereka bisa menjangkau bintang terdekat dengan matahari itu, namun mereka mengklaim telah menciptakan sebuah pesawat luar angkasa berkecepatan hampir setengah dari kecepatan cahaya. Awalnya aku tidak percaya, tapi nyatanya aku didalam pesawat itu sekarang. Merasakan tenaganya yang luar biasa hingga aku berpikir tubuhku tidak akan bertahan dan meledak di angkasa bersama kepingan-kepingan besi pesawat.

Aku meninggalkan bumi pada Minggu, 21 Juli 1991. Hari besar. Peluncuranku disaksikan di seluruh dunia. Dan, ya. Aku adalah satu-satunya kru dalam misi ini. Satu lagi perjalanan panjang penuh kesunyian yang harus aku lalui. Ilmuwan-ilmuwan itu berfikir, mungkin sebuah robot yang dapat berbicara akan membantuku mengatasi kesendirian, jadi mereka menciptakan CAVE, robot serbaguna berbentuk kotak untuk menemaniku dalam perjalanan ini. Persetan. Kenapa bukan manusia saja? Lupakan, aku sudah tahu jawabannya. Siapa yang mau berada di luar angkasa selama delapan tahun? Kecuali mereka yang sudah tidak punya harapan dan alasan untuk tetap tinggal di sebuah planet bernama Bumi. Seperti aku.

Aku telah kehilangan segalanya. Anak istriku terbunuh dalam kecelakaan pesawat yang tragis. Mereka akan menemuiku hari itu. Hampir dua tahun kami tidak bertemu karena pekerjaan yang harus aku lakukan, dan aku tidak percaya aku harus menyambut mereka dalam sebuah acara pemakaman pada akhirnya. Inilah akhir dunia, pikirku. Faktanya adalah, aku menerima kontrak itu ketika tidak ada satu orangpun dalam divisiku yang mau menerima pekerjaan itu. Dan aku tau — secara terang-terangan — bahwa aku mungkin menghadapi maut secara langsung, bahkan sebelum mereka menjelaskan detailnya. Aku tahu. Tapi aku sudah menyerah. Aku menyerah pada hidup yang telah memberiku penderitaan yang teramat kejam. Aku menyerah pada dunia yang telah merenggut segalanya dari hidupku. Hal buruk apalagi yang harus aku rasakan selain kematian? Kematian pun mungkin tidak akan seburuk itu.

Hari pertama setelah peluncuran, aku melakukan pengecekan seluruh perangkat pesawat mulai dari ruang penyimpanan bahan bakar yang paling belakang hingga control panel dimana aku akan menghabiskan sebagian besar waktuku menikmati perjalanan ini. Menurut skedul yang disusun atasan sekaligus instrukturku sebelum peluncuran, aku baru boleh memasuki cryo-bed untuk tidur panjang setelah satu tahun mengangkasa. Cryo-bed adalah tabung kimia dingin berisi cairan dengan banyak campuran zat kimia yang cara bekerjanya adalah dengan membekukan sesuatu untuk periode yang lama. Intinya adalah pengawetan. Ia bisa menjaga fungsi kerja organ dan struktur tubuh manusia tetap dalam kondisi yang baik bahkan setelah bertahun-tahun. Aku belum pernah merasakan tidur dalam tabung koma itu. Menurut jadwal, aku akan berada dalam tabung itu selama tujuh tahun. Ya Tuhan.

Dengan kecepatan saat ini, 150.000 km/detik atau setengah dari kecepatan cahaya, Proxcen Mission Aircraft, nama pesawat yang aku naiki diprediksi akan mencapai bintang itu dalam kurun waktu kurang lebih delapan tahun. Ya. Proxima berjarak empat tahun cahaya dari bumi. Tujuan dari misi ini adalah untuk mengamati dan mengambil data langsung dari bintang itu lalu mengirimnya ke bumi melalui gelombang radio. Mereka tidak akan peduli aku akan pulang dengan selamat atau tidak. Entahlah, kurasa akupun tidak akan peduli.

Tanpa terasa, aku telah melalui satu tahun dalam pesawat ini, yang artinya aku berada pada jarak 5 triliun kilometer dari bumi, atau dalam satuan tahun cahaya, aku sudah seperdelapan perjalanan atau sekitar setengah tahun cahaya. Seperti biasa, CAVE melakukan beberapa tes padaku. Itu adalah pekerjaannya sehari-hari selain membantuku merawat bagian-bagian pesawat. Dan hari ini, ia melakukan tes tambahan padaku sebelum aku memasuki cryo-bed.

“Apa kau baik-baik saja, Ellis?” tanyanya ketika ia menata beberapa kartu di meja dihadapanku dengan tangan besinya. Aku membuyarkan lamunanku dari jendela berlatar hitam penuh bintang dibalik tubuh kotak CAVE.

“Ya, tentu saja. Aku akan baik-baik saja. Justru aku yang harus bertanya, apa kau akan baik-baik saja terjaga sendirian tanpaku selama tujuh tahun mulai dari sekarang?” tanyaku bercanda. Sekarang aku mencandai sebuah robot. Lucu sekali.

“Aku akan baik-baik saja. Aku tidak memiliki perasaan dan emosi seperti manusia. Aku bisa hidup selama mungkin sesuai program yang ditetapkan padaku.” Jawabnya datar. Aku terdiam memandangi besi kotak dengan layar kecil itu. Dia tidak serius. Ya. Dia serius. Aku berpikir hidup sebagai robot mungkin lebih baik. Kau tidak perlu memikirkan hal-hal dengan serius. Setidaknya kau tidak punya emosi.

Selesai melakukan tes kartu, CAVE membukakan pod cryo untukku dan aku memposisikan tubuhku didalam tabung itu. Aku bisa merasakan dinginnya cairan itu.

“Sampai ketemu tujuh tahun lagi, kawan.” Ucapku sebelum CAVE menekan tombol.

“Sampai ketemu lagi, Ellis.” Balasnya, dan ia menutup tabung itu dengan menekan tombol di sisinya.

Aku tidak ingat kapan tepatnya aku mulai menutup mata dan tidak sadarkan diri. Dingin. Satu-satunya perasaan yang aku ingat sebelum CAVE menutup tempat tidur ini. Kemudian aku disilaukan oleh sebuah cahaya. Cahaya yang begitu terangnya hingga aku menutup mata. Ketika aku membuka mata setelah cukup terbiasa dengan cahaya itu, aku melihat sebuah bayangan. Siluet seorang perempuan membelakangiku. Siluet itu perlahan memfokus. Aku bahkan mulai bisa mengenalinya. Dan aku terkejut saat aku benar-benar bisa mengenali pemilik bayangan itu.

“Anna…” Aku bisa mendengar suaraku terdengar berat. Perempuan itu perlahan berbalik. Dan benar saja. Ia adalah Anna. Istriku yang telah…

Aku menatapnya tidak percaya, tapi apa yang kulihat? Ia tersenyum. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku melihatnya tersenyum. Tapi kali ini benar-benar terasa sangat nyata. Ia hanya berdiri disana dan tersenyum, perlahan aku melangkah mendekatinya. Sebelum aku sempat melangkahkan kakiku sejauh itu, Ia tiba-tiba merendahkan tubuhnya dan melebarkan tangannya seolah hendak menyambut sesuatu. Aku terhenti. Kemudian, dua anak kecil berlari dari belakang melewatiku dan menuju kearahnya. Hatiku semakin teriris. Mereka anak-anakku.

“James? Theo?” Aku semakin tidak percaya. Apa yang terjadi. Mereka saling berpelukan dihadapanku yang hanya bisa menatapnya nanar. Mereka bahkan seolah tidak menyadari keberadaanku disana. Aku memutuskan untuk berlari kearah mereka, namun… bayangan mereka justru semakin menjauh. Semakin cepat aku berlari, semakin pudar dan mengecil bayangan itu. Sebelum aku sempat memutuskan untuk berhenti dan menyerah, tiba-tiba aku seolah terperosok kedalam lubang dan terjun bebas entah kemana. Aku bisa merasakan angin berhembus kencang selagi aku terjun bebas. Lalu aku melihatnya.

Titik biru kecil itu membesar. Membesar dan aku belum dapat menyimpulkan apa itu. Ketika lekukan itu akhirnya tampak jelas, akupun akhirnya tahu. Benda bulat berwarna biru dengan pola hijau itu adalah Bumi. Bumi… aku terpaku menatap planet indah itu dihadapanku. Apa aku akan mati? Apa aku akan terhempas ke dasarnya dengan keras dan hancur berkeping-keping? Seketika itu juga aku menangis. Aku menangis sejadi-jadinya hingga air mata ini beterbangan di udara seperti hujan. Aku menangis mengingat apa yang telah terjadi pada hidupku. Aku menangis mengingat Anna, dan anak-anak kami. Aku menangis mengingat betapa lemahnya aku hingga aku memutuskan untuk menyerah menjalani hidup. Aku menangis mengingat keputusanku meninggalkan Bumi sebagai pelampiasan kekesalanku pada takdir yang telah dengan kejam menganiayaku. Dan kini aku menyesal. Aku menyesali keputusanku. Tapi kemudian sesuatu menyadarkanku. Aku harus menebusnya. Ya, aku akan menebusnya. Entah aku sanggup atau tidak. Entah berapa tahun lagi aku harus menghabiskan waktu di luar angkasa, aku berjanji aku akan pulang. Aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk membuktikan, bahwa aku tidak akan menyerah pada hidup, dan bahwa aku tidak akan menyerah pada Bumi yang telah memberiku kehidupan. Yang akan selalu memberiku kehidupan dan harapan, bahwa aku pasti bisa bertahan.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade