Hakikat “Hampir”

Asfira Saraswati
Sep 4, 2018 · 2 min read

Dulu, dulu sekali, aku pernah membaca sebuah artikel berjudul ‘filsafat hampir’. Mungkin lebih tepatnya bukan artikel tapi lebih seperti ulasan pendek tentang apa yang dipikirkan penulis. Aku bahkan lupa membacanya dimana, atau siapa penulisnya. Aku hanya ingat aku membaca tulisan itu di kertas yang warnanya buram, entah itu di soal Bahasa Indonesia SD, atau di buku LKS Bahasa Indonesia. Akhir-akhir ini aku mencari kembali artikel itu di internet. Bukan apa-apa, hanya saja isi artikel itu sangat membekas di ingatan, dan ia membahas hal yang tidak banyak terpikirkan oleh orang untuk dibahas, tapi mungkin saja hampir semua orang merasakannya, dan mungkin banyak juga yang setuju dengan pendapat yang disampaikan penulis di dalam tulisan itu. Ya, sayangnya tidak ada satupun di hasil pencarian yang merujuk ke tulisan yang saya maksud. Jadi, disini saya ingin menuliskan kembali apa yang saya ingat.

Jauh sebelumnya, saya pernah berkata kepada kakak perempuan saya, begini intinya, “Aku tidak begitu suka hari Minggu, tapi aku paling suka hari Sabtu. Kalau pas hari Sabtu aku senang karena besuk hari Minggu, tapi kalau pas hari Minggu, aku sedih sekali karena besuknya hari Senin.” Ya, kurasa kalian sudah menangkap maksudnya. Berapa banyak diantara kita yang tidak menyadari jika moment tepat sebelum apa yang akan terjadi adalah sesuatu yang penting dan sangat membekas di perasaan. Contoh lain, semisal anda tengah berjalan santai, tiba-tiba anda terpeleset. Moment sebelum pantat anda menyentuh lantai adalah saat dimana jantung anda berdegup kencang, atau istilah akrabnya, deg-degan. Tapi begitu pantat anda menyentuh lantai, ya sudah, selanjutnya paling anda hanya akan merasakan sakit, dan malu semisal di tempat umum. Kemudian, berapa banyak diantara kita yang sering bermimpi hendak jatuh dari pohon karena terpeleset, atau tersandung sesuatu dan hendak tersungkur, atau ketika tengah berkendara di jalan sepi, tiba-tiba muncul kendaraan entah darimana dan kita hampir bertabrakan dengannya? Pasti kebanyakan, sebelum hal-hal sial itu terjadi di mimpi kita, kita sudah terbangun dulu. Hal ini membuktikan kalau “hampir” itu punya esensi tersendiri akan sesuatu hal, apa saja. Nah, lalu apa esensinya? Bagian inilah yang tidak saya ingat di artikel itu.

Pada hakikatnya, kita perlu memaknai segala hal yang terjadi di kehidupan ini sebaik mungkin, sekecil apapun itu, seperti masalah ‘hampir’ ini. Bisa saja, ilmu ini perlu dipelajari oleh para pembaca wajah ataupun detektif dan sebagainya. Pekerjaan-pekerjaan ini perlu kejelian terhadap moment sekecil apapun yang mereka temukan, karena bisa jadi moment yang paling kecil tersebut adalah kunci dari apa yang dicari-cari. Atau mungkin saja, sampai saat ini masih terus dicari bagaimana memaknai hal kecil ini. Karena memang, menemukan dan memaknai hal yang kecil jauh lebih sulit daripada memaknai apa yang sudah jelas terlihat. Oke, sepertinya saya mulai melantur. Intinya adalah — mungkin saja — apa yang perlu kita fokuskan dalam hidup ini adalah bukan bagaimana kita di hari H, tapi bagaimana kita mempersiapkan segala sesuatunya sebelum hari H. Salam.

Asfira Saraswati

Written by

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade